Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Pemikiran masing-masing


__ADS_3

Selama perjalanan, Bima hanya diam dan fokus pada jalan. Galuh yang ada di sampingnya pun merasa bosan. Dia bergerak ke sana kemari, tidak tenang.


Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Bima berubah setelah dia keluar dari ruangan dosen genit itu.


Galuh berhenti bergerak dan lebih memilih untuk tidur. Hal ini tidak mempengaruhi Bima, biar bagaimana pun, lelaki itu tengah terbalut emosi.


Bima tidak ingin melampiaskan kemarahannya itu pada Galuh. Yang jelas, Bima tidak ingin Galuh terluka olehnya.


"Sudah sampai? Kenapa gak bangunin?" Galuh menggosok matanya yang baru saja terbuka.


"Jangan di gosok, sayang. Nanti matanya merah," kata Bima menghentikan aksi Galuh.


"Biar saja merah, yang penting tidak buta." jawab Galuh santai.


Galuh sudah mengenal Bima cukup lama mengenalnya. Tapi, watak yang satu ini, dia tidak pernah tau. Apa memang Bima seorang yang bermuka dua?


Galuh turun dari mobil dan langsung masuk rumah. Bima merasakan perubahan Galuh kali ini. Sikapnya kembali terasa dingin.


"Apa aku melakukan kesalahan?" Bima masih tidak sadar dengan apa yang dia lakukan.


Dia bisa merasakan Galuh berubah saat itu juga. Tapi dia buta akan dirinya sendiri yang sudah lebih dulu berubah.

__ADS_1


Galuh masuk ke dalam kamar tamu, dia tidak ingin melihat Bima. Galuh adalah wanita yang pernah terluka. Dia memiliki trauma akan kegagalan suatu hubungan.


Dia merasa, Bima tidak harus berpura-pura. Jika dia memang sudah tidak mencintainya lagi.


Galuh memilih melanjutkan tidur dan berharap Bima akan mencari dan membujuknya. Dia juga tidak ingin rumah tangganya hancur karena cekcok yang akan terjadi jika dia mengutarakan perasaan tidak nyamannya.


Berbeda dengan Bima. Dia tidak mendapati Galuh di dalam kamar, menjadi marah. Dia menganggap Galuh sangat kekanak-kanakan.


Tidak bisakah dia ngomong kalau ada kesalahan di antara mereka berdua?


Galuh memilih untuk pergi ke ruangan lain ketimbang berbicara dengannya. Bima memiliki pemikiran Galuh sungguh tidak menghargai dirinya.


Dia membela Galuh di hadapan semua orang. Tapi Galuh? Dia tidak menghargai dirinya. Ini suatu ironi yang terus terjadi. Galuh selalu dengan pemikirannya sendiri.


Malam pun tiba, pelayan tau di mana Galuh berada. Dia mengajak Galuh untuk makan malam bersama dengan Bima.


Hati Galuh sedikit terluka, melihat Bima yang duduk tenang menikmati udang goreng di piringnya. Suaminya ada di rumah, tapi dia tidak membujuk dirinya yang ada di ruang tamu. Bahkan, bisa di pastikan makan malam kali ini bukan masakan Bima.


"Ini, mbak yang masak?" tanya Galuh pada pelayan.


"Siapa lagi? Aku membayar dia untuk menjadi pelayan. Mulai bersih-bersih sampai masak aku mencari orang. Apa kamu berharap aku yang akan masak?" ucap Bima sarkas.

__ADS_1


Wajah Galuh menegang, dia menundukkan kepala.


Papa, mama. Ke mana kalian sebenarnya? Kenapa meninggalkan aku sendirian? Kak Maya, aku rindu.


Tanpa terasa, air mata sudah menetes di punggung tangan Galuh. Hati Bima hancur melihat air mata itu. Dia tidak bermaksud membuat Galuh menangis. Tapi apa yang dia ucapkan tidak salah.


Bima menyudahi makan udangnya, dia bangkit dari kursi dan meninggalkan Galuh sendiri.


Galuh kaget dengan sikap Bima kali ini. Tidak bisa di tahan lagi, Galuh ikut bangkit setelah Bima naik ke lantai atas.


Galuh benci situasi seperti ini, dalam hal ini dia tersakiti tanpa melakukan kesalahan. Galuh masuk lagi ke dalam kamar tamu. Dia merasa, tidak akan ada gunanya jika menyusul Bima ke atas.


Bima turun setelah mengganti bajunya yang tadi memakai piyama. Dia langsung masuk ke dapur untuk masak makanan khusus untuk Galuh. Dia tau, Galuh akan makan lebih banyak kalau dirinya yang masak.


Bima tidak tau sebelumnya, jika Galuh sudah tidak napsu makan lagi. Galuh lebih memilih kelaparan dan memaksa matanya untuk terpejam dengan bantuan obat tidur yang ada di dalam laci.


Bima selesai masak, dia membawakan langsung ke kamar tamu. Kamarnya tidak di kunci, jadi dia bisa masuk.


"Sayang, bangun." Bima membangunkan Galuh, tapi tidak ada respon darinya.


Bima kaget, dia khawatir dan panik. Galuh tidak bergerak, Bima mencari apa saja yang ada di dalam kamar itu. Dia yakin, pasti ada sesuatu.

__ADS_1


Tepat Bima membuka laci di samping tempat tidur Galuh. Dia mendapati obat penenang dengan dosis tinggi. Ada apa dengan Galuh? Bima mulai gelisah, dia tidak berharap sesuatu terjadi pada istrinya.


Galuh benar-benar membuatnya ketakutan sepanjang malam. Pada pagi hari, Bima harus ke kantor karena ada rapat. Dengan terpaksa Bima meninggalkan Galuh dengan sarapan yang dia buat sendiri.


__ADS_2