
"Tasya, harusnya kamu bilang sama mama kalau kamu butuh apa-apa, jangan malah lari seperti ini.
Sya kamu itu anak mama. walaupun mama sudah menikah dengan om Alan. bukan berarti mama akan melupakan kamu" ucap Dokter Anggun
"Lalu sekarang kamu tinggal dimana?"
"Tasya tinggal dengan suami Tasya ma"
"Ka-kamu sudah menikah sayang?" Dokter Anggun tercengang
"Iya ma, Tasya juag sudah punya anak satu" jawabnya
"Ya sudah kita bicara didalam saja ya" ucap Dokter mengajak Tasya keruangan dokter Anggun.
Tasya menceritakan kisahnya selama ini. rumah tangga yang dibina selama lima tahun ternyata tak berjalan lancar, suami Tasya yang merupakan atasan di kantornya. memperlakukan Tasya dengan tidak baik.
Dokter Anggun menjadi kasihan melihat kondisi Tasya saat ini.
"Lalu diamana anak kamu sekarang?" tanya Dokter Anggun
"Anak Tasya bersama dengan neneknya ma, mereka melarang saya bertemu dengan anak saya."
"Astaghfirullah, kenapa bisa begitu sya?"
"Mas Bagas selingkuh ma, dan mas Bagas lebih memilih percaya dengan selingkuhannya ketimbang saya istrinya" cerita Tasya dengan derai air mata
"Lalu papa kamu kemana?"
"Semenjak kejadian itu, papa lebih banyak diam ma. sedangkan nenek sudah meninggal. dan setelah Tasya menikah. papa hidup sendiri."
"Tasya ini ada sedikit uang, kamu gunakan untuk memulai usaha ya sayang. kamu harus jadi wanita mandiri. jangan mengandalkan uang dari suamimu. apalagi suami kamu seperti itu, kamu harus bisa jadi wanita yang kuat dan mandiri" Dokter Anggun memberikan uang dalam amplop yang cukup tebal dan sepertinya bukan jumlah yang sedikit.
"Ma I-ini apa ma, Tasya kesini bukan untuk ini ma. Tasya hanya merindukan mama" ucap Tasya mengembalikan amplop yang berisi uang tersebut
"Tolong jangan ditolak sya, mama iklas memberikan ini untuk kamu. kamu anak mama sya. mama ingin kamu bisa bangkit dan memulai suatu usaha." ucap Dokter Anggun kembali memaksa Tasya untuk menerima uang tersebut.
"Terimakasih ya ma" ucap Tasya menangis dipelukan Dokter Anggun
***
Dirumah Alan
"Sayang ada apa? kenapa seperti ada yang dipikirkan?" tanya Alan
"Tadi aku bertemu dengan Tasya sayang"
"Tasya? dia dimana?"
"Tasya tadi pagi datang kerumah sakit, aku kasihan sama Tasya sayang. keadaannya tidak baik. dia sudah menikah dan memiliki satu anak. tapi dia tidak bisa bertemu dengan anaknya karena anaknya ada sama neneknya. dan Tasya tidak boleh sering-sering mengunjungi."
"Pasti ada alasan dong kalau sampai gak boleh ngunjungin?"
"Jadi anaknya Tasya ini, nantinya akan menjadi pewaris dikeluarga mereka. jadi dari kecil Anaknya Tasya ini sudah dibesarkan sama neneknya. karena ingin dididik sebagai pewaris. dan suaminya ini tidak pernah membela Tasya. bahkan suaminya sering berselingkuh didepan Tasya"
"Astaghfirullah, kasihan Tasya"
"Oya sayang. maaf ya tadi aku tidak bilang dulu, kalau aku memberikan uang pada Tasya untuk memulai usaha. aku ingin Tasya mandiri dengan membuka usaha sendiri sayang"
"Iya, itu kan uang kamu. kenapa harus minta maaf" ucap Alan
"Iya, tapi kan kamu suamiku sayang. sudah sepantasnya aku ijin dulu sama kamu sebelum memberikan uang itu pada Tasya. tolong maafkan aku ya sayang" ucap Dokter Anggun
"Iya sayang" ucap Alan mencium kening Dokter Anggun
Alan menjalani pernikahan yang sangat bahagia dengan Dokter Anggun, walaupun semua sama-sama memiliki kesibukan masing-masing. namun itu tidak menjadi penghalang keduanya untuk bisa terus mesra dan harmonis. disetiap ada waktu luang mereka akan menyempatkan diri untuk sekedar makan malam bersama, atau hangout bersama.
***
Brem.. brem...
Suara moge Amar dan berhenti di depan Rara saat melihat Rara berdiri didepan sekolahnya.
"Rara" ucap Amar memetikan mesin mogenya
"Kak Amar" ucap Rara
"Kenapa belum pulang? nunggu Tante Anggun?" tanya Amar
"Tidak kak, mama tadi telpon kalau tidak bisa jemput. Rara mau nunggu taxi lewat kak"
"Pulang sama kakak aja. ayo naik" ucap Alan memberikan helm cadangan untuk Rara
Rara naik ke moge Amar, dan dari kaca spion Amar melihat Rara kesusahan memasang pengait helmnya, reflek Amar langsung memutar tubuhnya kebelakang dan membantu mengaitakan helm Rara.
