
"Jahat kamu mas, aku sudah mengorbankan semua untuk kamu, tapi apa? apa yang kamu lakukan sekarang? tidak mas, aku tidak terima kamu perlakukan aku seperti ini" ucap Nia
"Sepertinya kamu wanita yang cukup tidak tau diri juga ya? ada aku istri sahnya Dokter Sigit saja kamu masih berani mengganggu mas Sigit. luar biasa kamu!" dokter Anggun bertepuk tangan didepan muka Nia
"Mas Sigit, sama halnya yang dikatakan suami wanita itu, sepertinya aku juga sudah tidak membutuhkan kamu. laki-laki seperti kamu tidak pantas untukku. silahkan dilanjutkan saja kemesraan kalian yang tertunda" dokter Anggun tersenyum dan melangkah keluar.
Dokter Sigit hendak berlari mengejar istrinya namun dihalangi oleh Nia.
"Tidak mas, kamu tidak bisa melakukan ini semua, aku sudah kehilangan suamiku. aku tidak rela jika kamu juga meninggalkan aku" ucap Nia memegang tangan Dokter Sigit
"Apa-apaan kamu Nia, gara-gara kamu aku harus mengalami semua ini. gara-gara kamu istriku harus melihat semau ini! semaunya kacau karena kamu" Dokter Sigit tampak marah
Nia melihat Dokter Sigit yang berlari berusaha mengejar istrinya. sementara Nia menangis melihat punggung dokter Sigit yang semakin tak terlihat
"Hua.. Hua.." Air mata Nia pecah, dirinya tidak menyangka semua ini akan terjadi. bahkan tidak pernah terlintas dibenaknya kalau Alan akan mengetahui kalau dirinya pergi ke tempat Dokter Sigit. itu semua karena Nia tidak mengetahui kalau nomor hapenya sudah disadap oleh suaminya. semua pesan masuk yang ada di hapenya juga masuk kedalam ponsel Alan.
*Flashback*
"Alan, kamu kenapa? bertengkar lagi sama Nia?" tanya Arif yang kebetulan malam itu piket
"Bang, bisa kita bicara diruangan abang saja"
"Bisa, ayo ke ruangku" ucap Arif mengajak Alan masuk ruangan kerjanya
Diruangan Arif, Alan menceritakan apa yang menjadi sebab kegelisahannya. dan Alan memperlihatkan pesan hape Nia yang sudah disadap olehnya.
"Sebenarnya aku tidak heran dengan ini Lan, jujur saja. aku sudah mengetahui tentang perselingkuhan yang dilakukan istrimu. hanya saja aku tidak berani mencampuri urusan rumah tangga kalian." ucap Arif
"Kenapa bang Arif tidak mengatakannya?"
__ADS_1
"Maafkan aku Lan, aku memang saat itu tidak mengatakannya secara langsung. hanya saja, aku sudah sering memperingatkan tentang istri kamu. sebenernya aku juga sudah pernah menyelidiki siapa orang yang berselingkuh dengan istrimu. namanya Dokter Sigit. dia rekan kerja istrimu sekaligus Direktur rumah sakit. dan menurut informasi yang aku terima Nia sudah beberapa kali pergi ke apartemen Dokter Sigit, bahkan Nia pernah menginap disana" ucap Arif
"Astaghfirullah" Alan mengepalkan tangan dan menahan amarah yang memuncak dibenaknya.
"Karena sekarang kamu sudah mengetahui semuanya, kamu pikirkan baik-baik langkah apa yang harus kamu ambil. cuma saranku, jika memang kamu mau pisah, pisahlah dengan cara yang baik. mengingat ada anak yang harus kalian pikirkan." nasehat Arif
"Entahlah bang, hati Alan sakit. Alan tidak menyangka keputusan Alan untuk menikahi Nia berujung seprti ini. awal kami menikah, dengan tujuan untuk sama-sama belajar menjadi lebih baik. sama pikir semua baik-baik saja. Aln benar-benar tidak menyangka kalau Nia akan melakukan ini sama Alan dan Nana. jujur Alan masih bingung apa yang sebenarnya ada didalam pikirkannya? Alan akui selama kami menikah memang Alan jarang ada waktu untuk untuk keluarga tapi Alan tidak menyangka dia akan berbuat sejauh ini." ucap Alan segera menyeka air matanya karena tidak ingin terlihat oleh Arif kalau dirinya menangis
"Menangislah! tidak perlu malu didepan saya Alan. kamu bukan hanya rekan kerja bagiku dan Ane tapi kamu adalah adik untuk kam." Arif menepuk lembut bahu Alan
"Ya sudah, istirahatlah. minta petunjuk pada Alloh." saran Arif lagi.
