
Pagi yang cerah, matahari sudah mulai terasa panas, Amar yang berada dikelas sibuk dengan membuka buku-bukunya.
"Ujian udah selesai, masih belajar saja" tanya Ratna menghampiri
"Kamu setelah ini mau melanjutkan kemana Mar?" tanya Ratna teman sekelas Amar yang juga sudah lama menaruh hati padanya.
"Belum tau" jawabnya singkat
"Apa dikota ini juga?" tanya Ratna
"Sepertinya tidak"
"Tidak? kalau tidak dikota ini, lalu kamu mau melanjutkan kuliah dimana?" tanya Ratna dengan wajah sedih tidak menyangka kalau sebentar lagu mungkin dirinya tidak akan lagi bertemu dengan Amar
"Surabaya" jawabnya singkat
"Surabaya? kenapa harus disana? disini juga banyak kampus bagus kan? kenapa tidak kuliah disini saja?" tanya Ratna sendu
"Ingin cari suasana baru" jawabnya
"Memang disini kamu tidak senang?"
"Cari suasana baru bukan karena tidak senang. tapi lebih ingin punya pengalaman ditempat yang baru"
"Oow" Ratna memanyunkan bibirnya. hatinya merasakan sakit lantaran Amar tidak pernah melihat dirinya padahal sudah hampir tiga tahun Ratna selalu memperhatikan Amar
"Amar nanti pulang sekolah aku boleh bicara berdua tidak?"
"Bicara saja, kenapa harus nanti?" tanya Amar tak mengerti
"Aku ingin mengajak kamu kesuatu tempat. mau ya please, sebentar lagi kita kan mungkin sudah tidak akan ketemu lagi, sebelum itu aku mau sekali ini saja pergi sama kamu?" ucap Ratna seraya memohon menyatukan kedua tangannya didepan dada
"Okay. tapi sebentar saja ya" jawab Amar tersenyum dan kembali melihat bukunya
"Ini bukankan buku untuk masuk kedokteran. apa kamu mau masuk kedokteran?" Ratna seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya
"Iya" jawab Amar singkat
"Ka-kamu yakin mau masuk kedokteran? aku kira kamu bakalan masuk Akpol atau sejenak. karena ayah kamu kan polisi. biasanya anak polisi rata-rata juga ingin jadi polisi" ucap Ratna
"Gak juga, Polisi ataupun Dokter sama-sama profesi mulia. aku sebenarnya juga suka jadi polisi. tapi aku juga ingin kuliah kedokteran. atau mungkin nanti setelah lulus kedokteran aku bisa nyoba polisi juga hehe.. " Ucap Amar tersenyum
Untuk pertama kalinya, Ratna melihat senyum indah dari bibir Amar. setelah tiga tahun berteman. selama ini Amar yang selalu memasang wajah dingin. hampir tidak pernah tersenyum disekolah.
"Ganteng" gumam Ratna lirih
"Kenapa?" Amar melihat Ratna
"Kamu ganteng kalau lagi tersenyum" ucap Ratna malu-malu
Dan Amar hanya tersenyum kembali menanggapi ucapan Ratna.
***
Setelah bubaran sekolah Ratna dan Amar pergi kesuatu danau yang letaknya tak jauh dari sekolah mereka.
"Untuk apa kita kesini?" tanya Amar duduk ditepi danau samping Ratna
"Aku tidak ingin menyesal Amar, setidaknya sebelum kita berpisah. aku ingin kamu tau apa yang ada dihatiku selama tiga tahun ini" batin Ratna
"E.. Mar_" ucap Ratna terpotong
"Eh.. kamu tadi belum bilang, setelah lulus kamu mau melanjutkan dimana?" tanya Amar
__ADS_1
Ratna yang sedari tadi sudah bersiap mengutarakan isi hatinya harus melupakan untuk sesaat.
"Aku mungkin akan kuliah fakultas Farmasi, orang tuaku menginginkan aku jadi apoteker" jawab Ratna sedikit kecewa dan menundukkan wajahnya.
Setiap ingin mengutarakan isi hatinya, Amar seakan berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
***
Ane dan Arif saat ini sedang bersantai di taman belakang rumah. menikmati segelaa kopi dan melihat ikan-ikan dikolam ikan.
"Sayang anak kita mau kuliah di kedokteran. kemarin sudah bilang sama aku" ucap Arif
"Uhuk.. uhuk.." Ane tersedak
"Hati-hati sayang kalau minum jangan buru-buru"
"Abang serius, Amar bilang kalau dia mau kuliah kedokteran? perasaan dari kecil sepertinya tidak pernah tertarik dengan dunia Medis, kok tiba-tiba mau kuliah kedokteran?" Ane merasa Aneh
"Huum, dia sendiri yang ngomong tempo hari sama abang" jawab Arif seraya menyeruput kopi dicangkir
"Eh.. itu Amar pulang" ucap Arif menunjuk kearah Amar
"Assalamu'alaikum bunda, ayah"
"Walaikumsalam, tumben pulang telat lagi?" tanya Ane
"Iya bun. tadi diajak teman keluar"
"Teman? teman yang mana?" tanya Ane menatap putranya
"Sayang, kamu ini. anak baru pulang langsung diinterogasi kayak gitu. biar duduk dulu kenapa?" ucap Arif
"Sini Mar duduk dekat ayah" Amar menepuk kursi disampingnya.
