
Malam sekali Bima baru pulang, dia sepertinya sangat kelelahan. Tanpa sadar dia tidak mengganti baju formalnya dengan baju tadi di pakai. Bima mengira juga Galuh sudah tidur, karena wanitanya itu tidak tahan kantuk.
Melihat lampu kamar sudah padam, Bima mengira bahwa perkiraannya memang benar. Siapa yang tahu jika Galuh terkejut dalam gelap.
"Siapa kamu!" seru Galuh seraya memegang selimut untuk menutupi dirinya.
"Ini aku Bima." Bima langsung menyalakan lampu dan berhambur mendekap Galuh yang ketakutan.
Bukan tak beralasan Galuh ketakutan seperti itu. Dia masih hidup di bawah bayang-bayang Jovan. Lelaki itu seperti tidak memiliki malu yang terus mengejar Galuh.
"Kenapa kamu pakai jas?" tanya Galuh masih dengan nada suara bergetar.
"Maaf," hanya itu yang bisa di ucapkan oleh Bima.
"Jujur!" kali ini Galuh sudah tidak memiliki kesabaran untuk ingin tau.
"Kalau aku jujur, kamu tidak marah kan?" Bima menundukkan kepala karena dia takut Galuh tidak memaafkan dirinya.
"Ya!"
"Aku punya perusahaan yang bergerak di bidang perhiasan. Perusahaan itu tengah berkembang saat ini. Tadi aku bertemu klian untuk membahas bahan mentah untuk perhiasan. Aku bukan tidak mau jujur padamu, tapi aku hanya tak ingin orang mengetahui siapa aku. Papa sebenarnya juga sudah mau mengatakan hal ini padamu sebelum menikah, tapi aku melarangnya...."
__ADS_1
"Kamu pikir aku menikahimu karena aku matre?" Galuh memotong ucapan Bima.
"Bukan,"
"Lantas?"
"Aku tak ingin kamu marah dan menganggap aku tidak mencintaimu tulus. Galuh, aku mencintai kamu dari pertama aku menginjakkan kaki di kota ini. Aku harus hidup menjadi gembel, untuk melatih kesabaranku. Bahkan Papa dan Mama tidak tinggal di rumah itu selama ini. Itu rumah untukku sendiri, sedangkan orang tuaku dan ketiga adikku tinggal di kota besar dengan mengelolah perusahaan..." belum selesai Bima menjelaskan, Galuh langsung memeluk tak membutuhkan penjelasan.
"Aku percaya semua apa yang kau ucapkan atau yang belum terucap. Cukup mendengar kamu mencintaiku, aku tidak takut kalau kamu akan meninggalkan aku."
"Gak akan."
Setelah kejujuran di ungkapkan oleh Bima, Orang tua Bima pulang ke rumahnya sendiri di kota. Sedangkan Bima menjalani kehidupannya berdua selayaknya pebgantin yang baru seminggu menikah.
Gadis itu masih menganggap jika Bima masih bisa ia gapai. Berbekal dengan kecantikan dan keseksian tubuhnya. Sedangkan Raya selalu terbakar ketika gadis itu menempel pada Bima.
"Bima, pakek ini deh biar panu lo ilang." Raya memberikan salep penghilang penyakit panu, kutu air dan penyakit kulit lain yang di sebabkan bakteri.
"Gue gak panuan kok." Bima berpikir sejenak sebelum akhirnya dia menoleh ke Galuh. "Yang, aku panuan ya?"
"Enggak kok, emang lo liat di sebelah mana Ray?" Tanya Galuh bingung.
__ADS_1
Selama dia menjadi istri Bima, tidak pernah dia melihat penyakit panu yang tumbuh di tubuh Bima sebelah mana pun.
"Itu yang duduk di samping Bima. Panu permanen!" Raya menunjuk Rosaline, yang langsung membuat yang lainnya tertawa.
"Hahaha ada panu cantik." celetuk salah satu teman Bima yang kebetulan bergabung dengan mereka.
"Sepertinya Pak Fairus benar-benar mengajari lo ya. Lihat saja, uler keket malah di bilang panu." Galuh pun menimpali.
"Sudah sayang," Bima tau Galuh tengah terbakar hatinya pun memiloh pindah tempat duduk.
"Gatel banget sih jadi gadis. Jadi pengen tanya," ucap Galuh yang tak terima gadis itu gak memberi jarak pada suaminya.
"Tanya, tanya saja sih gak usah sok misterius." Rosaline menjawab penuh amarah.
"Lo itu gadis apa janda sih? Sebegitu gatelnya ya sampek nempel-nempel terus sama laki gue?" Galub sudah tidak bisa lagi menahan.
"Lo itu kalo ngomong di jaga dong. Gak pernah makan bangku sekolahan apa lo!" Rosalin kini benar-benar sangat marah.
"Jelas gue gak pernah makan bangku sekolahan, orang gue bukan rayap. Pantes lu bodoh, yang lain mendengarkan pelajaran, elonya malah ngemilin bangku."
Gelak tawa kembali pecah, tapi Rosalin tak bisa berkomentar lagi. Di tambah Bima yang kini audah memeluk Galuh untuk menenangkan dirinya.
__ADS_1
"Bima, aku yang di serang. Kenapa kamu malah meluk dia sih? Aku yang butuh di tenangin, di sabar-sabarin. Bukan dia!" Bima malah terkekeh mendengar aduan Rilosaline.
"Sesalah apa dia di mata orang, di mataku dia tetap benar!" Galuh menjulurkan lidahnya dan beralih duduk di pangkuan Bima.