
"Kau mungkin sudah mendengar siapa Anindia dalam hidupku. Tetapi kamu tidak tau perasaan ku padanya. Aku akan mengakui semuanya padamu." Fairus masih bersimpuh di depan Raya.
"Aku gak tau seberapa besar perasaan kamu terhadapnya, yang jelas aku tidak ingin menjadi penghalang atau di halangi. Paham maksudku?"
Raya benar, sebagai sesama wanita dia sadar. Jika mencintai orang yang tidak ingin kita cintai itu sangat sakit. Tetapi Fairus sekarang suaminya yang sah, apa masih harus di ragukan yang namanya ikatan suci itu?
Kembali lagi pada bagai mana Raya dan Fairus bisa menikah. Keterpaksaan. Raya sudah bisa mengira kalau hal ini akan hadir. Masa lalu yang masih menggantung dan akan meminta kepastian di masa depan.
Raya cukup dewasa dalam menghadapi masalah yabg menimpa dirinya. Raya lebih memilih untuk menyerahkan semua pada Fairus, bagaimana pun lelaki itu lebih dewasa dari padanya. Sudah pasti dia memiliki jalan keluar yang lebih bijaksana.
"Izinkan aku berpoligami." kalimat tamparan yang sekaligus membawa sebilah pedang bagi seorang istri.
Raya hanya bisa menutup mata dan meneteskan air mata. Mencoba memantapkan hati sebelum membuka mata, menghirup udara sebanyak mungkin dan melepaskan saat dada nyeri itu sedikit penuh.
"Aku tidak pernah melarangmu untuk menikahi siapa pun yang kamu cintai. Tetapi aku menolak untuk di madu." Senyum getir bisa di rasakan oleh Fairus, tetapi dia tidak punya pilihan lain.
Fairus memiliki hutang pernikahan di masa lalu pada Anindia, dosen baru itu. "Tidak bisakah aku memiliki kamu dan dia dalam satu waktu?"
"Jangan serakah. Hatiku gak akan bisa, aku tidak mencintai kamu. Percuma juga bertahan," Raya bukan orang yang tegar setau Fairus. Tetapi untuk saat ini dia terlihat seperti bukan Raya.
__ADS_1
Fairus memeluk Raya, pelan berbisik dengan belaian yang membawa kenyamana. "Bismillahirrahmannirohim, Raya Samantha aku menceraikan kamu."
Fairus masih memeluk Raya dengan air mata yang semakin deras. Raya tak pernah membayangkan jika dirinya akan menjadi janda di usianya yang masih sangat muda sekali.
"Jangan menangis, itu tidak ada gunanya. Semoga kamu bahagia bersamanya." Raya tidak menangis, atau hanya menunjukkan mata merahnya.
Wanita yang di nikahi satu tahun lalu karena kesalah pahaman. Kali ini sudah ia lepaskan segampang menikahinya.
Raya beranjak dari duduknya dan mengambil koper yang ada di dalam lemari. Wanita itu menemasi baju-bajunya dan buku-buku yang ia miliki.
Raya meletakkan kartu pemberian Fairus dan juga cincin nikah yang pernah ia sematkan seminggu setelah ijab itu. Fairua kaget wanita itu tampak biasa saja saat ia melepaskannya.
"Tidak." jawab Raya dengan sedikit senyum yang tersisa.
Bagaimana dia bisa mengatakan hak itu lalu tersenyum? Padahal hatinya sudah hancur perkeping-keping. Pria brengsek ini sudah mempermainkan dirinya selama satu tahun.
Berani memutuskan janji suci dengannya demi hutang di masa lalu. Ini juga pilihan Raya, yang tidak ingin di poligami. Raya tidak pernah lupa kalau hutang harus di bayar, tetapi yang tidak bisa di jawab. Kenapa dia menikahinya waktu itu? Kenapa dia masuk kedalam kontrakannya saat itu? Kalau dia tidak ingin menyelesaikan ceritanya sampai akhir?
Raya pergi meninggalkan rumah besar yang memberinya kebahagiaan selama satu tahun ini.
__ADS_1
Raya pulang ke kontrakan? Tidak, dia cukup bodoh untuk menikahi dosennya. Tetapi tidak untuk mempermalukan keluarganya.
Raya memilih untuk mencari kontrakan yang sedikit jauh dari rumahnya, namun tidak terlalu jauh dari kampusnya.
Bima mendengar cerita Raya melalui telfon. Dia tidak mengira jika seseorang yanh ia hormati bisa sebajingan itu memperlakukan perempuan. Terutama Raya yang sudah di anggap sebagai saudarinya sendiri.
"Tinggal saja di rumah Galuh yang dulu. Itu tidak jauh dari kampus." Bima memberi saran pada wanita yang tengah kebingungan mau tinggal di mana.
"Baiklah, setidaknya aku tidak menangis di pinggir jalan seperti ini."
Bima dan Galuh mengantar kunci pada Raya menggunakan mobil barunya. Pria itu tampak gagah meski hanya memakai kemeja putih lengan panjang dengan celana jin sobek-sobek.
"Apa Fairus itu gila menceraikan wanita yang di nikahinya demi janji yang bisa di di batalkan!" Bima geram saat melihat Raya menangis pada istrinya.
"Sudah jangan menambah kesedihan di hati Raya. Mungkin ini yang terbaik." Omel Galuh pada Bima.
Di tengah perseteruan Bima dan Galuh, Raya tiba-tiba mual seperti orang mau muntah. "Galuh, kau bau sekali. Apa tidak mandi kamu mau ke sini?"
Bima langsung mengendus Galuh saat itu juga, sebelum dia menatap istrinya.
__ADS_1
"Ya sudah biar Galuh sama aku pulang dan mandi, kamu istirahat saja di sini. Ambillah cuti kuliah kalau kau merasa kurang enak badan."