Meskipun begitu malam ini Alan nyatanya tetep tidak bisa memejamkan matanya. apalagi saat dirinya sudah mengetahui kalau hubungan Nia dan kekasih gelap istrinya itu sudah terlalu jauh. Ingin rasanya marah dan sekuat tenaga Alan berusaha menahannya.
Sayup-sayup terdengar suara adzan berkumandang, Alan dan Arif yang dari semalam memang tidak tidur segera melangkahkan kakinya menuju masjid yang ada di polres untuk menunaikan ibadah sholat subuh berjamaah.
Selesai sholat subuh, Alan kembali memeriksa ponselnya, dan melihat lokasi terkini Nia berada. betapa terkejutnya dirinya saat melihat Nia berada di sebuah alamat yang diyakini oleh Arif itu adalah apartemen Dokter Sigit.
"Apalagi yang kamu pikirkan Lan? kamu pasti tau jawabannya. jadi bagaimana? apa kamu sudah siap menghadapi ini? jika sudah aku dan Diky akan menemani kamu kesana. jika suatu saat kamu berubah pikiran dan ingin membawa mereka ke jalur hukum setidaknya kamu ada saksi" ucap Arif
"InsyaAlloh Alan siap bang" jawab Alan
"Hubungi nomer ini" Arif memberikan sebuah kartu Nama Dokter gigi.
"Dokter gigi? maksudnya apa bang? kenapa abang malah menyuruh Alan menghubungi Dokter gigi? apa hubungannya Dokter gigi dengan Nia yang menghianati Alan?" ucap Alan belum mengerti
"Namanya Dokter Anggun. dia istri Dokter Sigit yang saat ini sedang bersama dengan Nia." ucap Arif
Alan sekarang mengerti maksud Arif memberikan nomer ponsel Dokter Anggun
__ADS_1
Segera diambil Ponselnya dan mulai menghubungi Dokter Anggun.
"Assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam" jawab Dokter Anggun
"Apa ini benar dengan Dokter Anggun istrinya Dokter Sigit?" tanya Alan
"Iya bener saya sendiri, ini siapa ya? ada perlu apa"
"Saya Alan. saat ini saya ingin memberitahu Anda kalau, suami anda sedang bersama dengan istri saya" ucap Alan
"Apa maksudnya semua ini? dan apa yang sebenarnya kamu inginkan? kenapa berkata seperti itu? suami saya tidak akan mungkin menghianati saya" ucap Dokter Anggun karena yakin, Dokter Sigit selama ini terlihat sangat menyayanginya.
"Saya tau, ini tidak mudah untuk dipercaya. tapi kalau anda mau bukti, sekarang juga datang ke apartemen suami anda. kita ketemu disana. karena ini saya juga akan kesana" ucap Alan
"Tapi rumah saya jauh dari sana sekitar satu jam mungkin saya baru sampai sana"
"Baiklah saya akan tunggu didepan apartemen suami anda. kita ungkap perselingkuhan mereka." ucap Alan
Dokter Anggun yang sebenarnya ragu dan tidak percaya akhirnya hatinya mulai terusik.
"Sebaiknya aku kesana saja, tidak ada salahnya juga untuk kesana. tapi aku yakin suamiku tidak mungkin seperti itu" gumam Dokter Anggun
Dokter Anggun bersiap dan memanggil sopir untuk mengantarkannya ke Semarang.
"Tasya mama pergi dulu ya, nanti berangkat sekolah pesan taxi online gak papa kan?"
"Gak papa mah, tapi mamah mau kemana pergi sepagi ini" jawab Tasya yang masih berada di tempat tidur
__ADS_1
^Happy Reading^