Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
KEPERGIAN SASA


__ADS_3

Dokter dan perawat keluar dari ruang operasi membuka maskernya, dengan tergesa-gesa Saka mendekat dan menanyakan keadaan Sasa adiknya. untuk sesaat Dokter dan perawat masih terdiam tampak ketegangan di raut wajah Dokter dan perawat yang baru saja melakukan operasi sesar pada adiknya.


Saka mulai menerka-nerka dengan pemikirannya sendiri dan menggelengkan Kepala.


"Tidak terjadi apa-apa kan Dok? tolong katakan tidak terjadi apa-apa kan Dok?" Saka cemas


"Maafkan kami pak Saka" ucap Dokter


"Maaf? apa maksudnya?" Saka menggelengkan kepala


"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun Tuhan berkehendak lain."


"Apa maksud Dokter? apa maksud Dokter" Teriak Saka histeris


Nia yang mengetahui segera menenangkan Saka


"Istighfar Saka, Istighfar. relakan Sasa, jangan seperti ini. Sedih boleh tapi jangan meratapi seseorang yang sudah tiada. itu akan memberatkan jalannya. kasian Sasa kalau kamu seperti ini" ucap Nia


Saka memegangi kepalanya dan menangis bersimpuh dilantai.


"Inalilahi wa Inalilahi rojiun" ucap Saka lirih


"Kamu yang sabar Saka, tenangkan diri kamu. Alloh lebih menyayangi Sasa. biarkan Sasa pergi dengan tenang" ucap Nia


"Sasa.. Sasa... maafkan kakak Sasa, maafkan kakak" teriak Saka


"Jangan pergi Sa, jangan tinggalkan kakak."


"Saka, sebaiknya kamu adzani anak Sasa." ucap Nia memberikan anak Sasa


Saka menatap bayi yang menangis digendongan Nia. bayi mungil yang begitu tampan dan putih.


Saka mengambil bayi mungil itu dari gendongan Nia, dengan gemetar Saka mengadzani bayi itu. bayi yang tak sempat melihat orang taunya saat terlahir didunia ini.


Selesai mengadzani, Saka memeluk dan mencium kening bayi itu membawanya mendekat pada Sasa ibunya.


"Sasa, ini anakmu dek. anak yang seharusnya mendapatkan asi darimu. tapi kamu malah pergi sebelum sempat memberinya asi. Sasa maafkan kakak ya dek, maafkan kakak. pergilah dengan tenang dek, kakak janji kakak akan merawat anak ini dengan baik. kakak akan menyayangi anakmu seperti anak kakak sendiri. kamu tidak perlu khawatir! istirahat dengan tenang adikku." tangis Saka pecah


"Sayang, sekarang kamu anak ayah Saka. ayah akan menyayangimu dan memastikan, kamu tidak akan kekurangan kasih sayang." Saka mencium kening bayi itu.


Para Dokter dan bidan yang melihat kejadian itu tak kuasa ikut menahan kesedihan. membayangkan bayi sekecil itu sudah harus terpisah dengan ibu kandungnya.


Saka menghubungi Tika tentang kabar duka tersebut.

__ADS_1


"Inalilahi wa Inalilahi rojiun" air mata Tika seketika menetes


"Ada apa? siapa yang meninggal?" ucap Bu Risma yang baru keluar kamar


Tika datang mendekat dan memeluk mertuanya


"Ma.. Sasa ma, Sasa.. " tangis Tika


"Sasa kenapa? jangan bilang kalau Sa.. mungkinkah benar itu Sa.. sa?" Bu Risma menganga menggelengkan kepala.


"Iya ma, iya itu Sasa" tangis Tika


"Ante.. ante kenapa?" Almira mendekat


"Sayang, tante tidak apa-apa" Tika memeluk Almira


"Tidak, kamu bohong Tika, kamu bohong, pasti bohong kan? Sasa tidak mungkin meninggal, Sasa tidak mungkin meninggal. Sasa tidak mungkin. ., kamu bohong, kamu bohong Tika. kamu bohong.." teriak bu Risma histeris


Almira yang ketakutan ikut menangis melihat mama dan neneknya menangis


"Ma, Ikhlaskan Sasa ma, dan maafkan Sasa ma. biarkan Sasa pergi dengan tenang"


"Apa maksud kamu? Sasa pasti baik-baik saja, tidak mungkin Sasa meninggal, tidak mungkin" teriak bu Risma


Tak lama setelah mengurus administrasi Saka membawa pulang jenazah adiknya. didalam sebuah ambulan Saka menemani Sasa adik kesayangannya yang kini sudah pergi untuk selamanya. Saka mencium dan memeluk anak Sasa


Sesampainya jenazah Sasa dirumah, semua warga dan saudara sudah hadir menyambut kedatangan jenazah untuk diurus agar bisa segera dimakamkan. namun Bu Risma tak terlihat di rumah duka tersebut


"Sayang mama di mana?" tanya Saka


"Mama ada dikamar Sasa mas, sepertinya mama terpukul mendengar berita kepergian Sasa"


"Biar mas yang bicara sama mama"


Saka menuju kamar Sasa dan menggendong bayi mungil Sasa


"Ma.. " Saka mendekati Mamanya yang sedang memandangi foto Sasa disamping ranjang Sasa.


