Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
MELEPASKAN BERLIAN


__ADS_3

"Ane, ini benar Ane kan? ya Alloh nak, sudah berapa lama kita tidak ketemu? ucap mama Tegar menghampiri Ane


"Tante, Om" Ane menyalami orang tua Tegar


"Cantik sekali kamu nak, kamu kerja disini?" tanya mama Saka


"Iya tante, Ane kerja disini dan kebetulan semalam Ane yang bantu proses persalinan Istrinya Tegar"


"Huh.. istri, istri apa Ne, itu karena Tegar terlalu bodoh. menyia-nyiakan wanita secantik dan sebaik kamu. oya bagaimana kedatangan kamu sekarang?"


"Alhamdulillah baik tante, sekarang Ane juga sudah memiliki seorang putra"


"Oya? huft .. sayang sekali kalian tidak berjodoh. padahal tante sangat menyayangi kamu dan sangat berharap kamu jadi menantu tante. tapi siapa sangka anak tante yang bodoh ini malah menyia-nyiakan kamu. mengingat perjalanan cinta kalian dulu, tante benar-benar tidak menyangka Tegar akan berbuat seperti itu."


"Sudahlah ma, semua sudah terjadi dan ingat tujuan kita kisini untuk apa? kita mau menjenguk cucu kita. maaf ya Ane. tante masih terbawa suasana." ucap papa Tegar


"Baru mau dipastikan, belum tentu juga cucu kita" mama Tegar melirik suaminya dengan tatapan sinis


Ane tersenyum


"Iya, tidak apa-apa om. Ane mengerti, karena memang banyak yang berharap dengan hubungan kami. tapi manusia hanya bisa berencana Alloh yang menentukan. dan memang kami tidak ditakdirkan berjodoh" ucap Ane


"Kamu memang wanita yang sangat manis Ane." mama Tegar senyum memandangi Ane. membuat Tegar semakin merasa bersalah


"Bagaimana suami kamu? apa dia memperlakukan kamu dengan baik?" tanya mama Tegar


"Alhamdulillah suami Ane memperlakukan Ane dengan sangat baik."


"Alhamdulillah tante ikut senang dengarnya, kami beruntung dan kamu pantas mendapatkannya karena kamu memang anak yang baik. kamu pantas mendapatkan suami yang baik, tidak seperti anak yang bodoh ini" melirik Tegar


"Sudah-sudah ayo kita masuk kamar Dela dulu" ajak papa Tegar


***


"Kalian kesini juga, aku kira kalian tidak akan kesini" ucap Dela


"Hati-hati kalau bicara sama orang tua Dela, jaga sopan santunmu" ucap Tegar terlihat tidak suka dengan Dela


"Orang tua seperti apa dulu? orang tua yang masih halu dengan masa lalu dan selalu membandingkan dengan mantan pacar anaknya?"


"Cukup Dela! hentikan ocehan kamu, kami kesini bukan untuk cari ribut kami kesini hanya untuk membuktikan anak yang kamu lahirkan benar anakku" ucap Tegar

__ADS_1


"Silahkan buktikan sepuas kamu, kamu pikir aku takut" tantang Dela


Ane merasa perihatin dengan kehidupan Tegar yang sekarang, Tegar yang dulu sangat baik, pintar dan dikagumi banyak wanita sewaktu SMA. sekarang malah menjadi seperti ini. terlihat wanita yang dinikahinya juga bukan wanita baik-baik.


***


Ane melihat Tegar duduk termenung ditaman rumah sakit


"Tegar sebaiknya kami temani anak dan istri kamu, bukan malah disini" ucap Ane yang bersiap mau pulang


"Ane, terimakasih ya. kamu masih mau menegurku." Tegar senyum


"Kamu masih memikirkan tentang anak kamu, kalau saranku seperti apapun hasilnya sebaiknya kamu pikir dulu keputusan kamu buat berpisah. pernikahan itu bukan suatu maian dan Alloh membenci perceraian."


