Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
MEMBUAT KECEWA


__ADS_3

"Sepertinya masalahnya memang harus segera diselesaikan. jika pembicaraan antara kalian tidak berhasil tidak ada salahnya meminta tolong pada orang tua, siapa tau jika orang tua yang menasehati Nia bisa berubah setidaknya biar Nia memikirkan Nana." ucap Ane


"Itulah kak, Nia sama sekali tidak perduli lagi dengan Nana. Ibaratnya Nana ini seperti tidak punya ibu, kalau tidak sibuk kerja. setiap dirumah pun Nia selalu saja main dengan hapenya. setiap aku ingin melihat hapenya dia bilang privasi dan itu hanya alasanku untuk memutar balikkan fakta. apa aku tidak stres kak, menghadapi istri yang seperti itu? aku ini tidak Ngapa-ngapain. kalaupun aku jarang dirumah itu hanya karena pekerjaan, bang Arif tau kok, tapi Nia seolah tidak mau tau alasan apapun yang aku berikan tetep saja dianggap salah"


"Aku harap kamu bisa sabar menghadapi cobaan rumah tangga yang saat ini kalian hadapi" ucap Ane


"Ane benar Lan, kamu harus bersabar. dan pesanku jangan percaya begitu saja. coba kamu cari tau sebenarnya Nia kenapa" ucap Arif yang seakan memiliki naluri kalau Nia ini sedang menyembunyikan sesuatu


"Apa maksud bang Arif?" Alan melihat Arif


"Tidak ada maksud Apa-apa, hanya saja, sebagai seorang suami kita kan harus mengetahui semua teman dan kegiatan istri kita. jangan sampai ada yang pasangan kita sembunyikan dan kita tidak tau" kilah Arif agar Alan Tidak curiga kalau Arif memiliki firasat kalau Nia sepertinya menyembunyikan sesuatu dari Alan. sebagai seorang Polisi naluri Arif mengatakan ada sesuatu yang tak wajar mendengar kesaksian dari Alan.


***


Dirumah Alan


"Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam, itu mama udah pulang" ucap Bu Indah menunjukkan pada Nana


"Nia cuma mau ganti baju sebentar ma. langsung mau berangkat kerumah sakit" ucap Nia berlalu kekamar


"Mama... mama.. " Panggil Nana tapi Nia tak merespon


Nia dengan cepet berganti baju dan pamit pergi lagi


"Nia kasian Nana coba dibujuk dulu, dari tadi nangis" ucap Bu Indah

__ADS_1


Nia menghampiri Nana yang sedang menangis


"Nana sayang, anak pintar gak boleh rewel ya sayang, mama kan harus kerja. Nana dirumah sama nenek dulu ya. anak pintar cup ya jangan nangis! mama pergi dulu" ucap Nia mencium kening dan pipi Nana dan segera pergi


"Astaghfirullah" gumam Bu Indah


Bu Indah menghubungi Alan dan memintanya pulang cepet jika pekerjaannya sudah selesai.


Sesampainya dirumah Alan melihat putrinya yang sedang tertidur, ditatapnya wajah putri kecilnya lekat. putri yang bisa dibilang kurang mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya, Alan sibuk begitu juga dengan Nia yang selalu bilang sibuk. hingga Nana hanya mendapat perhatian dari nenek dan kakeknya.


"Alan, Lihatlah Nana, dia tertidur bukan karena kecapean bermain tapi karena kecapean menangis" Bu indah menarik nafas dalam


"Kecapean menangis? memang ada apa ma? kenapa Nana menangis? apa Nana sakit?" Alan menyentuh kening Nana


"Nana tidak sakit, tapi Nana menangis karena merindukan mamanya. anak seusia Nana ini ingin bisa bermain dengan orang tuanya. tapi istri kamu selalu saja tidak mau bermain dengan anaknya sendiri. mama heran sama istrimu, dia mengeluh kamu selalu sibuk, tapi dia sendiri tidak ngaca. kalau dia sendiri juga sibuknya melebihi kamu. apa iya bidan di sini itu cuma dia? hingga dia sama sekali tidak punya waktu untuk putrinya sendiri? huh.. mama heran sama istri kamu" keluh Bu Indah


