Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Upah Raya


__ADS_3

Sakit, tapi Galuh sangat menikmatinya. Bima benar-benar bermain lembut hari ini. Galuh melihat kilatan hasrat dalam tatapan mata Bima, bagaimana dia bisa menghentikannya?


Selain tidak tega, permainan ini juga keinginan Galuh.


Galuh tak bisa tidur lagi setelah permainan itu. Berbeda dengan Bima yang langsung tepar dan tertidur pulas. Galuh setelah membersihkan diri, dia segera mengambil Dewangga yang mulai ribut.


"Dewangga, ikut mama cari Tante Raya yuk." Galuh membawa putranya mencari tetangga yang juga sahabatnya.


Di jam segini, pasti sahabatnya itu akan sendirian. Karena Fairus pergi ke kampus dan meninggalkan anak dan istrinya di rumah.


"Tante Raya...." teriak Galuh dengan nada anak kecil. Dia memposisikan diri sebagai Dewangga kali ini.

__ADS_1


"Haik, Nanak ganteng tapi gantengan Nanak Tante." Memang sahabat Galuh, mana mau dia di unggulin. Yang ada malah ngajak berantem.


"Halah, lagi apa kamu?" tanya Galuh menuju sumber suara.


"Narendra lagi main. Sini main juga Dewangga, bareng sama kakak." Raya yang berada di dekat bayi umur setahun lebih itu tengah menemani putranya main.


"Ngapain kamu selama aku di rumah sakit? Jenguk sekali aja enggak, kau!" sungut Galuh protes karena sahabat satu-satunya ini tidak menjenguknya ke rumah sakit.


"Eh, dudul. Sepertinya dokternya menyuntikkan obat yang salah deh padamu. Kenapa otakmu sedikit geser? Aku ada anak kecil, aku yang bawa anak kamu juga. Terus, kalau aku juga ke sana, siapa yang jaga si krucil-krucil ini? Kayak enggak tau aja mertuamu itu seproteck apa." Jawaban yang di berikan Raya tak kalah panjang dari Galuh yang mengeluh.


"Haduuuhhhh, besok-besok jangan nitip anak ke aku deh. Udah tau aku lagi hamil, eh di pesenin ini itu...." Raya masih terus mengoceh sedangkan Galuh hanya bisa tertawa.

__ADS_1


Dia tau, ocehan sahabatnya ini bukan bentuk protes. Tapi itu sebuah kasih sayang dan perhatian yang di tunjukkan ya.


"Ok, apa kamu perlu aku gaji untuk beberapa hari lelah mu itu, bumil?" Galuh seakan angin segar bagi bumil yang selalu ingin ini dan itu.


"Hmmm, cukup pengertian juga kamu. Kalau gitu, gaji aku sama masakan Bima saja deh. Aku rasanya ngiler sekali kalau sudah bau Bima masak. Sekali aja aku pengen." Raya seperti anak kecil yang kelaparan.


Dia bahkan sudah membayangkan betapa lezat makanan yang di buat langsung oleh tangan Bima. Tangan yang tak ada orang menyangka akan bisa menghasilkan masakan yang begitu luar biasa nikmat.


"Oke, dengan senang hati. Bima juga pasti akan membuatkan makanan yang lezat buat kamu." Galuh membuat liur dalam mulut Raya tak berhenti mengalir.


Aduh, rasanya sudah seperti di ujung lidah Raya saja. Ibu satu anak itu juga sudah seperti mencium aroma masakan yang begitu menggugah selera.

__ADS_1


"Ayo tunggu apa lagi? Aku mau lihat Bima masak sekarang juga. Sayuran berwarna-warni nan segar, daging yang begitu tebal dan aroma butter yang begitu harum.... Ah, ayo Galuh, aku sudah tidak sabar."


Raya menggendong Narendra putranya dan mendorong sepedah bayi milik Dewangga. Galuh mengikuti Raya dari belakang, dia lupa kalau suaminya masih tidur kelelahan. Yang dia lihat hanya Raya yang begitu senang dan bahagia membayangkan masakan Bima.


__ADS_2