"Jangan katakan apa-apa tentang Sasa. mama tidak mau mendengarnya" ucap Bu Risma tanpa melihat Saka, pandangan matanya hanya tertuju pada foto Sasa yang sedang dipegangnya


"Ma, Maafkanlah Sasa. apapun kesalahan yang pernah Sasa lakukan. maafkanlah ma. bukalah pintu maaf mama untuk Sasa. kasian Sasa ma, biarkan Sasa pergi dengan tenang"


"Mama sudah memaafkan anak bodoh itu" air mata bu Risma menetes kembali difoto Sasa

__ADS_1


"Lihatlah ma, ini anak Sasa, cucu mama" Saka mendekat duduk disamping mamanya


"Jadi dia yang membuat Sasa anakku meninggal?" ucap Bu Risma melihat anak Sasa


"Astaghfirullah ma, jangan seperti ini. kasian Sasa ma, dia akan sedih jika tau mama bicara seperti ini pada anaknya. ini anak Sasa, cucu mama dan sekarang kita yang akan menjaga anak malang ini ma"


"Mama tidak mau melihat anak itu disini, karena anak itu mama kehilangan anak mama"


"Ma, tolong jangan seperti ini. ya sudah ma. kita bahas ini nanti setelah pemakaman Sasa selesai. sekarang mama ikut Saka keluar ya. kita antarkan Sasa ke pemakaman untuk yang terakhir kalinya."


"Mama tidak mau, mama tidak mau"


"Jangan sampai mama menyesalinya. ini kesempatan terakhir mama bisa melihat Sasa. setelah ini kita semua sudah tidak bisa lagi melihat Sasa" Saka yang merasa gagal membujuk mamanya pergi meninggalkan mama nya sendiri dan meminta Tika untuk mengurus anak Sasa. sementara Saka mengurus keberangkatan jenazah Sasa ke pemakaman.


Saat jenazah hendak diberangkatkan, bu Risma lari dari kamar dan mencoba mencegah keberangkatan jenazah


"Jangan bawa anakku, jangan bawa anakku. dia tidak mati, dia tidak mati. anak bodoh bangun, bangun. maafkan mama, maafkan mama nak. bangun nak, bangun" tangis bu Risma histeris


"Ma sudah ma, sudah. jangan seperti ini! kasian Sasa ma. sudah ya ma" Saka berusaha menahan dan memeluk mamanya


"Tidak Saka, adikmu tidak mati. dia itu anak bodoh. pasti dia tertidur. bangunkan adikmu Ka, bangunkan adikmu" Ucap Bu Risma menarik-narik baju Saka


Saka memeluk mamanya erat tangisnya pun kini pecah.


"Sasa bangun nak, mama akan memaafkan kamu jika kamu mau bangun. mama janji, mama akan memaafkan kamu. tapi tolong bangun nak, bangun" ucap Bu Risma pada keranda yang mengangkut jenazah Sasa


"Pak Saka bagaimana ini?" tanya warga yang hendak mengangkat keranda


Saka mengangguk mengisyaratkan untuk mengangkat keranda dan Saka memegangi mamanya dengan kuat


Jenazah diangkat untuk dibawa ke pemakaman.


"Tidak.. tidak... jangan bawa anakku, jangan bawa anakku" teriak bu Risma memberontak dari pelukan Saka, kembali Saka memeluk bu Risma dengan erat.


"Sasa... Sasa... " gumam bu Risma badannya terasa lunglai dan terduduk dilantai


"Ma, sabar ya ma. kita ikhlasin Sasa" ucap Saka


Saka membujuk mamanya untuk ikut ke pemakaman. mengantarkan kepergian Sasa untuk yang terakir kalinya.


Dengan susah payah Saka berhasil membujuk bu Risma.


"Kasihan sekali ya Sasa, kabarnya dia hamil diluar nikah. cowoknya pergi meninggalkan Sasa waktu tau Sasa hamil" gosip tetangga di pemakaman Sasa

__ADS_1


^Happy Reading^


Terimakasih atas dukungan berupa like, komen dan votenya ya🥰😘


__ADS_2