Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Lelah, biarlah walah mimpi


__ADS_3

Galuh masih tak ingin percaya dengan apa yang di katakan oleh ibu mertuanya. Dia lebih memilih percaya pada suaminya. Biar bagaimana pun juga, Bima hampir tidak pernah mengecewakan dirinya.


Galuh masih berkutat dengan pekerjaannya di cafe. Meski harus membawa Dewangga, ternyata suasana cafelah yang ia inginkan saat ini.


Galuh tak ingin memikirkan apa yang di ucapkan oleh ibu mertuanya. Tadi dia juga sangat ragu pada kenyataan. Selama ini Bima selalu menurut apa yang di katakan oleh orang tuanya.


Bahkan, dia hidup di kontrakan kecil dan kumuh pun. Bima tidak keberatan.


tanpa terasa, hari sudah gelap. Dewangga juga terlelap dalam boks yang sengaja di bawa Galuh dari rumah. Galuh melihat wajah polos Dewangga, tidak mungkin kalau mereka harus berpisah lebih lama dari seminggu.


Galuh menyerah untuk berpikir positif, karena apa yang di katakan Rosmia ini mengganggu nalarnya.

__ADS_1


"Mbak, sudah jam sembilan. Kasihan Dewangga kalau enggak pulang." Devi masuk ke dalam ruangan Galuh.


"Ah, ya sudah tutup cafenya." napas besar di hembuskan Galuh. Bagaimana pun, kenyataan memang harus di hadapinya.


Galuh kembali pulang dengan kelelahannya yang sejak tadi dia paksa bekerja tanpa makan. Galuh tak nafsu makan, itu yang membuatnya tak ingin menyentuh makanannya.


Galuh menidurkan Dewangga di bosk bayi yang ada di kamarnya. Setelah itu dia membersihkan diri dan lanjut tidur. Sebenarnya pekerjaannya masih banyak. Karena dia juga menghandle warung milik Bima.


Galuh tidur sangat lelap, bahkan dia tidak bangun saat putranya menangis di pagi-pagi buta. Galuh mendengar putranya menangis, tapi dia merasa tak bisa bangun lagi. Dia hanya ingin bermimpi saat ini.


Walau berisik, Galuh tak mampu membuka mata. Tapi, hanya sebentar. Setelahnya dia malah merasa hangatnya pelukan suaminya. Dalam hati Galuh berucap. Walau hanya mimpi, dia tidak ingin mimpi itu berakhir dengan cepat.

__ADS_1


Lama-lama aroma parfum Bima menusuk hidung. Parfum yang di pilih langsung olehnya, mana mungkin Galuh lupa aromanya. Galuh mengeratkan pelukannya dan tak berniat melepaskan. Karena itu dalam mimpi, kalau dia melepaskan mungkin akan terbangun dan kembali pada kenyataan Bima tak ada di sampingnya.


Galuh kembali lelap, dia bahkan tidak sadar sudah siang baru bangun. Galuh bangun dan langsung mengecek boks Dewangga. Dia merasa bersalah sudah mengabaikannya semalam.


"Oh, tidak.... Dewangga!!!" Galuh histeris melihat boksnya kosong. Galuh seperti orang gila mencari putranya. Galuh bahkan mencari di bawah kolong tempat tidur dan memastikan jendela kamarnya sudah di tutup semalam.


"Dewangga!! Huhu aku cuma punya kamu sekarang, kenapa ikut meninggalkan aku?" Galuh masih tak sadar jika pintu kamar sudah terbuka.


Galuh menangis di samping tempat tidur. Dia menangis dan meraung mengingat kembali apa yang di katakan oleh ibu mertuanya. Dia memang tidak berguna menjadi istri dan ibu. Bahkan anak tidur pun bisa hilang.


Pada saat inilah Bima datang dan langsung memeluk istrinya. "Cup cup cup jangan menangis, aku ada di sini."

__ADS_1


Masih belum sadar, Galuh malah mengadukan kehilangan putranya. "Dewangga hilang, bagaimana aku enggak menangis? Aku tidak berguna sekali menjadi ibu, bahkan suami sudah mau meninggalkan pun aku masih menghilangkan anaknya."


__ADS_2