"Seperti yang kamu lihat sendiri, bagaimana Dela dan mama tidak pernah akur, bagaimana bisa aku melanjutkan pernikahan ini. aku sendiri juga tidak benar-benar mencintainya. mama benar aku memang bodoh." Ucap Tegar


"Yang terjadi sudah terjadi, jadikan semua ini pembelajaran buat dirimu kedepannya. Tegar kita dulu sahabat, kita juga pernah dekat. sebagai sahabat yang pernah dekat denganmu tentu aku berharap yang terbaik untukmu. pikirkanlah om dan tante! dengan kamu yang seperti ini pasti akan membuat mereka sedih dan kepikiran kamu terus."ucap Ane


"Iya Ane, walaupun bukan aku tapi aku ikut bahagia kamu bertemu dengan laki-laki yang baik. kamu memang pantas mendapatkannya" ucap Tegar


"Ya sudah aku pulang dulu ya! Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam"


Tapi kini semua hanya penyesalan, Ane sudah bahagia dengan pasangannya


"Tegar" panggilan papa tegar membayangkan lamunannya


"Iya pa, sebaiknya kamu Adzani dulu anak kamu. walaupun belum pasti dia anak kamu atau bukan. tapi sebaiknya kamu adzani dulu."


"Baik pa, dan coba kamu perbaiki hubungan kamu dengan Dela. siapa tau dia bisa berubah."


"Pa, Tegar rasa sulit untuk dela berubah pa. karena dia terbiasa dengan dunia malam dan dunia hura-hura. tidak mungkin Tegar melanjutkan hubungan ini pa!"


"Ya sudah, kalau itu keputusan kamu. tapi ingat ya. jadikan ini pembelajaran. jangan asal mengenal wanita lagi"


"Iya pa, maafkan Tegar"


***


Sementara dirumah Ane menceritakan pertemuannya dengan Tegar

__ADS_1


"Dia masih suka ya sama kamu" tanya Arif


"Ya mana Ane tau Bang, Ane kasian bang sama Tegar. sepertinya hidup Tegar sekarang berantakan. dia harus menikahi wanita penghibur dan sepertinya tidak menghargai orang Tegar sama sekali"


"Itu dampak dari perbuatannya sendiri sayang, apa yang ditanam itu yang dituai. Tegar telah memilih jalan hidupnya seperti itu. bergaul dengan orang-orang yang salah sehingga dia terperangkap dalam pergaulannya sendiri."


"Menyia-nyiakan orang yang baik demi mendapatkan wanita seperti itu."


"Ane, mama masuk ya ini Amar sepertinya haus" Ucap bu Imah


"Ya ma, sini anak bunda. ikut bunda ya" Ane menggendong Amar


"Sepertinya dia haus sebaiknya kalau kamu dirumah langsung susui kamu saja, kecuali kalau kamu pas kerja pakek dot gak papa" nasehat buat imah


"Iya ma, biar Ane susui Amar" jawab Ane


Setelah Amar selesai nyusu, kini sudah tertidur dengan lelapnya. dipandangi nya wajah tampan putranya


"Bunda bersyukur punya kamu sayang, terimakasih telah hadir didalam hidup bunda." bisik Ane pada putranya


"Kalian menyempurnakan hidupku, saat seharian abang bekerja dikantor, terkadang rasa capek menghampiri tapi begitu sampai Rumah disambut dengan canda tawa kalian rasa capek itu seketika hilang" ucap Arif


Dret.. dret...


"Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam, ada apa Vik?" tanya Arif


"Sepertinya malam ini kita harus segera kekantor. orang yang kita targetkan kabarnya malam ini akan beraksi"


"Oke-oke aku kekantor sekarang" ucap Arif menutup telpon


"Ada apa bang?" tanya Ane


"Nanti abang jelaskan. tapi sekarang Abang harus kembali kekantor dulu ya"ucap Arif terburu-buru


sebagai istri polisi tentu saja hal seperti ini sudah biasa bagi Ane. tidak hanya siang hati, tengah malam pun saat dibutuhkan Arif akan segera berangkat.


Arif mengambil hapenya kembali menghubungi Viko


"Vik, apa yang lain sudah 86(siap)" tanya Arif

__ADS_1


"Semua sudah menuju mako untuk melakukan persiapan. nanti sepertinya akan ada penambahan personil. mengingat orang yang saat ini kita hadapi bukan orang sembarangan" ucap Viko


__ADS_2