Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Terima kasih


__ADS_3

Di ruang makan, sudah ada papa dan mama dari Galuh. Bima memasakkan bubur untuk ibu mertuanya yang baru sembuh.


"Galuh kenapa?" tanya Prayan yang melihat mata putrinya bengkak.


"Tadi di kiranya, Bima berangkat tanpa bangunin dia." jawab Bima menyajikan bubur untuk ibu mertuanya.


"Putriku sangat manja, apa kamu tidak keberatan?" Prayan tau betul sifat putrinya yang terlihat cuek namun manja itu.


"Tidak sama sekali, Bima suka memanjakan Galuh. Dulu, hanya dia dan keluarga papa Prayan yang selalu ada untukku. Ini salah satu cara untuk membalas kebaikan kalian. Di luar Bima juga sangat mencintai Galuh."


"Pa, Ma. Terima kasih sudah melahirkan dan membesarkan Galuh untuk Bima. Didikan kalianlah yang membuat Bima bisa memiliki Galuh seutuhnya. Dengan bangga membawa Galuh berdiri di sampingku."


Ucapan Bima membuat Prayan dan Mia sadar. Selama ini dia terlalu memanjakan putri-putrinya. Mereka tidak pernah berpikir jika kedua putrinya akan memiliki keluarga sendiri, nantinya.


"Mama...." Maya datang sedikit berlari dengan kedua anaknya.

__ADS_1


"Jangan lari-lari nanti anakmu jatuh." Prayan selalu memikirkan keselamatan semuanya.


Tapi, kedua putrinya sempat menganggap itu hal yang tidak berguna di saat sudah besar. dan sedikit cerewet tentunya. Tapi sekarang? Maya dan Galuh baru menyadari. Jika perasaan itu muncul secara alami hanya untuk melindungi buah hati mereka.


"Kenapa mama sama papa tidak mau jujur dan mengatakan semuanya? Malah menyerahkan perusahaan pada kami berdua? Pa, papa masih muda. Kami tidak mau perusahaan papa, yang kami mau hanya keberadaan kalian." Maya tidak bisa lagi menahan kekecewaan dan sedihnya.


"Baru sebentar papa suruh kerja, kamu sudah mengeluh. Bagaimana dengan papa?" Prayan memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang.


"Apa yang di katakan Maya ada benarnya pa. Papa masih muda, dan perusahaan itu milik papa dan mama. Kami masih kuat untuk bekerja di tempat lain." Arief menengahi.


"Aku gak butuh warisan, Galuh juga tidak aku rasa. Kami butuh mama dan papa dalam keadaan apapun. Izinkan kami berbakti pa," Maya tau orang tuanya terlalu banyak berpikir.


Tapi, dengan menutup seluruh akses untuk bertemu. Menurutnya, sudah keterlaluan.


"Pa, Bima sudah kaya raya. Aku gak butuh uang dari mama dan papa. Malahan, aku dan Bima mau yang terbaik untuk mama dan papa di hari tua." Galuh yang masih bergelayutan di lengan Bima pun berbicara.

__ADS_1


"Denger tu pa, mantu-mantu papa bisa memberi kebahagiaan buat kami berdua. Sekarang papa kembali ke perusahaan dan untuk mama biar kami yang ngurus." Apa yang di katakan Maya, di setujui semuanya.


"Baiklah, papa mau kembali ke perusahaan. Papa punya hutang tiga puluh juta pada Bima."


"Siapa bilang papa punya hutang padaku? Sudah sepantasnya papa menerima apa pun yang aku berikan. Karena papa sudah memberi satu putri yang berharga untukku sendiri." kata Bima memeluk Galuh.


"Kaya pengantin baru aja. Gak inget ujan-ujan nunggu di depan jendela lu Bim?" cibir Maya.


"Itu perjuangan namanya kak. Dari situ aku bisa menghargai apa yang sudah aku miliki. Dan aku pastika gak akan pernah melepaskannya." jawab Bima malu-malu.


"Kalian ini, sudah ayo makan. Boleh kan Bim?" Prayan masih merasa sungkan dengan kebaikan menantu bontotnya.


"Jangan sungkan pa, kak Maya dan pak Arief juga keluargaku. Ada apa-apa, aku juga minta tolong pada mereka." kata Bima jujur.


mereka semua sarapan masakan Bima. Prayan dan Mia yang ngotot pindah ke rumahnya sendiri pun tidak bisa di tahan lagi. Sebagai gantinya, Bima mengusulkan beberapa perawat untuk membantu menjaga mama mertuanya.

__ADS_1


__ADS_2