Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
PEMBALASAN


__ADS_3

Malam ini Ane menatap suaminya yang sedang tertidur disamping nya. ditatapnya lekat wajah suaminya


"Kamu tidak akan menghianati aku kan bang?" gumam Ane lirih


"Tidak akan, kamu satu-satunya wanita akan selalu ada dihati abang" ucap Arif membuka matanya


Ane yang mengira suaminya sudah tercengang mendapat jawaban dari suaminya.


"Bukannya abang Sudah tidur ya?"


"Bagaimana mungkin abang tidur? sementara istri abang masih berkutat dengan pemikirannya. abang tidak akan menghianati kamu sayang, kamu wanita yang abang pilih untuk mendampingi abang sampai akhir hayat. abang tidak akan menyia-nyiakan jodoh yang sudah Alloh kirim untuk abang. betapa bodoh nya abang kalau sampai berkhianat " Arif menyakinkan menatap mata Ane dan mencium kening Ane.


"Em. .boleh Ane tanya?"


"Tanyakan apa yang ingin kamu tanyakan, abang akan menjawab dengan jujur dan tidak akan menutupi apapun, kenapa kemarin Ane mencium bau parfum wanita dibaju abang?"


"Kemarin abang udah cerita kan kalau makan malam dengan bu Irma? setelah makan, didepan restoran tiba-tiba mobil bu Irma mogok dan meminta abang untuk mengantarkannya pulang. Sebenarnya abang sudah mau menolak tapi karena merasa kasian ya sudah, abang kasian tumpangan. mungkin karena kami dalam satu mobil jadi bau parfumnya nempel kali dibaju abang. tapi sumpah Abang tidak ngapa-ngapainngapa-ngapain"


Ane tersenyum dan percaya dengan suaminya.


***


Dirumah Saka


Tangis bu Risma pecah, tubuhnya tersungkur kelantai mendapati putri kesayangan yang sudah lama tidak kembali karena kuliah diluar kota pulang dengan keadaan perut buncitnya.


Tidak ada kata yang keluar dari mulut bu Risma dan tidak ada pembelaan dari Sasa. perut buncit Sasa sudah cukup menggambarkan apa yang sedang terjadi.


"Siapa ayah dari anak yang sedang kamu kandung itu?" ucap Saka dengan wajah menahan emosi


"Seharusnya kamu tidak pernah pulang ke rumah ini! untuk apa kamu pulang dalam keadaan seperti itu. hanya membuat malu keluarga" timpal bu Risma


"Ma, kemana aku harus pulang kalau tidak kerumah ini. aku tidak punya siapa-siapa lagi kecuali mama dan kakak. tolong jangan berkata seperti itu ma"


"Kamu bukan anak mama. mama tidak punya anak seperti kamu" teriak bu Risma


"Ma, bagaimana bisa mama berkata seperti itu? saat kak Saka berbuat kesalahan mama membela kak Saka, tapi kenapa saat Sasa yang khilaf mama tidak bisa memaafkan Sasa. mama tidak adil! teriak Sasa


"Plak.. "


Saka menampar Sasa, Tika segera memegangi tangan Saka untuk menenangkan nya.


"Cukup mas, jangan pukul Sasa. dia lagi hamil" ucap Tika


"Kakak nampar Sasa? apa kakak tidak berkaca pada diri kakak sendiri? laki-laki tidak bertanggung jawab! lihat sekarang adik kakak yang menerima Karmanya." ucap Sasa


"Kenapa kamu menyalahkan kakak untuk kesalahan yang kamu lakukan?" Saka mengepalkan tangannya berusaha menahan amarah

__ADS_1


"Kakak tidak sadar, saat kakak meninggalkan mbak Nur. itu yang saat ini dilakukan pacar Sasa. begitu tau Sasa hamil dia pergi meninggalkan Sasa" air mata Sasa pecah


"Aghh... " teriak Saka memukul tembok hingga tangannya berdarah


"Mas, sudah, sudah mas, jangan lakukan lagi. tangan kamu berdarah" Tika berusaha menenangkan Saka


"Kenapa harus seperti ini, kenapa anak-anak mama tidak ada yang benar" tangis Bu Risma


"hua.. hua... " tangis bu Risma semakin menjadi


Sedangkan Sasa hanya berdiri tanpa menjawab. namun air matanya terus mengalir membasahi pipinya.


