
Mendengar adiknya melahirkan, Maya sebenarnya sudah ingin menjenguknya saat itu juga. Tapi, anak sulungnya sakit, membuatnya mengundur waktu menjenguk sang adik.
"Kak Maya..." Galuh langsung menangis di pelukan kakaknya ketika sosok pengganti ibunya itu muncul ke dalam kamarnya.
"Cengeng amat, inget sekarang sudah jadi mama." Mulut boleh saja mengomel, tapi mata Maya tidak bisa berbohong. Air mata itu terus mengalir, menandakan kebahagiaan dan kebanggaan untuk sang adik.
"Kakak juga nangis." Kali ini Galuh yang menghapus air mata kakaknya. Ini adalah air mata kedua kakaknya setelah pernikahan sang adik dengan lelaki yang membuat dirinya tenang melepaskannya.
"Iya, kakak tidak menangis lagi. Sekarang, bagaimana dengan suamimu? Apa dia menindasmu?" Maya melihat adik iparnya yang tengah menggendong keponakan tampannya.
"Iya kak, dia menindasku. Setiap hari aku terus di pompa, lihatlah badanku sekarang. Sudah besar seperti ini, ini ulah adik ipar tersayangmu yang terus memompa ku dengan makanan." Galuh dengan bangganya menunjukkan tubuh besarnya. Karena selama kehamilan, Bima terus menuruti apa keinginan sang istri.
"Hahaha, biar kamu tidak bisa berpaling dari Bima." celetukan yang membuat Bima tersipu malu.
Keberadaan Maya yang sudah lama sekali absen dari kehidupan Galuh dan Bima. Membuat kakak beradik ini tampak sangat begitu manja.
Galuh melihat Bima yang mulai terampil dalam menggendong bayi. Membuatnya sedikit iri, itu karena Bima tidak membiarkannya mengangkat yang berat-berat.
__ADS_1
Galuh hanya di izinkan menggendong bayi saat menyusui saja. Setelah itu, menidurkan bayi kecil itu. Selebihnya, Bima yang selalu mengambil alih pekerjaan ibu ini.
Wajah Maya dan Galuh awalnya memang sangat mirip. Namun karena pembengkakan postur tubuh. Maka, wajah Maya dan Galuh tampak lain dan berbeda.
Pada saat inilah ada keluarga dari papanya Bima. Ada Tante, paman, juga sepupu-sepupu Bima hadir.
"Tante, ingat dengan ku? Aku Vio, putri Bu Weni." Seorang gadis paling cantik tiba-tiba memeluk Rosmia.
"Oh Vio, makin cantik saja ya." Rosmia mengakui kecantikan gadis yang seumuran dengan Bima dan Galuh.
"Iya dong. Oh iya Tante, ini ada sedikit oleh-oleh dari mama. Beliau sedang sakit, jadi menyuruhku mewakilinya." Vio cantik memberikan bingkisan yang lumayan besar berwarna pink pada Rosmia.
"Oh, ini kakak ipar? Aku pikir dia baby sitter Lo. Ya ampun, kakak ipar. Maaf ya aku tidak mengenalimu." Vio tampak sedikit menunjukkan wajah jijik pada Galuh tanpa seorang pun tau selain Galuh sendiri.
"Iya Vio, tidak apa-apa. Toh, kita juga tidak saling mengenal." Ujar Galuh membalas ucapan si cantik Vio.
"Aduh, nak Galuh. Kamu tampaknya emosian ya, tidak bisa di ajak bercanda." Celetuk seorang ibu-ibu yang sekujur tubuhnya di hiasi oleh perhiasan dan barang-barang mewah.
__ADS_1
"Loh, saya kan juga menanggapi bercandaan Vio. Apa saya salah?"
"Aduh, bibi. Sudahlah, kakak ipar mungkin tidak sengaja melakukan itu. Vio juga salah sudah tidak mengenalinya. Maaf ya kakak ipar, tenang saja, bulan depan pasti kakak akan lebih cantik dari saya."
Seperti dua sisi yang berbeda, Vio menunjukkan ekspresi yang lain saat menatap Galuh dengan yang lainnya.
"Walah, sebulan lagi? tapi aku lebih suka begini, toh Bima yang membuatku begini."
"Kakak ipar mungkin tidak sadar, lelaki itu suka dengan wanita cantik."
"Vio, sudah berhenti. Biar bagaimana pun, kita ke sini mengunjungi penerus keluarga Fredrik. Sebagai keluarga terpandang, kita masih punya adad untuk menjenguk saudara yang baru melahirkan. Tidak dengan keluarga yang bahkan tidak menganggap dia sebagai keluarga."
Paman dari Bima, lebih tepatnya kakak kandung dari ayah Bima berceloteh. Paman tampak sedikit kecewa karena tidak melihat sosok keluarga dari Galuh.
"Paman, seandainya aku yang ada di posisi kakak ipar. Mungkin semua akan baik-baik saja, tidak membuat malu seperti ini...."
"Apa masih kurang kalian berceloteh? Aku mau menidurkan putraku." Bima yang sejak tadi di hadang oleh Galuh, pun mulai bereaksi karena sudah tidak sanggup menahan emosinya.
__ADS_1
"Kak Bima, biar Vio yang menidurkan."
"Putraku, hanya aku yang boleh menidurkan!" Galuh pun tersulut emosi. Suasana tampak sedikit tegang. Satu persatu tamu pun meninggalkan kamar Bima.