"Terimakasih kak" ucap Rara
Amar tidak menjawab dan langsung melajukan mogenya.
"Kamu mau es cream tidak?" tanya Amar sedikit menolehkan lehernya kebelakang
__ADS_1
"Apa kak?" tanya Rara yang tidak terlalu mendengar karena suara moge yang sedikit bising.
"Rara mau es cream tidak?" teriak Amar
"Iya mau kak" jawab Rara
Sesampainya di sebuah cafe Amar memarkirkan mogenya dan membantu Rara melepaskan pengait helmnya.
"Terimakasih kak"
"Em" jawab Amar dingin dan langsung masuk ke cafe. Rara pun mengekori Amar
Tanpa tanya Amar sudah memesakan es cream durian kesukaan Rara.
"Es cream Durian? kakak kok tau Rara suka es cream rasa durian?" Rara yang sedang memegang ponsel seketika meletakkan ponselnya di meja dan langsung melahap es cream yang selalu menjadi favoritnya itu.
"Pelan-pelan makannya, blepotan tu" ucap Amar mengelap es cream yang ada disudut bibir Rara dengan jari jempol Amar. tapi Rara masih tetap menikmati ea cream nya. tanpa ada pemikiran apapun. dan Amar diam-diam tersenyum melihat Rara yang lahap menikmati es cream nya.
Dret.. dret...
Panggilan dari mama
"Astaghfirullah, Rara sampai lupa tadi kan mau ngabari mama kalau kita lagi makan es cream kak" ucap Rara menepuk jidatnya
"Assalamu'alaikum ma"
"Walaikumsalam Ra, apa sudah sampai rumah sayang?"
"Maaf ma, Rara lupa ngabarin. kalau Rara tadi bertemu dengan kak Amar. terus ini diajak kak Amar makan es cream. dicafe biasa kita makan es cream ma" ucap Rara
"Oow ini kamu lagi sama kak Amar?" tanya Anggun
"Iya ma"
"Sini kakak mau bicara sama tante" ucap Amar meminta ponsel Rara
"Assalamu'alaikum tante. ini saya Amar. maaf ya tante, Amar tadi tidak sengaja melihat Rara sedang menunggu taxi. jadi Amar menawarkan diri untuk mengantarkan Rara pulang dan sebelum pulang Amar ajak Rara makan es cream. setelah ini Amar janji akan mengantarkan Rara pulang dengan selamat tante" ucap Amar panjang lebar. padahal Amar ini biasanya hemat omongan.
"Iya nak Amar. tante yang harusnya berterimakasih sama Amar. karena tante sibuk jadi gak bisa jemput Rara. terimakasih ya nak Amar sudah bersedia mengantarkan Rara pulang"
"iya sama-sama tante" ucap Amar kembali memberikan ponselnya pada Rara
"Ma, sudah dulu ya. nanti sampai rumah Rara kabari. Assalamualaikum"
"Walaikumsalam" jawab dokter Anggun menutup telpon
"Kamu suka banget ya sama es creamnya? sampai segitunya" ucap Amar
"Biarin, Rara emang paling suka sama es cream durian ini kak"
"Em.. Ra, kamu jadi lanjutin sekolah diSurabaya?"
"Sepertinya jadi kak" jawab Rara santai dan masih menikmati es creamnya.
"Kakak sendiri mau ngelanjutin kuliah dimana?"
"Entahlah belum tau juga. kalau kamu pengennya kuliah apa Ra nantinya?"
"Yaelah kak, SMA aja belum mulai. sudah bahas kuliah"
"Ya pastinya kamu sudah ada gambaran pengen jadi apa gitu?" ucap Amar
"Cita-cita maksud kakak?"
"Kalau bisa mungkin Rara pengennya seperti mama. jadi Dokter. kakek juga bilang gitu, karena semua keluarga Rara kebanyakan jadi dokter. mungkin Rara akan mengikuti jejak mereka" ucap Rara
"Oow.. "
"Kamu ingat-ingat pesan kakak ya! nanti kalau sudah SMA jangan pacaran dulu!"
"Emang kenapa kak?"
"Katanya mau jadi Dokter? kalau kau jadi Dokter Rara harus belajar yang rajin. otaknya jangan diracuni dengan pacaran atau cinta-cintaan gak jelas. atau jangan-jangan sekarang kamu sudah mulai ada yang kamu taksir ya?" Amar ingin tau perasaan Rara
"Apaan sih kak, enggak kok. Rara belum ada yang ditaksir. lagian Rara juga tidak mau pacaran dulu" ucap Rara
"Nah itu baru betul. jangan pacaran dulu sebelum lulus kuliah. ingat pesan kakak" ucap Amar
"Kakak biasanya gak banyak bicara, kok tumben hari ini bicara terus" ucap Rara
"Begitukah?" Amar menggaruk kepalanya yang tidak gatal
Selesai makan es cream, Amar mengantarkan Rara pulang kerumah.
