
Dikantor Nina yang biasanya selalu mencuri pandang dengan Arif dan diam - diam mengamati dari jauh sekarang sudah tidak lagi merasakan getaran yang biasanya dirasakan
"Hai Rif, hai Vik" ucap Nina ceria
"Tumben pagi - pagi udah ceria banget" ucap Viko yang heran melihat tingkah Nina pasalnya sejak dirinya menikah hampir tidak pernah lagi tersenyum apa lagi menyapa seperti itu.
"Iya kah? perasaan biasa saja kok" Nina senyum
"Gitu dong yang semangat" ucap Viko
"Oya Rif untuk berkas - berkas terkait kasus Norma. siang ini kalau bisa semua sudah harus lengkap. Minggu depan kasusnya akan disidangkan?" ucap Nina
"Untuk semua kelengkapan dokumen, semua nya sudah diserahkan dikejaksaan dan sudah P21(hasil penyidikan perkara pidana sudah lengkap)" jawab Arif
"Coba nanti aku koordinasi lagi sama kejaksaan ya, soalnya kemarin kok Pak Rudi dari kejaksaan menanyakan berkas dan bukti terkait penyidikan Norma" ucap Nina
"Oke coba ditanyakan kembali soalnya saya sendiri yang menyerahkan semua berkas dan bukti penyidikan ke Pak Herman orang kejaksaan. Saat ini yang saya pegang cuma salinannya saja." ucap Arif
Nina mengambil hape nya dan menghubungi Pak Rudi
"Assalamualikum saya Nina, mau menanyakan terkait Berkas - berkas dan barang bukti ibu Norma yang kasusnya sudah kali limpahkan dikejaksaan." ucap Nina
"Walaikumsalam, Maaf Bu Nina, kesalahan saya ternyata sudah diserahkan dimeja saya. ini sudah kami pelajari berkas - berkasnya" ucap Pak Rudi
"Baik pak terimakasih" jawab Nina menutup telphone
"Ternyata kelalaian Pak Rudi, semua kesiapan persidangan perkara benar sudah P21." ucap Nina
"Kamu pasti kepikiran kasus Norma ya Rif?" tanya Nina
"Kasian mungkin lebih tepatnya. kalau kepikiran tidak" jawab Nina
"Bukankah dia Norma?" ucap Nina Ragu
"Iya, dia pernah menjadi bagian dari cerita hidupku tapi. tapi itu masa lalu yang bagi saya sudah tidak perlu lagi dibawa ke masa sekarang karena masa sekarang dan masa depan cukup diisi oleh istriku" jawab Arif
"Kenapa laki - laki bisa dengan mudah melupakan orang yang pernah ada didalam hatinya" ucap Nina yang dirinya saja tidak mudah untuk sepenuhnya melupakn Arif walaupun akhirnya sekarang sudah mulai bisa melupakan walaupun belum sepenuhnya.
"Kata siapa mudah? butuh waktu cukup lama buatku melupakan Norma. tapi hidup juga harus realistis. ketika Alloh tidak mentakdirkanmu berjodoh dengan orang itu dan Alloh mengirim orang lain untuk menjadi jodohmu. ya sudah. terima takdir itu yakini saja ketepan Alloh adalah yang terbaik. kita mungkin bisa salah tapi Alloh tidak. yakini saja ketepan Alloh yang terbaik" ucap Arif yang juga berharap Nina bisa melupakan dirinya dan sepeuhnya mencintai suaminya.
__ADS_1
"Tapi apa yang kami katakan ini sepertinya memang benar Rif" ucap Nina
"Wah sepertinya ada yang sudah move on ini" goda Viko
"Iya lah Vik, setelah cukup lama menjadi istri Gilang. aku baru sadar Gilang juga gak kalah baik dari Arif" ucap Nina senyum dan ketiga sahabat ini pun tertawa
"Wkwkwkw" suara tawa ketiga sahabat yang sempat canggung karena perasaan bertepuk sebelah tangan. tapi kini suasana sudah kembali mencair.
*Flashback *
Sepulang nya dari kantor Nina yang merasa demam, kepalanya pusing, matanya berkunang - kunang menjatuhkan tubuhnya di ranjang tanpa berganti pakaian langsung tidur masih dengan menggunakan sragam nya.
