
Acara pernikahan Nina dan Gilang baru saja selesai, para tamu undangan berpamitan pulang. Nina yang sudah tampak tak bersemangat melangkah menuju kamar pengantin yang sudah disulap dengan indahnya. ranjang pengantin dengan seprai putihnya ditaburi kelopak bunga - bunga mawar berbentuk love.
Namun Nina terlihat engan melihat itu semua. segera diraih baju didalam lemarinya dan Nina bergegas menuju kamar mandi memberishkan diri dan berganti pakain piyamanya.
Tak lama berselang Gilang masuk ke dalam kamarnya saat Nina baru keluar dari kamar mandi padangan mata mereka bertemu.
Gilang yang sangat mencintai istrinya dengan cepet memeluk istrinya karena sudah merasa sah menjadi suaminya. namun Nina segera melepaskan pelukan itu.
"Maaf bisa gak sih, jangan seperti ini? kamu itu kan masih kotor udah main peluk - peluk saja" ucap Nina ketus
"Ah, istriku pecinta keberaihan rupanya. okay aku mandi dulu ya" ucap Gilang segera mengambil baju dan menuju ke kamar mandi membersihkan diri. karena mengira Nina menghindar lantara dirinya belum mandi.
Nina yang sedang bingung memikirkan cara untuk bisa menghindari Gilang. sungguh dirinya tidak ingin bersentuhan dengan laki - laki yang baru saja sah menjadi suaminya itu.
Nina yang tak ingin berurusan dengan suaminya itu, segera berbaring ditempat tidur menyelimuti seluruh tubuhnya dan memejamkan matanya.
Dengan semangat Gilang segera bergegas keluar saat dirinya selesai membersihkan diri. dilihatnya Nina yang sedang tertidur
"Hufft...Nampaknya dia kelelahan" gumam Gilang yang sebenarnya didengar oleh Nina.
Gilang segera merebahkan tubuhnya disamping Nina. tak ingin mengganggu istrinya yang dirasa kecapekan setelah seharian menyalami ribuan tamu undangan yang hadir memberikan doa restu untuk mereka.
Gilang segera memejamkan matanya.
Nina yang merasa lega karena malam ini.dirinya bisa menghindari Gilang laki - laki yang sebenarnya tidak pernah dicintainya tapi terpaksa dinikahinya lantara tidak ingin dituduh sebagai pelakor yang menggoda suami orang.
meakipun Mau berusaha sekeras apapun dirinya tetap saja tidak bisa melupakan Arif.
Keesokan harinya saat Gilang membuka matanya, Nina sudah tidak ada disampingnya
dicari - carinya keseluruh ruangan tapi Gilang tidak bisa menemukan istrinya. diraihnya hape yang ada diatas meja kamarnya mencari nomer Nina dan menekan tombol panggil
"Hallo" jawab Nina mengangkat panggilan dari Gilang
"Assalamualikum" ucap Gilang
"Walaikumsalam" jawab Nina
__ADS_1
"Biasakan salam dulu saat menjawab panggilan" ucap Gilang
"Ah, iya. maaf" jawab Nina singakat
"Kamu dimana? aku cari - cari kok tidak ada?" tanya Gilang
"Maaf, aku buru - buru tadi jadi tidak sempat memberitahu kamu, kalau aku ada kerjaan mendadak pagi ini" ucap Nina
"Sepagi ini? dan kita kan baru saja menikah kemarin. apa kamu tidak ambil cuti?" tanya Gilang heran
"Ya gimana kerjaanku gak bisa ditinggal. kamu kan tau menikah dengan siapa, Polwan itu gak ada liburnya. kapan pun masyarat membutuhkan kami, tentu saja kami harus siap" ucap Nina memcari alasan yang sebenarnya dirinya memang tidak mengajukan cuti lantara males harus berduaan dengan Gilang dirumah.
Gilang yang menyadari istrinya seorang Polwan berusaha menerima penjelasan Nina.
***
Dikantor Nina jadi bahan gosib lagi lantara ini hari pertamanya setelah dirinya menikah yang seharusnya pada umumnya pengantin baru lagi males - malasnya keluar rumah dan ingin selalu bersama pasangannya, tapi dirinya justru malah menyibukan diri dikantor.
