Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Kecemburuan Bima


__ADS_3

"Bim, Bima! Kamu harus ke kantor sekarang! Tolong selamatkan perusahaan." Yasa berjalan terburu-buru masuk ke rumah putra sulungnya. Dia bahkan terus berteriak memanggil nama Bima, putranya.


"Kenapa memangnya, pa?" Tanya Bima yang saat ini berada di dapur untuk memasak buat Raya.


"Saham anjlok, entah ini karena ada orang dalam yang berusaha ngacau apa memang pasaran kita yang melemah." Yasa terlihat tak seperti biasanya. Yasa yang selalu tenang dalam menghadapi kekacauan perusahaan, kali ini dia jauh lebih panik.


Ada apa sebenarnya yang terjadi?


Bima langsung melepas celemeknya, karena masakannya juga sudah banyak yang matang. Dia segera ikut dengan Yasa tanpa mengganti bajunya.


Bima masih memakai baju tidur sutra warna abu-abu miliknya. Dia juga membiarkan rambutnya acak-acakan tak seperti biasanya, klimis.


"Katakan, ada apa?" Bima tak bisa menahan rasa ingin taunya sampai di kantor.


"Dalam semalam, saham perusahaan turun di dua persen. Dan ada perusahaan asing yang mau mengakuisisi perusahaan kita. Aku bingung, banyak karyawan yang terus menuntut gajinya di bayarkan." Jawab Yasa tak berdaya di samping Bima mengemudi.


"Memangnya, papa tidak membayarkan upah mereka dengan lancar?"


"Bayar kok, cuma entah apa ketakutan mereka sampai meminta untuk di gaji secepatnya."

__ADS_1


Mendengar jawaban dari Yasa, Bima menangkap jelas kalau di perusahaannya ada provokasi. Bagaimana bisa, perusahaan yang selama ini dalam pantauan dirinya. Tapi akan jatuh di satu malam saja? Ini mustahil.


Yasa membawa Bima langsung masuk ke ruangannya melalui lift khusus dari basemen. bima di sambut oleh Candra dan Andra di ruangannya.


"Kenapa kalian ngumpul?" kaget Bima melihat kedua adiknya dengan wajah tegangnya.


"Maaf, ini semua salahku." Candra langsung meminta maaf pada kakaknya sambil bersimpuh.


"Apa ini kerjaan istrimu?" Bima langsung bisa menebak. Bagaimana bisa anak itu bisa melakukan hal sejauh ini? Bahkan, Galuh pun tak pernah punya pemikiran seperti ini.


"Aku kurang tau awalnya, dia mengenalkan aku dengan teman kuliahnya. Dia orang dari Australia...."


Bima langsung mengambil posisi ayahnya dan mulai mengoperasikan laptop milik orang tuanya tersebut.


"Cari tau orang ini, aku sudah kirim ke email mu. Aku mau data lengkapnya dalam sepuluh menit." Bima bicara pada ponselnya yang entah sejak kapan berbunyi.


Dalam waktu sepuluh menit? Apa orang itu sangat jenius?


Candra melihat pekerjaan kakaknya. Awalnya dia berpikir akan mengecek sistem atau apa. Tapi ternyata, kakaknya mencari tau orang yang mau mengakuisisi perusahaan orang tuanya.

__ADS_1


Ting


Nggak sampai sepuluh menit, sebuah email masuk. Itu pesan dari orang tadi. Setelah mendapat email, ponsel Bima kembali berbunyi.


"Besok-besok, kalau mau nyari curut. Bisa enggak jangan ganggu tidurku?"


"Tutup mulutmu! Perusahaanku mau hancur, kamu masih pentingin tidur? Apa kamu mau tidur di peternakan buaya?"


"Tidak bos!"


"Sekarang kamu buat virus untuk mengacaukan sistem mereka." Bima benar-benar di buat geram kali ini.


"Pengusaha asal Australia ini bukan orang yang lihai dalam bisnis. Tapi licik! Wanita di keluargamu, siapa yang berurusan dengan dia? Siapkan saja dia, jangan kamu kotori dengan hal negatif bos. Karena wanita itu sudah lebih dari setahun berhubungan dengannya. Si bodoh itu sengaja mengacaukan sistem perusahaan mu. Karena wanita itu lebih memilih keluargamu dari pada dia."


Semua termenung dengan apa yang di katakan orang misterius ini. Tapi, itu tak lama, karena orang misterius ini kembali memecahkan keheningan. "Bukan Galuh, kan?"


"Tutup mulutmu kalau cuma mau menuduh istriku. Sedetik aja aku hampir tidak pernah meninggalkan dia. Apalagi dalam waktu yang lama."


"Syukurlah, kalau misalnya itu Galuh. Kihajar Jovan! Kelemahan Galuh hanya dia."

__ADS_1


"Enyah kau dari muka bumi!"


__ADS_2