"Alan sebenarnya mama tidak ingin ikut campur tapi melihat istrimu semakin hari semakin tak terkendali, kok mama ini merasa Ada yang aneh. cobalah kamu cari tau, sebenarnya Nia itu bergaul dengan siapa hingga bisa merubahnya jadi seperti itu? maksud mama apa? kenapa bicara seperti itu? mama tidak sedang mencurigai Nia kan?" Alan melihat Bu indah


"Mama tidak mencurigai Nia, hanya saja mama takut Nia salah bergaul. sepertinya tidak masuk akal kalau dirumah sakit kok gak ada liburnya sama sekali. alasan istrimu terlalu tidak masuk akal"


"Ma, kebetulan dirumah sakit sedang kekurangan tenaga bidan. jadi wajar kalau Nia harus masuk bahkan disaat jam liburnya. Alan percaya dan yakin kalau Nia tidak akan berbuat hal yang kan merugikan dirinya sendiri" ucap Alan


"Ya sudah, mama cuma mengingatkan kalau kamu yakin dengan istrimu. mama bisa apa?" Bu Indah mengangkat bahunya dan pergi


***


"Mama kenapa terlihat kesal" tanya pak Sandi melihat bu Indah keluar dari kamar Alan dengan wajah ditekuk

__ADS_1


"Entahlah pa, mama bingung melihat rumah tangga anak kita, kenapa jadi seperti ini ya pa? dulu mereka terlihat saling mencintai, bahkan mama mengira cinta mereka itu tidak akan tergoyahkan. sekuat apapun dulu Mama mencoba memisahkan mereka seakan tidak mau lepas. tapi sekarang disaat mama sudah menerima hubungan mereka, papa lihat sendiri setiap hari mereka ribut."


"Huh.. apa yang mama katakan memang benar, kasian cucu kita Nana yang menjadi korban." pak Sandi menarik nafas dalam


"Apa sebaiknya kita bicara sama Nia ya pa?" Bu Indah menatap pak Sandi


"Mau bicara apa ma?"


"Kita minta Nia untuk berhenti bekerja, siapa tau kalau kita yang menyuruh Nia akan menurut. mama akan bilang kalau mama sudah tua dan sudah terlalu lelah untuk mengurus Nana sendiri"


"Sepertinya apa yang mama katakan masuk akal. ya sudah besok kita bicarakan ini sama Alan dan Nia. semoga saja dengan Nia tidak bekerja. dia bisa lebih perhatian sama Nana" ucap pak Sandi dan membetulkan kacamatanya.


Nia yang sebenarnya hari ini lepas dinas memilih untuk pergi bersama dengan Dokter Sigit. baginya sekarang Dokter Sigit adalah orang yang bisa membuatnya nyaman. selain bersama dengan orang yang satu profesi dirasa lebih bisa saling memahami. Nia juga menganggap Dokter Sigit ini adalah sosok yang dewasa yang bisa mengayomi dan memberikan kenyamanan untuk dirinya.


Dokter Sigit ini usianya sepuluh tahun lebih tua darinya. tapi wajahnya yang baby Face membuat Dokter Sigit terlihat lebih muda dari usianya. sikapnya yang kalem dengan pakaian kemeja yang selalu rapi dan stail rambut belah pinggir disisir rapi klimis membuat Nia jatuh hati.


***


"Nia seperti sudah malam, aku antar kamu kemana ini?" tanya Dokter Sigit setelah selesai makan malam dengan Nia


"Em.. yang jelas tidak mungkin kerumah Dok, antar kerumah sakit saja. biar malam ini aku tidur dirumah sakit" ucap Nia didalam mobil


"Kamu yakin? apa teman-teman kamu tidak mempertanyakan kenapa kamu sering tidur dirumah sakit padahal tidak sedang piket?" Dokter Sigit menatap Nia sesaat dan kembali fokus pada Jalan


"Lalu kau bagaimana lagi Dok? aku kan gak mungkin pulang kerumah dijam seperti ini" ucap Nia


"Bagaimana kalau?"

__ADS_1


^Happy Reading^


__ADS_2