Gilang yang saat itu pulang malam karena akhir tahun dimana setiap akhir tahun pasti akan sibuk dan lembur sampai malam karena istilahnya harus tutup buku.
Sesampainya dirumah Gilang yang hubungan pernikahannya dengan Nina tidak begitu baik merasa aneh melihat Nina yang tidur tanpa berganti pakaian.
hanya saja saat itu Gilang masih berpikir mungkin Nina tertidur karena kecapekan.
Gilang mengabaikannya dan langsung mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian kareana Gilang sendiri merasa penat seharian bergelut dengan pekerjaannya.
Gilang yang hendak tidur merebahkan tubuhnya disamping Nina tanpa sengaja tangannya menyentuh tangan Nina yang panas.
"Ya Alloh, kamu demam Nina. badanmu panas sekali" ucap Gilang panik
"Nin, kamu dengar aku?" tanya Gilang yang kawatir karena sedari tadi Nina tidak merespon.
"Emm" jawab Nina lirih seraya mengangguk dengan mata tertutup
Gilang segera bergegas keluar mencari obat penurun panas
"Nin, minum obat dulu yuk" Ucap Gilang membantu Nina untuk duduk dan minum obat nya
"Nin, sebaiknya kamu ganti baju dulu. ini aku sudah ambilkan baju kamu. kamu ganti ya. aku tunggu diluar" ucap Gilang
Nina yang merasa tubuhnya lemah, hanya diam tak merespon
"Nin" ucap Gilang tapi tak ada jawaban dari Nina
Melihat Nina yang sepertinya terlalu lemah, Gilang mencoba mengambil inisiatif untuk menggantikan baju istrinya.
__ADS_1
Dengan takut dan ragu - ragu Gilang memberanikan diri membuka kancing baju Nina satu demi satu dengan menutup matanya.
Walaupun secara hukum Nina adalah istri sahnya tapi Gilang tak lantas mengambil kesempatan disaat Nina sedang terbaring tak berdaya.
Dengan hati - hati Gilang melepas pakaian seragam Nina dan menggantikan dengan baju piyama nya.
Gilang dengan telaten merawat Nina yang sedang sakit, mengkopresnya dengan air hangat. memeriksa suhu tubuh Nina setiap jamnya karena kawatir. hingga Gilang yang sebenarnya juga penat tertidur disamping Nina
Keesokan harinya Nina yang merasa badannya sudah lebih baik perlahan membuka matanya, menyadarai ada kain dikepalanya Nina melihat arah meja disamping tempat tidurnya.
Dan benar saja ada baskom berisikan air yang semalam digunakan Gilang untuk merawatnya.
Tanpa disadari Nina tersenyum melihat Gilang yang masih tertidur disampingnya tapi menyadari bajunya yang sudah berganti tentu saja Nina seketika kaget.
"Aawww" teriak Nina memegangi dadanya
Arif yang panik mendengar teriakan Nina segara bangun dan melihat Nina
"Kamu kenapa? apa ada yang sakit?" Gilang panik tapi Nina malah memukul - mukul bahu Gilang
"Aaww, aaww" Gilang kesakitan
"Kamu apa - apainsih? bangun - bangun mukuli orang" gerutu Gilang memijat - mijat bahunya yang terasa sakit
"Kenapa bajuku bisa ganti? kamu apakan aku semalam?" ucap Nina
"Menurutmu? apa yang akan aku lakuakan pada wanita yang sedang sakit tak berdaya seperti kamu semalam?" ucap Gilang nyengir
"Kamu.." ucap Nina terputus
"Aku cuma kasian jadi aku gantiin baju kamu, tapi kamu tenang saja. aku tidak melihat apa - apa" terang Gilang
"Aku tidak percaya, mana mungkin kamu tidak melihat apa - apa" ucap Nina
"Kamu pikir aku laki - laki seperti apa? laki - laki yang dengan bangga memanfaatkn wanita tak berdaya? sorry kamu salah menilai aku" ucap Gilang kekamar mandi dan bersiap berangkat kerja
"Aawwww" teriak Nina mengacak - acak rambutnya merasa gila membayangkan Gilang membuka bajunya.
*Flashback off*
__ADS_1
Mohon dukungan dengan ,like, coment dan vote jika ada ya. terimakasih