Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Lapar berujung petaka


__ADS_3

"Bima, aku laper." rengek Galuh yang saat ini berada di ruangan kerjanya.


Ya, Bima dan Galuh sekarang sudah mulai aktif lagi di kerjaan mereka. Dewangga yang di titipkan pada orang tua Bima, seakan memberi kebebasan bekerja lagi bagi Galuh. Namun, Galuh belakangan ini terus rewel merasa lapar.


Bima yang juga bekerja di kantornya pun sedikit kerepotan. Pasalnya, Galuh enggan untuk menyuruh anak buahnya membuatkan makanan. Entah kenapa dia sama sekali tidak nafsu makan, makanan yang di buat oleh orang selain Bima.


"Astaga, Galuh. Ini masih jam berapa? Dan tadi kamu juga sudah sarapan, kamu kenapa?" Bima merasa kalau istrinya ini tidak sedang lapar, tapi hanya ingin memberinya ujian saja.


"Tapi Bima, aku juga merindukan kamu."


Bima tak bisa berkutik lagi, mendengar kata rindu dari mulut Galuh adalah kelemahannya. Mau tidak mau, Bima mencari di mana istrinya berada. Perjalanan setengah jam, bukanlah sebuah halangan bagi Bima. Bahkan, jika Galuh berada di gurun pasir pun, mungkin Bima akan menggali tanah untuk mendapatkan air.

__ADS_1


Sedangkan Galuh yang teleponnya di matikan begitu saja oleh Bima, merasa sangat jengkel. Bima adalah suami tak pengertian saat ini bagi Galuh.


Dengan mulut yang sudah maju beberapa senti dia tetap mengerjakan kerjaannya. Perutnya terasa sangat lapar sekali saat ini.


"Aduh, Asiku sepertinya sudah harus di ambil." Galuh mencari-cari alat untuk memompa ASI nya.


Pada saat memompa, Galuh selalu merasa lapar belakangan ini. Mungkin ini karena Dewangga yang berusia delapan bulan ini memang memerlukan asi yang cukup banyak.


Galuh dengan pompa di dadanya, dia ke dapur mencari makanan yang bisa ia makan. Galuh melihat-lihat bahan apa yang ada di dapurnya juga.


Berharap ada bahan makanan apa di cafe? cafe Galuh tidak menjual makanan berat, itu sebabnya dia sedikit kesulitan.

__ADS_1


"Baik, Bu."


Galuh kembali ke ruangan dengan harapan makanannya cepat di antar. Biar bagaimana pun juga, dia sungguh sangat lapar.


"Devi, bisa minta tolong buatkan aku salad sayur sama buah? Buahnya masih komplit kan?" Galuh mencari manager yang sudah dia tunjuk selama beberapa tahun ini.


"Baik, mbak. Oh iya, untuk daging steak nya sepertinya sudah datang. Apa kamu mau di buatkan, mbak?" tanya Devi.


"Aku kurang puas kalau di buatkan kamu, nunggu Bima saja deh. Oh, jadi sudah ada menu steak nya? wah, jadi makin kelas saja cafe milikku. Yang ayam ada?" Galuh sangat bangga dengan pelayanan yang di berikan oleh pegawainya pada konsumen.


"Masih daging sapi, nanti mas Bima datang, kan? kemarin katanya mau ngasih resep sausnya." Devi tak berpikiran lain saat menanyakan Bima. Namun reaksi Galuh membuat Devi sedikit canggung.

__ADS_1


"Jangan sebut orang itu lagi. Sepertinya, aku mati kelaparan pun, dia tidak akan datang. Sudah sana pergi buatkan aku salad sayur sama buah. Sama kokinya suruh cepet, buat roti begitu saja lama sekali. Memang buatnya harus dari ngadon roti dulu!"


Waduh, sepertinya hati bosnya ini sedang tidak bagus. Bisa-bisanya Devi menyinggung tanpa sengaja. Dan yang membuat Devi tak enak hati adalah dia sudah membawa koki terseret tanpa tau kesalahannya. Sungguh malang nasibmu.


__ADS_2