
"Utari! ....Novelia?" niat hati Dewangga hanya ingin memanggil Utari, tapi siapa yang menyangka jika ada adik sepupunya yang berada di negara Paman Sam itu juga ada di sini.
"Calon imamnya Nimas....."
greb
Nimas yang berlari ke arah Dewangga, langsung di hadang oleh Novelia. Novelia melihat dari ujung kaki hingga ke atas. Dia tidak menemukan keistimewaan yang melebihi Utari.
Di lihat kecantikan? Utari jelas lebih unggul. Kalau di lihat otak, mungkin dia lebih dari Utari. Mengingat Utari memiliki otak yang tak ada bedanya dengan udang.
"Aku peringatkan sekali untuk selamanya. Kalau sampai aku mendengar kata itu lagi keluar dari mulutmu. Aku bisa pastikan, saat itu adalah hari terakhir kamu ada di sekolahan ini!" Ucapan dalam dan membuat merinding siapa pun yang mendengarnya.
"Ak... aku...."
__ADS_1
"Aku tak menyukaimu! Jangan lagi ngintil Dewangga lagi! Mengerti? Enyah kau dari hadapanku!"
Nimas tidak berani melawan. Gadis itu terlihat lebih besar darinya. Dan lihatlah tangan besarnya itu. Dia berdiri dengan Dewangga, tingginya hampir sama.
"Kamu pindah ke sini?" tanya Dewangga setelah Nimas meninggalkan mereka.
"Kalau tidak? Apa kamu terus membuat Utari nangis diam-diam? Bodoh!" Novelia mengempit Dewangga di sela-sela ketiaknya. Seperti yang mereka lakukan sejak kecil.
"Maaf, tapi aku udah beneran enggak ada ngasih dia harapan. Sudah berulang kali aku mengatakan menjauh lah. Emang dasarnya dia yang gatel aja."
Ketiga orang itu bercanda dan mengomel secara bersamaan. Terlihat sekali kedekatan mereka, walau ketiganya di besarkan di negara yang berbeda.
Dengan adanya Novelia, masalah kecemburuan Utari pun tersalurkan. Dewangga juga lupa, kenapa dia tidak menyadari apa yang menjadi ketidak sukaan istri kecilnya ini padanya.
__ADS_1
"Papa sudah membelikan motor untuk kakak. Dan kakak harus berjanji hanya aku yang akan naik motor itu." Kata Utari dengan menunjukkan foto yang di kirim oleh Bima satu jam yang lalu.
Melihat motor apa yang di belikan Bima untuknya. Dewangga tidak bisa berpikir lagi. Apa benar dia ini papa kandungnya? Bagaimana bisa dia membelikan Scoopy ini untuknya.
"Kakak nggak suka? Ini Utari sendiri Lo yang memilih." Utari menunjukkan raut wajah lucu di hadapan Dewangga. Bagaimana mungkin lelaki yang di paksa dewasa itu bisa marah?
"Ah... Suka... Suka.... Suka sekali, istrinya kakak ini, udah cantik, punya selera tinggi juga ya." Kata Dewangga manis sekali dengan sebuah cubitan di pahanya sangat keras.
"Iya, benarkah? jadi ikut seneng deh." Utari makan jajanan yang ada di depannya dengan girang.
"Istri? Apa aku tidak salah dengar?" gumam Siska yang duduk tepat di belakang merek bertiga.
Dia sangat kaget sekali dengan apa yang di dengarnya. Tapi, kalau di ingat-ingat lagi. Memang benar, Dewangga dan Utari memiliki kedekatan yang tidak seperti kakak beradik pada umumnya.
__ADS_1
Tapi, bukannya mereka berdua kakak beradik? Bagaimana bisa menikah? Oh, apa mereka berdua adalah pasangan incest. Dasar, tidak bermoral.
Dengan mengetahui kabar yang begitu menggemparkan. Ingin sekali dia menyampaikan pada seseorang. Tapi, dia harus mendapatkan imbalan yang lebih besar pula, tentunya. Jadi, ke siapa dia akan menjual kabar ini?