Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
RASA YANG MULAI BERSEMI


__ADS_3

Dikantor


"Rif, Vik kalian belum pulang? aku duluan ya" ucap Nina yang terlihat buru - buru pulang


"Sekarang sepertinya udah makin gak betah aja dikantor? mau nya cepet - cepet pulang" goda Viko


"Bukan seperti itu, tapi emang sudah tidak ada lagi pekerjaan. sudah selesai semua. semua kasus berkas - berkasnya sudah dinaikan ke kejaksaan dan udah P21. tinggal disidangkan saja. tapi masih ada satu berkas yang P19 (Pengembalian berkas perkara untuk dilengkapi) " ucap Nina


"Berkas siapa yang P19?" tanya Arif


"Sepertinya berkas yang berkaitan dengan kasusnya Tito, Remaja yang tertangkap tempo hari, sepertinya anak pejabat. menurut jaksa penuntut buktinya kurang kuat" ucap Nina


"Okay, kita harus hati - hati dalam kasus ini, dan kita harus mencari bukti dukung yang lebih kuat. jika bukti kemarin dianggap lemah oleh jaksa penyidik" ucap Arif


"Ya sudah aku pulang duluan ya" Nina pamit dan bergegas pulang kerumah.


Dirumah, Nina segera berganti pakaian dengan pakaian rumahan. menuju dapur, membuka kulkas dan melihat bahan - bahan makanan sembari berpikir masak apa dengan bahan - bahan yang ada.


Hari ini Nina seolah ingin menjadi istri yang baik dengan masak dan menunggu suami pulang kerja.


Nina yang sebelumnya bisa dikatakan hampir tidak pernah menyentuh dapur sedikit kewalahan dan terlihat sekali bingung saat akan menggoreng ikan.


"Aawww" teriak Nina saat memasukan ikan kedalam wajan yang sudah mulai panas dan percikan minyak mengenai tangannya


"Nina" ucap Gilang dan berlari menuju dapur, mengecilkan api nya karena minyaknya mengeluarkan percikan - percikan yang cukup banyak


Gilang memapah Nina dan membuka kran air, menyiramkan tangannya dengan air dibawah kran. Gilang mengusapnya lembut. kedua mata mereka saling bertemu hingga membuat suasana samakin canggung.


"Apa yang kamu lakukan didapur?" ucap Gilang memecah kecanggungan


"Em, itu, aku mau belajar masak" ucap Nina


"Lain kali tidak usah, lihat! kamu melukai tangan kamu seperti ini" ucap Gilang


Gilang segera memakai celemek, menggantikan Nina memasak. Gilang memang pandai dalam hal memasak.


"Maaf ya, jadi merepotkan kamu" ucap Nina yang masih berdiri didapur


"Kamu ini bicara apa, sudah biar aku saja yang masak. kamu bisa istirahat dulu" ucap Gilang


"Tapi kamu pasti juga capek kan baru pulang kantor" ucap Nina


"Tidak kok, aku tidak capek. udah sana kamu istirahat. nanti kembali lagi kalau sudah mateng." ucap Gilang yang masih menyibukan diri dengan bahan - bahan yang sudah disiapkan Nina


Bukannya pergi, tapi Nina duduk disitu melihat suaminya memasak


"Kenapa masih disini?" tanya Gilang


"Aku mau disini saja melihat kamu masak" Nina tersipu malu

__ADS_1


Pun dengan Gilang yang merasa aneh dengan perubahan sikap istrinya. biasanya Nina yang selalu dingin terhadap dirinya kini sepertinya sudah mulai bersikap hangat.


"Ya Alloh lembutkan lah hati istriku" Doa itulah yang selalu dipanjatkan Gilang setiap kali dirinya selesai sholat dan berdoa


Gilang tersenyum dan merasa ada kesejukan dihatinya melihat perubahan sikap Nina.


"Lang, terimaksih ya" ucap Nina senyum


"Terimakasih? terimakasih untuk apa?" tanya Gilang membulatkan matanya


"Terimakasih sudah dengan sabar menghadapi aku dan bersabar menungguku" ucap Nina


Mendengar ucapan yang keluar dari mulut istrinya. Gilang menghentikan kegiatannya mendekat dan mentap mata Nina


"Kamu istriku, dunia akhirat kamu tanggung jawabku" ucapan Gilang yang cukup membuat hati Nina seakan tersiram air es yang begitu adem dan menyejukan.


