
"Nia ini sepertinya sudah malam, aku antar kamu kemana ini?" tanya Dokter Sigit setelah selesai makan malam dengan Nia
"Em.. yang jelas tidak mungkin kerumah Dok, antar kerumah sakit saja. biar malam ini aku tidur dirumah sakit" ucap Nia didalam mobil
"Kamu yakin? apa teman-teman kamu tidak mempertanyakan kenapa kamu sering tidur dirumah sakit padahal tidak sedang piket?" Dokter Sigit menatap Nia sesaat dan kembali fokus pada Jalan
"Lalu kau bagaimana lagi Dok? aku kan gak mungkin pulang kerumah dijam seperti ini" ucap Nia
"Bagaimana kalau?" bagaimana kalau malam ini kamu tidur di apartemenku saja?"Dokter Sigit memberikan diri menawarkan untuk menginap ditempatnya.
"A-apartemen Dokter? ja-jadi maksud Dokter mau mengajak aku menginap di apartemen Dokter?" tanya Nia gelagapan
"Iya, itu pun kalau kamu tidak keberatan. aku tidak akan memaksa jika memang kamu tidak mau, ya sudah tidak apa-apa, aku akan mengantarmu kerumah sakit" ucap Dokter Sigit
"Emm... memang tidak apa-apa kalau aku menginap di tempat Dokter?" tanya Nia malu-malu
"Tentu saja tidak apa-apa, aku juga diapartemen sendiri kan?"
"Baiklah aku ikut Dokter" jawab Nia malu-malu "
Malam ini Nia akhirnya menginap di apartemen Dokter Sigit. Nia mengabaikan perasaan takutnya.
Ya sebenarnya ada perasaan takut. takut jika ada yang melihatnya berada di apartemen Dokter Sigit. tapi entah kenapa Nia mengabaikan semua itu. dirinya hanya menuruti perasaannya yang salah.
Malam ini hujan turun begitu lebat, suara petir menyambar-nyambar udah yang begitu dingin seakan menusuk ke dalam tulang.
Sampailah mereka berdua di sebuah apartemen elit milik Dokter Sigit yang selama ini hanya dihuni seorang diri.
Klek
Pintu apartemen terbuka
"Ayo masuk" ucap Dokter Sigit yang masuk lebih dulu dan melepaskan sepatunya didepan pintu menggantikannya dengan sepatu untuk dirumah.
"Oya kamu pakek sandal yang itu saja" Dokter Sigit menunjuk sandal disamping sepatunya
Nia pun mengganti sepatunya dengan sendal yang ditunjukkan Dokter Sigit.
Dengan ragu Nia mengekori Dokter Sigit. melihat sekeliling apartemen yang cukup luas, dan tertata dengan rapi. Ruangan yang didominasi dengan warna abu-abu dan putih ini terlihat begitu mewah.
"Duduk Nia" ucap Dokter Sigit
__ADS_1
Nia mendudukkan dirinya disofa yang cukup besar dan empuk.
"Dokter selama ini selalu sendirian disini?" Tanya Nia
"Menurut kamu?" tanya Dokter Sigit sambil membuka kulkas dan mengambil dua air mineral.
Dokter Sigit membukakan tutup botol air mineral dan memberikannya pada Nia.
"Terimakasih" Nia menerima dan meneguk air mineral.
Begitu juga dengan Dokter Sigit, yang meneguk air mineral dan duduk disamping Nia.
"Dari awal aku membeli apartemen ini, aku selalu disini sendiri. kamu wanita pertama yang masuk kedalam apartemenku ini?" Dokter Sigit menatap mata Nia dan tersenyum
"Benarkah?" Nia menatap mata Dokter Sigit hingga kedua mata mereka saling menatap.
"Apa kamu pikir aku berbohong sama kamu?" tanya Dokter Sigit
"Bukan begitu, tapi apa iya istri Dokter tidak penasaran dengan keadaan Dokter disini.dimana Dokter tinggal dan seperti apa kehidupan Dokter disini" tanya Nia
"Kalau istriku seperhatian itu sama aku, bagaimana mungkin saat ini aku berada disini sama kamu?" ucap Dokter Sigit membelai pipi Nia
"Jadi Dokter ini dekat sama saya karena kesepian? berarti saya cuma dijadikan pelarian dong dok" ucap Nia
"Berarti Dokter tidak memiliki perasaan untuk saya? hanya karena Dokter kesepian saja yang membuat Dokter saat ini bersama saya?" ucap Nia
"Lalu kamu maunya bagaimana? apa kamu mau aku mencintaimu? apa kamu tidak memikirkan kalau aku benar-benar mencintaimu dan menginginkanmu, bagaimana dengan suami dan anak kamu?"
