Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
JANGAN HANYA MELIHAT COVER


__ADS_3

Dirumah Ane menceritakan apa yang barusan terjadi pada Suami dan mertuanya.


Bu imah yang juga mengenal Nur pun terkejut mendengarnya.


Selama ini Nur yang terlihat paling dewasa dan bijaksana.


"Kenapa Nur bisa jadi seperti itu ya, akhir - akhir ini Mama kok merasa heran. dan memang kita tidak bisa melihat segala sesuatu hanya dari penampilan dan sisi luar saja. Seperti kasus Norma misalnya terus ini lagi apa yang di alami Nur. dari sini kita bisa mengambil pelajaran hati - hati dalam memilih teman pergaulan. yang terlihat baik pun ternyata belum tentu aslinya baik." ucap Bu Imah


"Betul itu Ma, aku selama ini lihat Nur juga kayake anaknya kalem banget. iya gak sih?" sahut Arif


"Iya Bang, Nur itu kalem banget. semisal ada diantara kami yang melakukan kesalahan, dia selalu memberi kami nasehat. pokoknya dewasa banget pemikiran nya. saat itu kami mikirnya begitu. tapi melihat apa yang terjadi barusan. ternyata Nur tidak sebijaksana itu" ucap Ane sambil mengelus - elus perutnya.


"Apa Nia sudah tau?" tanya Bu Imah


"Belum Ma, Ane tidak cerita. takut merusak persahabtan kami. biar saja seperti ini dulu. biar Nur juga intropeksi diri atas kesalahannya. lagi pula sekarang Nia kan sudah mau menjalin hubungan serius sama Alan" ucap Nia


"Oya Bang, bahas Alan. Ane jadi ingat, Nia cerita katanya waktu dia dikenalin dengan keluarga Alan. Nia merasa sepertinya adiknya Alan tidak begitu suka dengan Nia. Abang tau gak kenapa?" tanya Ane


"Ya mana Abang tau dek, Alan gak cerita apa - apa sama Abang. cuma setau Abang Riri adiknya Alan ini bukan adik kandungnya Alan" ucap Arif


"Jangan - jangan Riri suka sama Alan" Ane asal nyeplos


"Hus, jangan bilang gitu! ya gak mungkin lah dek, mereka itu kan adik kakak. besar bersama" ucap Arif


"Bisa saja kan? mereka kan bukan saudara kandung, Ane sering lihat kejadian seperti itu dalam cerita drama korea" ucap Ane yang hobby nonton drakor


"Hahaha...kamu ini dek. gak mungkin Riri cinta sama Alan karena Riri tidak tau kalau mereka bukan saudara kandung. Riri diadopsi dari bayi" ucap Arif


"Abang aja tau, siapa tau Riri juga sudah tau kalau mereka bukan saudara kandung" ucap Ane


"Abang tau karena Alan yang cerita. Alan juga tau nya baru - baru saja kok kalau mereka bukan saudara kandung." ucap Arif menceritakan


****


"Kak,kakak beneran ya mau menikahi mbak Nia" ucap Riri pada Alan yang sedang nonton tv diruang keluarga


"Iya lah, mosok bohongan. menikah itu bukan hal main - main jadi Kakak tidak mungkin main - main saat mengatakan akan menikahi Nia." ucap Alan sambil menggigit pisang goreng

__ADS_1


"Kakak cinta sama mbak Nia?" tanya Riri lagi


"Cinta lah, kamu ini apa - apaij sih anak kecil tanya - tanya cinta emang ngerti?" ucap Alan mengacak - acak rambut Riri yang berponi


"Kakak, jangan ngacak - ngacak rambut Riri coba. Riri ini bukan anak kecil lagi kak. Riri sudah dewasa.Riri sudah mau kuliah tahun depan" ucap Riri kesal


"Oo iya to? ternyata adik Kakak sudah besar sekarang sekarang" ucap Alan senyum dan melanjutkan melahap pisang goreng buatan mama nya.


"Tumben libur dirumah aja Lan? gak keluar sama Nia" sahut Bu Intan membawakan segelas es sirup untuk Alan


"Wah pas banget ini Mama tau aja Alan pengen minum es hehehe" ucap Alan langsung menyeruput es dari mama nya.