Tepat sampai dirumah Nana yang juga baru pulang sekolah, melihat Rara turun dari motor Amar.
"Amar, gimana ceritanya bisa pulang sama Rara?" tanya Nana menatap Rara
"Gak sengaja ketemu" jawab Amar singkat
__ADS_1
"Oow gak sengaja, masuk dulu yuk. kita ngobrol didalam"
"Maaf aku buru-buru. Ra aku pulang dulu ya, samapaikan salam buat tante Anggun dan Alan" ucap Alan melambaikan tangan dan berlalu tanpa memperdulikan Nana.
Melihat Rara langsung masuk kekamar. Nana dengan cepat menyusul Rara dan ikut masuk ke dalam kamar.
"Kamu bagaimana bisa pulang bareng Amar?" tanya Nana
"Kan tadi sudah dijawab kak Amar, kami tidak sengaja ketemu kak. terus kak Amar menawarkan diri buat antar Rara pulang"
"Tidak sengaja? bagaimana ceritanya? sekolah Amar dan kamu kan berlawanan arah, bagaimana bisa tidak sengaja ketemu?" Nana tidak percaya dengan penjelasan Rara
"Rara juga tidak tau kak, tadi itu Rara mau pulang naik taxi. terus kak Amar lewat. ya sudah Rara bereng kak Amar" jawab Rara sambil mengambil baju dilemari
"Lain kali jangan pernah pulang bareng Amar lagi.! faham?"
"Memang kenapa kak?" Rara yang masih polos belum menyadari kalau kakaknya menaruh hati pada Amar
"Kalau kakak bilang jangan ya jangan, jangan melawan bisa gak sih!" ucap Nana dengan nada tinggi
"Iya, tapi gak perlu marah-marah gitu dong kak" ucap Rara
"Ini ada apa kok sepertinya ribut-ribut?" tanya bu Indah
"Tidak kok nek, kami hanya ngobrol. iya kan Ra?"
"I-iya nek" jawab Rara
"Ya sudah, jangan pada ribut ya. kalian ini anak yang baik. harus saling menyayangi. tidak boleh ribut okay"
"Iya nek, mana mungkin kami ribut. kita keluar yuk nek, Rara mau ganti baju"
"Ya sudah, Ra, habis ganti baju segera makan dulu ya. nenek sudah siapkan." ucap bu Indah
"Maaf nek, sepertinya Rara tidak makan lagi masih kenyang" ucap Rara memegang perutnya
"Lho memangnya sudah makan? kok sudah kenyang?" tanya bu Indah
"Iya nek, tadi Rara habis makan es cream sama kak Amar"
"Ja-jadi kalian juga makan bareng tadi?" sahut Nana
"Iya kak, emang kenapa sih kak? apa salahnya makan sama kak Amar? mama juga sudah kasih ijin kok" ucap Rara
"Kamu kalau kakak bilangin, kenapa nglawan terus"
"Sudah-sudah, ini ada apa sih kok ribut lagi. lagian apa nya yang salah Na? kalau Rara makan sama Amar. kita semua kan juga sudah kenal sama Amar." bu indah berusaha mendamaikan kedua cucunya
"Nenek ini belain Rara terus" ucap Nana marah dan menghentakkan satu kakinya dilantai dan berlalu.
"Hufff.. " Bu Indah menghela nafas kasar
"Kamu yang sabar ya" ucap bu indah menepuk-nepuk lengan Rara dan tersenyum
"Iya nek" jawab Rara tersenyum
***
"Assalamu'alaikum" ucap Alan masuk rumah, mencium tangan Ayah dan Bundanya
"Walaikumsalam" jawab Arif dan Ane
"Anak ayah tumben pulang telat. mampir kemana dulu?" tanya Arif
"Habis nganter Rara pulang yah" Jawab Amar
"Nganter Rara? Rara anaknya om Alan?"
"Iya yah, Rara mana lagi emangnya?"
"Kok bisa nganterin Rara pulang nak?" sahut Ane
"Iya tadi kebetulan Amar ada perlu di dekat sekolah Rara, terus gak sengaja lihat Rara lagi nunggu taxi. ya sudah Amar antar aja" ucap Alan
"Ya sudah, segera ganti baju. terus makan dulu. sudah bunda siapkan"
"Tidak makan lagi bun, Amar udah makan juga tadi sama Rara" ucap Amar masuk kamar
Ane mandang Arif
"Ada yang aneh gak sih bang dengan anak kita? tumben mau makan pergi sama orang" ucap Ane
"Kamu itu bun, bun. anak gak mau sosialisasi dengan orang bingung. giliran anak sudah mau bersosialisasi bingung juga" ucap Arif tersenyum dan kembali menatap layar ponselnya.
"Abang ini" Ane memanyunkan bibirnya
^Hapy Reading^
Jangan lupa like, coment dan vote ya terimakasih 🙏🥰😘
__ADS_1