
Seharian ini terasa sangat berat sekali bagi Galuh. Ibu mertua yang tak kembali menjemput putranya, Bima juga tidak menghubungi dirinya.
Galuh merasa sedikit keteteran saat bekerja sambil mengajak putranya. Dewangga adalah putra yang ia lahirkan, tidak mungkin dia akan mengeluh.
Galuh pulang tepat di jam tiga sore, dia bahkan tidak makan siang, siang ini. Waktunya di habiskan dengan bermain dan bekerja. Menjaga bayi yang masih Asi itu jauh lebih melelahkan.
"Ternyata semelelahkan ini yang mama rasakan. Dewangga anak pinter, bahkan dia tidak begitu rewel saat di ajak kerja." Galuh membelai pipi kemerahan milik putranya.
Karena membawa Dewangga, Galuh pulang menaiki taksi. Jika biasanya dia lebih memilih ojek, karena cepat dan menghindari macet.
Perjalanan lima belas menit bisa di gunakan Galuh untuk beristirahat. Sesampainya di rumah, dia pun pasti akan kembali di sibukkan dengan mengurus sang buah hati.
"Haaaaaahhhh, susah juga tanpa baby sitter. Mbak, bisa minta tolong turunin barang-barang Dewangga dari taksi?" Galuh meminta tolong pada pembantunya.
"Iya nyonya."
__ADS_1
Galuh terlihat sangat lelah pun langsung masuk ke rumah. Baru saja mau duduk, Dewangga sudah bangun dan menangis.
"St.. St... ada apa nak?" Galuh langsung menggendong putranya dan membawanya keluar duduk di ayunan.
"Mungkin lelah juga Den Dewangga, nya. Lebih baik di mandikan saja, pasti nggak lama bakal tidur lagi." apa yang di katakan Pembantunya ada benarnya. Sejak pagi, Galuh hanya mengajak bayi berumur delapan bulan itu bermain.
"Ah, iya juga. Mbak, bisa minta tolong siapin air yang pas untuk Dewangga?" Galuh selalu memperlakukan bawahannya sebagai keluarganya. Maka dari itu, Galuh tidak kesulitan untuk meminta tolong ini dan itu.
"Baik, nya."
Dari terakhir kali Bima menghubungi, sudah delapan jam lebih. Apa kekhawatiran Galuh tidak ada artinya bagi Bima? Apa memang begini yang namanya LDR? Yang jauh hanya bisa menunggu, tapi yang dekat malah me.....
Tutut Tutut suara ponsel Galuh membangunkannya dari lamunan. Lamunan liar tentang suaminya di sana dengan siapa dan sedang apa.
"Maaf sayang, aku hari ini sibuk sekali. Aku usahain lebih cepat balik ke Jakarta. Ini aku baru sampai di hotel." kata Bima menunjukkan dirinya baru tiba di hotel.
__ADS_1
Bima juga menunjukkan kamar hotelnya, dia juga menunjukkan pemandangan yang terlihat dari dalam kamarnya.
"Kamu sama siapa satu kamar?" Tanpa menyebut sayang atau nama, Galuh sudah jelas mencurigai suaminya.
"Aku sendirian, sayang. Aku merindukan kamu, aku mau tidur sama kamu. Mana mungkin aku mencari teman tidur lain?" Bima tau apa yang di pikirkan Galuh, jadi dia secepatnya menenangkan istrinya.
"Kamu sudah makan?" Tanya Galuh sedikit luluh.
"Belum, kamu kan enggak ngingetin aku." Kata Bima terdengar manja.
"Hilih, paling kamu sudah makan berkali-kali." Kata Galuh sedikit mencair.
"Aku tidak bohong, sayang. Ini saja aku masih menunggu pak Hendro memesan makanan di restoran bawah." Kata Bima tak ingin istrinya berpikir buruk padanya.
"Pak Hendro itu siapa? Asisten pribadi kamu kan Roki." Tanya Galuh merasa asing dengan nama yang di sebut suaminya.
__ADS_1
"Oh, itu perwakilan pihak pabrik yang menyambut ku di sini. Aku sendirian ke sini, sayang. Jangan berpikir negatif ya, aku cinta kamu. Tunggu aku tiga hari saja, aku tak tahan pisah lama-lama dari kamu."