Setelah mengatakan itu, Gilang kembali melanjutkan kegiatan memasaknya masih menggunakan kemeja yang rapi tentunya karena baru pulang kerja.


"Kalau dipikir - pikir ternyata Gilang ganteng juga ya, secara umur mungkin masih muda tapi cara berpikirnya cukup dewasa" batin Nina memperhatikan Gilang yang sedang memasak tampak jelas tersungging senyum yang begitu manis


Tanpa tersadar Nina pun ikut tersenyum manis membalas senyum Gilang


"Ya ampun, ada apa denganku? kenapa pikiranku seperti ini?" gumam Nina lirih tapi terdengar samar di pendengaran Gilang


"Ada apa Nin?" tanya Gilang mentap Nina


"Eh, anu, tidak, tidak kok tidak. tidak apa - apa. kamu lanjut aja, aku kekamar dulu ya." ucap Nina terbata - bata lantara gugup


"Sebenarnya aku ini kenapa sih" gumam Nina menyentuh Pipinya yang mungkin sekarang sudah seperti udang rebus karena malu.


***


Dirumah Arif


Ane yang sedang bersandar pada sandaran kasur dikamarnya mengulus - elus perutnya yang sudah terlihat besar. tubuh Ane pun semakin terlihat berisi membuatnya kadang merasa tidak percaya diri


"Bang, aku gendutan ya sekarang" tanya Ane


"Iya" jawab Arif polos


"Jadi Ane gendut meksud Abang? hiks..hiks.."ucap Ane menangis


"Lho kok malah nangis? cup..cup..jangan nangis ya, tidak gendut kok, tidak gendut hanya berisi saja" goda Arif


"Tu kan? masih ngeledek lagi, Ane beneran gendut ya pasti?' ucap Ane memanyunkan bibirnya


"Tidak kok, tidak gendut." ucap Arif lagi


"Bohong lagi kan? mana mungkin tidak gendut badan segede ini" ucap Ane ngambek

__ADS_1


"Haduh..kok jadi serba salah gini sih, dijawab gendut salah, di jawab tidak semakin salah lagi. terus Abang jawab apa" ucap Arif menggaruk - garuk kepalanya yang tidak gatal


Melihat suaminya Ane malah tertawa


"Hahaha...Abang lucu" ucap An


"Iya Abang lucu" ucap Arif


"Kok malah ikut - ikutan bilang gitu?" Ane menetap geli suaminya


"Iya aja pokonya takut salah lagi Abang" ucap Arif


"Ane cantik gak Bang?" tanya Ane


"Cantik" jawab Arif singkat


"Kelihatan banget gak iklas nya" Ane kembali memanyunkan bibirnya


"Cantik Ane, Ane cantik banget" ucap Arif lagi


"Bohong, badan udah pada bengkak gini dibilang cantik. pasti cuma pura - pura aja kan biar Ane senang" ucap Ane


"Abang jawab apa ya ini? Arif menggaruk - garuk kembali kepalanya yang tidak gatal


"Ya Abang jawab jujur" ucap Ane


"Abang udah jujur Ane, Ane cantik. mau Ane kurus, mau ane gendut dimata Abang Ane yang paling cantik." ucap Arif


"Beneran?" tanya Ane manja


"Beneran Ane" jawab Arif singkat


Ane yang merasa senang memeluk tubuh suaminya erat.


"Love you" ucap Ane


"Love you more" jawab Arif


Arif yang bahagia memiliki istri seperti Ane, biarpun selisih usia diantara mereka terpaut jauh tapi tidak menjadi penghalang bagi keduanya untuk saling memahami. Arif yang lebih bisa ngemong Ane dan Ane yang juga berusaha memahami tugas dan kewajibannya sebagi seorang istri Polisi.


Bersyukur nya juga kerena mereka masih satu rumah dengan Bu Imah mertua Ane yang selalu memberi Arahan, dalam berumah tangga. Ane yang sudah dianggap sebagi anak sendiri tentu saja merasa senang tinggal satu rumah dengan mertua. karena dari Bu Imah Ane bisa belajar banyak hal tentang bagaimana menjadi istri yang baik.


Like


Coment


Add Favorit


Rating bintang Lima

__ADS_1


Vote jika ada ya


Terimasudah


__ADS_2