
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, bayi yang baru pertama keluar rumah pun merasa tidak nyaman. Bayi berumur satu Minggu itu terus menangis.
"Haus mungkin, coba kasi asi dulu sayang." Bima juga panik mendengar putranya menangis seperti itu.
"Tapi sayang, aku lupa bawa tudung menyusui. Gimana dong? mana rumah sakitnya sudah Deket." karena sudah mepet sekali waktunya, Galuh pun melupakan apa yang harus ia bawa.
"Astaga, sayang. Ya sudah pakai jas aku saja." Bima segera membuka jas hitam yang ia kenakan.
"Sayang, jangan. Nanti kamu kan masih kerja lagi."
"Aku lebih baik tidak menggunakan jas dari pada harus berbagi dengan orang lain selain putraku."
Mendengar apa yang di katakan sang suami, Galuh tak bisa beralasan lagi. Selain itu, Galuh juga merasakan posesifnya sang suami.
Setibanya ke rumah sakit, Bima langsung menuju ruang dokter kandungan. Selama imunisasi, Galuh ke ruangan lain untuk memeriksakan luka sesarnya.
__ADS_1
Bayi kecil yang bernama Dewangga Fedrik ini yang tadinya tidur manjadi menangis. Bima terlihat tidak panik sama sekali, dia tampak sudah biasa dengan tangisan bayi.
Yang membuat Bima sedikit khawatir adalah jarum yang masih menancap di lengan kiri putranya. Pasti dia kesakitan, walau hanya sepersekian detik. Tetap saja akan terasa sakit untuk bayi berumur satu Minggu itu.
"Bayinya ada kemungkinan demam, nanti malam pak. Jadi, tolong bantu sang ibu menjaganya." Pesan dokter ini membuat Bima sedikit terkejut.
"Apa akan rewel?" tanya Bima yang sedikit khawatir.
"Tergantung anaknya juga sih, pak. Hanya saja, sayang berpesan untuk membantu sang ibu. Saya melihat, ibunya juga masih sangat muda. Takut kalau nanti ibunya yang masih berusia belia ini terlalu panik dan mengakibatkan adanya depresi. Itu juga sangat berbahaya, ini di sebut sindrom baby blues." jelas dokter pada Bima.
Bima mulai mencari tau apa itu baby blues, sebahaya apa untuk istrinya. Bima juga mulai mencari tau apa saja gejalanya.
Galuh tidak boleh sakit, Galuh juga tidak boleh menderita. Galuh hanya boleh bahagia hidup bersamanya, Galuh juga hanya boleh merasakan indahnya hidup.
"Bima, Kenapa bengong?" Galuh segera bergelayutan di lengan kekar Bima yang tengah menggendong putranya.
__ADS_1
"Awas, dong sayang." dengan menggunakan satu tangannya, Bima meraih Galuh yang hendak menjatuhkan dirinya.
"Maaf, habisnya kamu bengong sih. Mikir apa?" tanya Galuh mengambil alih putranya.
"Tidak ada, aku mencarimu tapi tidak ketemu. Mana... istriku yang kecil ini." goda Bima.
"Kamu ini bisa aja ngelesnya. Oh iya, aku mau makan enak dong, di restoran mewah yang di dirikan oleh suamiku sendiri." Galuh selalu mengatakan warung yang sudah menyerupai cafe itu adalah restoran mewah.
"Kamu bisa saja, ya sudah ayo. Nanti aku sendiri yang akan masak buat kamu."
"Nggak mau, biar di masakin sama karyawan kamu. Percuma dong aku minta makan di luar, kalau yang masak tetap kamu. Di rumah, sudah makan masakan kamu, masa iya aku makan masakan kamu di restoran mewah juga? Aku mau makan dan menunggu cuma di dekat kamu. Jangan meninggalkan aku sedetik pun." Rengek Galuh yang membuat Bima semakin gemas padanya.
"Hahahaha baiklah, kali ini aku biarkan orang lain mencoba mengenyangkan perutmu. Tapi, kalau misalnya rasanya tidak enak, bilang ke aku. Aku sendiri yang akan turun tangan buat masak khusus untukmu." kata Bima memanjakan Galuh.
"Hahaha, iya sayang. Kamu kok semakin posisef begini sih? Kan makin cinta, akunya." Galuh masih terus bergelayutan di lengan suaminya dengan bayi di gendongannya.
__ADS_1
"Itu tujuanku."