"Mama tidak ingin cucu itu, mama tidak ingin. bawa bayi itu pergi" tangis Bu Risma


"Lalu mama mau Sasa bagaimana? Sasa gak mungkin gugurin ma, ini sudah besar juga sebentar lagi Sasa lahiran" tangis Sasa


"Kenapa kamu begitu bodoh, kenapa anak-anak mama bodoh, kenapa?" Teriak bu Risma


"Maafkan Saka ma, maafkan Saka. ini salah Saka ma. agh.... " Saka mengacak-acak rambutnya


"Katakan dimana laki-laki itu, kakak akan membawanya untuk bertanggung jawab" ucap Saka


"Andai Sasa tau, Sasa tidak akan disini saat ini kak. Dia sudah pergi entah kemana"


"Aawww... " Sasa kesakitan


"Kamu kenapa dek? kamu kenapa?"


"Mas, bawa Sasa kerumah sakit" ucap Tika


Saka segera membawa Tika kerumah sakit sementara bu Risma hanya diam terpaku. hatinya hancur.


Ingatannya kembali mengenang saat Nur datang kerumah itu dan menangis meminta pertanggung jawaban, tapi dengan kejam bu Risma mengusir dan mengata-ngatai Nur


"Ya Alloh ini kah balasan yang harus aku terima? sekarang aku tau rasanya jadi orang tua Nur saat itu. aku salah, ternyata aku memang orang yang kejam" tangis bu Risma


tangannya memukul-mukul dadanya yang terasa sesak.


Dirumah Sakit


"Saka, Sasa"


"Nia, tolong Sasa mau lahian" ucap Saka


"Baik, tenang Saka. biar kami periksa dulu. kamu tunggu diluar ya"


Saka menunggu diluar, tak lama setelahnya Nia keluar

__ADS_1


"Baru pembukaan tiga. masih lama. apalagi ini anak pertama mungkin masih besok lahirnya" ucap Nia


"Tapi dia sudah sangat kesakitan" ucap Saka


"Iya, karena Sasa tidak kuat menahan sakit. nanti semakin maju pembukaannya akan semakin sakit lagi." nia menerangkan


"Apa tidak ada cara lain? dikasih penghilang rasa nyeri mungkin?" Saka panik karena Sasa adalah adik kesayangan Saka


"Hihihi... kamu ini lucu, udah santai saja. orang melahirkan memang seperti itu, ibarat nyawa sudah sampai tenggorokan. semakin sakit semakin bagus berarti pembukaannya semakin maju"


"Bagaimana bisa semakin sakit semakin bagus"


"Iya, karena itu memang yang diharapkan agar ada kontraksi supaya pembukaannya cepet maju dan bayi segera lahir"


"Oya kamu sendiri? dimana suaminya Sasa? kenapa tidak ikut menemani?" Nia melihat sekeliling


Saka mengeleng-gelengkan kepalanya


"Maksudnya?" Nia memicingkan matanya tak mengerti


"seperti yang kamu lihat, aku sendiri. Sasa tidak punya suami. dia belum menikah" jawab Saka


"Astaghfirullah" Nia menutup mulutnya


"Maaf Saka, maaf. bukan maksudku untuk.. " Nia terdiam


"Tidak apa-apa, memang itu kenyataannya. Sasa hamil diluar nikah dan kami baru mengetahui siang ini."


"Bagaimana bisa?" nia menatap heran


"Karena selama ini dia kuliah diluar kota dan Sasa ini anak pendiam. kami juga tidak menyangka dia bisa seperti ini. tapi kalau dipikir-pikir mungkin ini karena dosa yang aku perbuatan. hingga adikku yang harus menanggung dosa yang aku lakukan.


" Kamu yang sabar, ini ujian untuk kamu Alloh ingin melihat dengan ujian seperti ini apakah kamu tetap istiqomah dijalan Alloh"


***


Dikantor


Tok.. tok..


"Masuk"


"Pak maaf ada tamu yang ingin bertemu dengan bapak"


"Siapa?" tanya Arif pada Ayu sekertarisnya


"Ibu Irma dari PT. Sinar jaya grup"

__ADS_1


"Okey suruh saja masuk" ucap Arif yang sebenarnya merasa males bertemu dengan Irma terlihat jelas dari gelagatnya nya bahwa Irma memiliki motif tersendiri. bukan hanya masalah pekerjaan.


^Happy Reading^


__ADS_2