Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Keras kepalanya Galuh.


__ADS_3

Bima sampai di cafe Galuh, tepat di jam sembilan malam. Dia melihat Galuh berada di depan pintu yang baru saja di kunci. Bima langsung menghampiri istrinya.


"Aku pikir belum tutup."


"Wah, siaga juga kamu Bim. Oh iya, Ashar katanya minta kamu untuk ngecek warung. Sudah semakin rame." Dewi menyampaikan apa yang di pesankan oleh suaminya.


"Ok, besok aku ke sana. Ya sudah ya, kami duluan." Bima masih bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Dia bahkan tidak mengubah caranya memperlakukan Galuh.


Tapi, Galuh yang banyak diam, membuat Dewi merasakan sendiri. Kalau mereka berdua sedang tidak baik-baik saja.


Galuh masih tetap diam hingga rumah, dia tak bertanya di mana putranya. Galuh langsung mengecek ke dalam kamar Dewangga. Karena tidak ada, dia langsung masuk ke dalam kamarnya sendiri.


Mandi dan membersihkan diri, mungkin itu akan menenangkan Galuh saat ini. Sedangkan Bima sibuk di dapur, membuatkan makan malam untuk istrinya.


Seafood adalah makanan kesukaan Galuh. Bima memerlukan waktu sedikit lama untuk membuat makanan untuk Galuh. Dia tidak berpikir jika istrinya akan tidur lebih cepat saat ini.


"Makanan siap...." Bima sedikit kecewa, dia melihat Galuh sudah terlelap dalam tidurnya.

__ADS_1


Bima membawa makanan kembali ke dapur. Dia masukkan ke dalam kulkas, mungkin nanti Galuh akan merasa lapar. Jadi tinggal menghangatkan saja.


Bima kembali ke kamar, Galuh benar-benar sudah terlelap dalam tidurnya. Bima memeluk, mencium dan bahkan dia mengeratkan pelukannya. Galuh masih belum bangun juga.


"Panas, sanaan. Aku ngantuk banget..." Galuh merengek, tapi dia tidak membuka mata sekali pun.


"Kita bicara dulu. Kalau tidak, aku tidak akan pernah membuka pintu kamar sampai kapan pun." Bisik Bima membuat Galuh terlonjak tiba-tiba.


"Bima, apa kamu sudah gila?" emosi Galuh tersulut.


Jika biasanya Galuh akan menangis di depan Bima. Pada saat Bima meninggikan suaranya, Galuh tampak ikut menaikkan nada suaranya.


"Ya, ini memang bukan hanya sekedar masalah tas. Tapi, masalah tanggung jawab dan kekecewaan." jawab Galuh ikut meninggikan suaranya.


"Kecewa kenapa lagi? Apa aku melakukan kesalahan lagi? Astaga Galuh, aku tidak hidup di bawah kendali kamu...."


"Ya, kamu memang tidak hidup di bawah kendaliku. Aku akan ingat sampai selamanya, kalau kamu adalah orang bebas." Galuh tak ingin melanjutkan pertengkaran. Dia memilih untuk tidur, apa yang di lakukan Bima, tak di hiraukan lagi oleh Galuh.

__ADS_1


Pagi ini, Bima sama sekali tidak membuka pintu kamarnya. Padahal Galuh sudah bersiap untuk berangkat ke cafe.


"Bim, jangan seperti anak kecil. Cepat buka pintunya." Galuh terlihat masih emosi hingga pagi ini. Bahkan, sapaan sayang di pagi hari pun tak lagi di dengar oleh Bima.


"Galuh, aku suami kamu. Tolong hargai aku, kita bicara dulu." Bima sangat lain bagi Galuh. Bima yang selalu mengalah sudah tidak ada lagi sekarang.


Yang ada di depan Galuh saat ini adalah Bima yang tegas dan memiliki sikap.


"Mau bicara apalagi? Bukankah semalam sudah kita bicarakan semuanya? Kamu butuh kebebasan, oke aku berikan. Sekarang apalagi?" Keras kepala Galuh sejak dulu memang susah untuk di taklukin. Dan sekarang, Bima harus kembali berhadapan dengan Galuh yang kepala batu.


"Galuh, apa yang membuat kamu beranggapan aku ingin bebas dari kamu? Apa yang...."


"Sudahlah Bim, yang kamu mau aku tidak menceraikan kamu. Oke aku tidak minta cerai dari kamu. Aku mohon untuk buka pintu dan biarkan aku bekerja." Galuh tak ingin mendengar apa-apa lagi dari Bima. Dia beranggapan saat ini hanya ada drama klasik sebuah rumah tangga.


Mendengar apa yang di katakan Galuh, Bima mengalah dan membuka pintu kamar. Namun, pada saat Galuh hendak meninggalkan kamar. Bima berpesan. "Siang pulang, aku masak untuk kamu."


Galuh tak menjawab, dia memilih untuk cepat-cepat berangkat ke cafe.

__ADS_1


__ADS_2