"Kamu gila ya Nin?" ucap Viko yang melihat Nina dikantor sepagi ini
"Kenapa?" ucap Nina santai
"Banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan" jawab Nina singkat
"Iya, tapi kan kalian baru saja menikah. harusnya kamu kesampingkan dulu pekerjaan. kasian suami kamu. baru juga nikah udah langsung ditinggal kerja saja" ucap Viko mencoba memberi nasehat
"Kesampingkan pekerkaan? sejak kapan kamu pernah lihat aku mengkesampingkan pekerjaan?" ucap Nina meletakkan bolpoin ditangannya dan menatap tajam Viko
"Iya, aku tau kamu selalu mengutamakan pekerjaan. tapi masalahnya kalian baru saja menikah. pastinya nanti orang lain akan menganggap gimana gitu sama kalian" ucap Viko
"Hah..menganggap gimana maksud kamu? apapun yang aku lakukan pasti akan jadi bahan gosib kok untuk mereka, aku belum nikah di jadikan bahan omongan, aku sudah menikah pun tetap saja dijadikan bahan omongan. seolah hidup mereka itu tidak seru kalau tidak bahas aku" ucap Nina
***
Dirumah Arif yang sudah bersiap berangkat kekantor dengan seragam coklat yang membuatnya tampak lebih gagah dan tampan.
"Bang, sarapan dulu! sudah ditunggu Mama dan Papa dimeja makan" ucap Ane menghampiri suaminya dan memeluk manja
__ADS_1
"Iya, ayo keluar" ucap Arif mencium kening istrinya yang sedang manja dalam pelukannya
"Nanti dulu, masih ingin dipeluk, jarang - jarang kan lihat Abang pakek seragam Polisi gini" ucap Ane manja karena jarang - jarang Ane melihat Arif menggunakan seragam coklatnya lantara Arif lebih sering mengenakan kemeja putih setiap harinya. bisa melihat suaminya mengenakan seragam coklatnya hanya diwaktu - waktu tertentu.
"Seneng banget Abang kalau lihat Ane manja kayak gini" ucap Arif mencolek hidung istrinya
"Padahal kita nikah udah lumyan lama, tapi entah kenapa setiap melihat Abang memakai seragam Polisi hati Ane masih kayak gimana gitu" ucap Ane tersenyum
"Apa Abang pakek seragam Polisi terus saja, biar Ane selalu jatuh cinta" goda Arif yang masih memeluk istrinya
"Ya gak segitunya juga Bang, hahaaha" Ane tertawa menatap suaminya
Cup...
Sebuah ciuman mesra mendarat dibibir Ane.
"Ya sudah ayo sarapan, nanti Abang malah terlambat ke kantornya" ucap Ane
Setelah sarapan Arif melajukan motor nya ke kantor, dirinya segera melihat laporan - laporan yang harus ditanganinya.
Dan sepertinya siang ini dirinya harus berangkat ke Surabaya untuk pengembangan kasus pengedaran Narkoba yang saat ini sedang diselidikinya.
Arif segera menghubungi istrinya untuk menyiapkan keperluan Arif selama menginap beberapa hari diSurabaya
"Harus berangkat siang ini ya Bang?" tanya Ane
"Iya sayang, Abang harus segera ke Surabaya untuk pengembangan kasus yang sedang Abang selidiki, karena disinyalir tersangka akan melakuan aksinya disana" ucap Arif
"Iya Bang, Ane akan siapkan semua keperluan Abang dan Ane akan selalu berdoa. semoga Abang selalu dilindungi Alloh" ucap Ane yang sebenarnya selalu kawatir setiap kali dipamiti Arif untuk penagkapan.
Hati kecilnya masih menyisakan trauma mendalam saat kejadian tertembaknya Arif tempo dulu.
Namun dirinya menyadari seperti apapun resiko nya hal itu tetap harus dijalani suaminya karena itu sudah menjadi sebuah konsekuensi tugas suaminya.
Hanya berdoa semoga suaminya selalu dalam lindungan Alloh yang bisa dilakukan bhyangkari saat suaminya sedang menjalankan tugas.
karena tugas bhayangkari itu mendukung suaminya.
__ADS_1
mohon dukungannya dengan Like, coment dan vote jika ada ya. terimakasih