"Kalau Dokter benar-benar mencintai aku, aku mau kok meninggalkan mereka untuk Dokter" ucap Nia
"Kamu serius? apa kamu benar-benar mencintaiku?" tanya Dokter Sigit mendekatkan wajahnya pada Nia, dekat dan semakin Dekat hingga jarak mereka hanya tinggal berjarak 2 cm.
Nia bisa dengan jelas merasakan hembusan nafas Dokter Sigit.
Hujan yang semakin deras dan suara gemuruh petir diluar sana seakan tidak dihiraukan oleh kedua insan yang sedang dimabuk asrama ini.
Dokter Sigit memegang kedua pipinya, mencium kening, mencium pipi kanannya, mencium pipi kirinya, mencium kedua matanya bergantian dan perlahan Dokter Sigit mencium bibir Nia dengan lembut. setelah cukup lama mereka berciuman Dokter Sigit perlahan membuka jilbab Nia dan melemparkannya ke sembarangan arah, Melepaskan kancing bajunya satu demi satu. kini tanpa disadari semua pakaian Nia terlempar dilantai begitu juga dengan Dokter Sigit yang sudah tidak mengenakan pakaian sehelai pun. ditengah guyuran hujan yang membasahi bumi, kedua insan yang sedang dimabuk cinta ini melakukan dosa terlarang.
***
Sementara Alan dirumah berusaha menenangkan Nana yang sejak tadi sore menangis, memanggil mamanya.
__ADS_1
"Alan coba kamu telpon istrimu. suruh dia pulang. anaknya menangis terus. kasian Nana menangis dari tadi sore" ucap Bu Indah
"Tapi Nia kan sedang bekerja ma, takutnya mengganggu pekerjaan Nia"
"Lan, Anak kalian lebih penting dari pada hanya sekedar pekerjaan"
"Ma, Nia itu seorang bidan. pekerjaannya juga penting. menyelamatkan jiwa ibu dan anak" ucap Alan
"Iya mama tau, tapi apa kamu tidak kasian melihat Nana dari sore menangis terus mencari mamanya?"
Setelah terdiam sejenak dan melihat Nana yang masih juga menangis, Alan mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi istrinya.
Setelah tiga kali mencoba menghubungi akhirnya Nia mengangkat panggilan dari suaminya.
"Assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam, ada apa mas?"
"Ini Nana nangis dari sore nanyain kamu terus. apa kamu bisa tolong ijin pulang" ucap Alan
"Ya Alloh mas, masak hanya karena anak nangis harus telpon aku dan memintaku pulang? apa iya gitu saja mas tidak bisa mengatasi?"
"Masalahnya Nana maunya sama kamu Nia"
"Ya dibujuk apa kek mas, lagian ini kan sudah malam juga, apa kamu gak mikir keselamatan aku dijalan malam-malam harus pulang?"
"Kalau kamu mau ijin pulang aku akan menjemputmu kerumah sakit"
"Apa? jemput kerumah sakit? tidak, tidak. aku banyak pasien yang tidak bisa ditinggal. udah aku tutup dulu telponnya. Assalamu'alaikum" ucap Nia menutup telpon
"Siapa? suami kamu menelpon?" ucap Dokter Sigit yang melihat Nia telpon dibalkon dan memeluk Nia dari belakang.
"Eh..Dokter, kapan ada disini?" Nia kaget
"Baru saja, ada apa malam-malam seperti ini suami kamu menelpon? apa ada masalah?"
"Tidak kok Dok, tidak ada apa-apa, hanya masalah biasalah tidak usah dipikirkan" ucap Nia membalik badan dan melingkarkan tangannya pada leher Dokter Sigit.
^Happy Reading^
Kenapa nulis bab ini rasanya Author ikut nyesek ya? kebangetan banget emang tu si Nia.
__ADS_1
Tapi tetep Author mau ingetin jangan lupa Like, Coment dan Vote nya ya🙏😍 dukungan kalian sangat berarti bagi Author