"Teman sekolah kok bun, namanya Ratna. Amar juga bingung. dia ngajak Amar kedanau dekat sekolah. katanya untuk terakhir sebelum perpisahan sekolah. sampai disana padahal cuma lihat air di danau. aneh banget kan." Amar mengangkat bahunya
"Iya mungkin Ratna ingin punya kenang-kenangan pergi bersama kamu" sahut Arif
"Amar. tadi ayah bilang, katanya kamu mau melanjutkan kuliah di kedokteran. apa itu benar nak?" tanya Ane
"Iya bun, benar. Amar juga sudah daftar secara online. tinggal nunggu pengumuman" jawab Amar
"Memang kamu daftar di Universitas mana?"
"Universitas XX" jawab Amar
"Hah.. itu kan di surabaya nak?" Ane membuka mulutnya kaget
"Iya bun, Amar emang mau kuliah disana" jawab Amar
"Kenapa harus disana nak? di semarang fakultas kedokteran juga banyak dan bagus-bagus? tidak perlu jauh-jauh kesana kan?" tanya Ane
"Amar ingin suasana baru bun, boleh ya bun?" ucap Amar memelas
"Bagaimana yah?"Ane menatap suaminya
"Kalau Ayah sih tidak masalah. mungkin memang Amar ingin suasana kota baru. selama positif ayah akan dukung" ucap Arif
"Kalau ayah sudah setuju, ya sudah. bunda juga setuju saja. yang penting disana kamu hati-hati. sholatnya diperhatikan. jangan sampai terlewatkan" ucap Ane
"Siap bunda" Amar tersenyum
"Kalau boleh bunda tau, apa benar alasan kamu kuliah disana hanya karena ingin suasana baru nak? yakin tidak ada alasan yang lain?" tanya Ane
__ADS_1
"Kalau tidak, apa lagi bun?" ucap Amar tersenyum
***
Dirumah Alan
"Pah, Nana sudah daftar diakbid dekat rumah tante Ane" ucap Nana diruang keluarga
"Nana kenapa kita harus berdebat masalah ini lagi sih? tolong jangan melawan papa ya nak?" ucap Alan memijat pelipisnya
"Pah, kenapa sih Papa tidak mengijinkan Nana kuliah disitu?" Nana protes
"Masih banyak kampus lain, kenapa harus disana?" Ucap Alan dengan nada tinggi
"Sayang, sabar. jangan emosi" Dokter Anggun memberi nasehat
"Nana, apa kamu tidak ingin kuliah di kedokteran saja?" Dokter Anggun berusaha membujuk Nana.
Nana yang mengira Amar akan daftar polisi, lebih memilih untuk kuliah di kebidanan. lantaran punya pemikiran polisi rata-rata berjodoh dengan bidan.
"Nana ingin jadi bidan ma" jawab Nana
"Okay, silakan jadi bidan. papa akan mendukung. tapi cari kampus lain" ucap Nana
"Memang ada apa sih pah dengan kampus itu? itu kampus bagus kok pah, akreditasi A juga"
"Kalau masih mau kuliah kebidanan, cari kampus lain" ucap Alan
****
Dengan terpaksa Nana akhirnya kuliah dikampus lain yang penting dirinya bisa menjadi bidan.
Dan hari ini Ane mengadakan syukuran atas diterimanya Amar dikampus Kedokteran yang diinginkan Amar.
Betapa terkejutnya Nana saat mengetahui kalau ternyata diluar dugaannya. Amar tidak daftar polisi melainkan kuliah kedokteran disalah satu universitas favorit yang ada di Surabaya.
"Selamat ya Amar, bisa kuliah disana. itu universitas bagus, tidak gampang untuk bisa masuk kesana. kamu hebat Amar" pujian dari Dokter Anggun
"Terimakasih tante" jawab Amar
"Aku kira Amar bakalan daftar polisi Bang, gak nyangka kalau ternyata mau jadi dokter. dokter kayak Amar. pasien cewek siap mengantri nanti" canda Alan
"Hahaha... apanya Lan, mana ada pasien yang suka sama Dokter cuek" sahut Ane
"Belum tau aja kamu Ne, mungkin nanti pas di depan pasien. Amar bisa jadi ramah" sahut Wawa
"Amar, kenapa kamu tidak pernah jawab kalau ditanya mau daftar dimana? aku juga berpikir kamu akan daftar polisi" sahut Nana menekuk wajah kecewa
Sebenarnya Nana juga ingin masuk kedokteran saat mengetahui Amar masuk kedokteran. tapi apa daya Nana yang tak sepandai Amar yang bisa dengan mudah menentukan kuliah dimana. karena Amar memang pintar berbeda dengan dirinya.
"Aku juga baru terpikirkan" jawab Amar singkat
"Ra, kamu jadi SMA di Surabaya kan?" tanya Amar
"Iya kak jadi" jawab Rara
"Oow.. iya, Rara juga mau sekolah di Surabaya ya? Amar, Rara dijagain. kalau butuh apa-apa dibantu. kamu kan yang lebih dewasa" ucap Ane
"Iya bun" jawab Amar senyum
Nana merasa tidak suka mendengar Ane mengatakan semua itu.
"Kenapa jadi Rara yang dekat dengan Amar. tapi Rara kan masih kecil. tidak mungkin kan Amar akan suka sama Rara? apa aku pindah ke Surabaya saja ya?" batin Nana
__ADS_1