"Kok belum dijawab? gak ketempat Nia?" tanya Bu Intan lagi


"Mama ini apa - apain sih nanyain Mbak Nia terus. malah bagus kan kak Alan libur dirumah gak pergi - pergi terus" ucap Riri memeotong pembicaraan Mama nya.


"Tidak Ma, hari ini Nia piket pagi. pulang nya nanti jam dua siang" jawab Alan


"Oo pantes kamu kok libur dirumah. resikonya pasangan satu polisi satu bidan kayak itu Lan. sudah harus dipertimbangkan. jangan sampai nanti pas udah nikah jadi masalah baru buat kalian. sebelum kalian menikah sudah harus dibicarakan" bu Intan memberi nasehat


"Bagus lah kalau seperti itu, kapan kita akan melamar Nia secara resmi pada orang tuanya?" tanya Bu Intan


"Secepatnya, Mama dan Papa bisa nya kapan? kalau Nia dan Alan pada dasarnya sudah siap.tinggal nunggu Mama dan Papa saja" ucap Alan


"Mama dan Papa juga siap aja kok Lan, kalau kalian sudah mantab bagaimana kalau minggu depan saja kita melamar Nia ke orang tuanya?" ucap Bu Intan yang sudah menyukai Nia sebagai menantunya


"Minggu depan ya? oke nanti coba Alan bicara sama Nia dulu ya Ma! dia libur tidak minggu depan" ucap Alan seneng


"Iya sayang, Mama senang Alan sudah dewasa sebentar lagi menikah dan Mama akan dapat cucu" ucap Bu Intan senang


Mendenagar apa yang dikatakan Bu Intan hati Riri terasa sesak


"Mama sana Kakak ini kenapa sih, nikah terus yang dibahas" gerutu Riri


"Ya, karena memang sudah saat nya Kakak mu menikah. nanti kalau sudah saatnya Riri menikah juga sama" ucap Bu Intan


"Memang segitu bagus nya mbak Nia dimata kalian? sampe kalian terus saja membicarakan mbak Nia" gerutu Riri pergi kekamar dan membanting pintu kamar

__ADS_1


"Riri sebenarnya kenapa sih, akhir - akhir ini gampang banget marah. apa lagi kalau membahas Nia. sepertinya Riri kurang suka ya sama Nia" ucap Bu Intan yang belum mengerti perasaan putrinya.


"Iya, Alan perhatikan juga gitu ma. tapi kalau Riri tidak suka Nia, alasannya apa ya ma? coba nanti biat Alan ngomong sama Riri Ma." ucap Alan


"Iya Lan, coba bicara sama Riri, sebenarnya dia kenapa. karena biasanya Riri ini anaknya penurut banget" ucap Bu Intan


Setelah berbicara dengan Bu intan, Alan mengirim chat untuk Nia perihal lamaran


"(Lagi apa calon istri?)" chat dari Alan terkirim


"(Lagi nunggu inpartu(bersalin), ada apa?" balasan dari Nia


"(Nanti pulang aku jemput ya? ada yang mau aku omongin)"


"(Okay)" balasan dari Nia


Ditempat lain Nur kebingungan dengan sikap Saka yang mulai menjauh, setiap dihubungi selalu ada alasan untuk menghindar darinya.


Nur yang saat ini sedang bekerja di BPS, tidak dapat berkonsentrasi dalam pekerjaannya. sampai pemilik BPS yang menyadari Nur tidak fokus dengan pekerjaannya memarahinya


"Mbak ini Bidan, yang dipegang nyawa orang bukan boneka. kalau tidak bisa memisahkan masalah pribadi dan pekerjaan terus bagaimana jika mbak Nur salah dalam penanganan? siapa yang akan bertanggung jawab?" ucap Bu Bidan Vivi Pemilik BPS


"Maaf Bu, saya salah." ucap Nur dengan mata berkaca - kaca


"Gini saja mbak, sebaiknya Mbak Nur ambil cuti dulu. jangan dulu bekerja dengan kondisi seperti ini kasian pasien - pasien yang ada disini jika bidan nya tidak bisa membedakan masalah pekerjaan dan masalah pribadi" ucap Bu Vivi emosi


Like


Coment


Add Favorit


Rating bintang lima


Vote jika ada y


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2