Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
BERTANGGUNG JAWAB


__ADS_3

Hari ini Ane dan Nia berkunjung kerumah sakit jiwa, dari kejauhan mereka sudah melihat Nur yang duduk ditaman sendiri. tatapannya tampak kosong. sejauh ini Nur selalu kuat, tapi entah kenapa saat ini Nur bisa serapuh itu seakan tidak memiliki pegangan hidup.


"Nur, ni aku Ane dan Nia. kami ada disini bagaimana keadaan kamu" ucap Ane mendekati Nur dan duduk di sampingnya.


"Nur, apa kamu tidak merindukan kami sahabatmu? apa kamu tidak merindukan anakmu Almira. anakmu membutuhkan mu Nur" tambah Nia


"Nur, apa kamuu mendengar kami?" ucap Ane lagi


Tapi seperti biasa Nur tidak menjawab dan seolah tidak menyadari keberadaan mereka.


"Nur, sadarlah, jangan seperti ini kasian mama dan anakmu mereka membutuhkan mu Nur. apa kamu tega membiarkan anak yang kamu pertahanan mati-matian sekarang sakit sendiri? Almira membutuhkan kamu disamping nya sadarlah Nur" Ane berusaha membangkitkan emosi Nur meskipun lagi-lagi tidak ada perubahan


Ane terlihat tampak sedih.


"Sabar Nia, kita semua ingin Nur sembuh. tapi saat ini sepertinya Nur belum ada kemauan untuk bangkit. mungkin jiwanya begitu terguncang" ucap Nia


"Kamu benar Nia, Nur mungkin butuh waktu untuk bisa kembali seperti sediakala mengingat beratnya beban yang dia alami selama ini. pernikahan Saka sepertinya sangat mengguncang jiwanya. selama ini Nur kuat tapi saat mengetahui pernikahan Saka, seolah sudah tidak ada keinginan buatnya melanjutkan hidup" Ucap Ane


"Nur, Ane, Nia" ucap Saka


"Kenapa kamu disini?" tanya Nia


"Aku ingin melihat keadaan Nur" jawab Saka


"Seperti yang kamu lihat, Nur sama sekali tidak menyadari keberadaan kita. jiwanya kosong dan ini semua karena kamu" ucap. Ane


"Iya Ne, aku tau aku salah. karena kebodohan ku Nur dan keluarganya menderita. karena itu aku ingin bertanggung jawab dan menebus dosa-dosaku" ucap Saka


"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Nia singkat


"Aku akan menjaga dan merawatnya sampai dia sembuh." ucap Saka


"Baguslah kalau kamu masih punya hati nurani" ucap Ane

__ADS_1


Dari rumah sakit jiwa kini Saka beralih ke tempatnya putri kecilnya dirawat. masih menggunakan alat bantu napas.


Melihat semua itu, Saka menangis dan merasa sangat bersalah


"Maafkan ayah nak, maafkan ayah" ucapnya dari kaca pembatas air matanya tak mampu lagi dibendung ada kesedihan yang mendalam yang Saka rasakan. "sesakit ini kah melihat anak terbaring sakit antara hidup dan mati"


Saka terus memandangi putri kecilnya.


"Pak maaf anda siapa nya bayi ini? sudah hampir satu minggu tidak ada keluarga yang mengunjungi nya. sedangkan biaya perawatan bayi ini terus berjalan tapi sampai saat ini belum ada pihak keluarga yang mengurusi administrasi nya" ucap salah satu perawat menghampiri Saka


"Saya, saya, saya ayahnya. saya akan mengurus administrasi nya" jawab Saka


"Baik Pak, kalau begitu. mari ikut saya ke ruang administrasi!" ucap perawat dan mengantarkan Saka untuk menyelesaikan pembayaran biaya perawatan Almira


Setelah dari ruang administrasi Saka menemui dokter yang bertanggung jawab atas Almira.


Tok.. tok..


"Masuk"


"Begini pak, saat pertama Almira masuk rumah sakit, keadaan nya sudah sangat buruk. jujur saja saya sebagai dokter yang menangani Almira hanya bisa mengataka, saat ini hanya keajaiban yang bisa menolong Almira" ucap Dokter


"Maksud dokter? apa sudah tidak ada harapan untuk kesembuhan Almira?" mata Saka berkaca-kaca


"Bukan seperti itu pak, kita manusia hanya bisa berusaha dan saya akan berusaha semaksimal mungkin. namun hasilnya kita serahkan semua pada Alloh. saya harap bapak dan pihak keluarga akan bersiap untuk semua kemungkinan termasuk kemungkinan terburuk yang kapan saja bisa terjadi pada Almira"


Kini Saka kembali melihat putri kecilnya dari luar kaca. tampak putrinya tak bergerak sedikitpun. apalagi setelah mendengar penjelasan dokter barusan.


Kepedihan itu semakin menjadi-jadi


"Seandainya ayah dulu tidak meninggalkan ibumu pasti ini tidak akan terjadi nak, maafkan kebodohan ayah nak. maafkan ayah" sesal Saka


Sesampainya dirumah Saka harus kembali berdebat dengan mamanya lantara keputusan Saka untuk menerima perceraian nya dengan Tika.

__ADS_1


"Mama tidak akan memaafkan kamu, kalau kamu benar-benar menceraikan Tika. selamanya menantu mama hanya satu yaitu Tika. jangan pernah berpikir untuk menikahi wanita gila itu. karena Mama tidak akan Sudi memiliki menantu gila seperti itu" ucap mama Saka


"Cukup ma, cukup. jangan tambahi dosa Saka biarkan Saka menebusnya ma. Saka mohon ma" tangis Saka


"Apa maksud kamu bicara seperti itu? mama hanya mau yang terbaik buat kamu. apa kamu mau menceraikan Tika demi perempuan gila seperti itu"


"Nur gila karena Saka ma, tolong ma. jangan sudutkan Nur terus, semua salah Saka. Saka yang membuat hidup mnderita hingga menjadi seperti sekarang" ucap Saka


"Berhenti menyalahkan diri kamu sendiri, ini semua salah wanita gila itu sendiri. terlalu murahan menjadi seorang wanita"


Saka yang merasa percuma berdebat dengan Mamanya memilih untuk pergi lagi.


"Mau kemana kamu Saka, Saka berhenti mama belum selesai bicara" teriak mama Saka namun tak dihiraukan oleh Saka


***


"Sayang, bagaimana keadaan Nur?" tanya Arif


"Tidak ada perubahan bang, masih sama seperti kemarin. pandangan matanya selalu kosong. tadi Saka juga dari sana dan Saka mengatakan akan bertanggung jawab pada Nur mulai sekarang. semoga saja kehadiran Saka dalam hidup Nur mampu mengembalikan kesadaran Nur" ucap Nia


"Semoga saja sayang, kalau dipikir kasian juga teman kamu itu, satu kesalahan mampu merubah hidupnya Sedratis itu" ucap Arif


"Oya bang, tadi siang Nia cerita ada lowongan pekerjaan bidan. Ane boleh nyoba tidak memasukan surat lamaran?" tanya Ane


"Kamu yakin mau bekerja?" tanya Saka melihat Ane


"Iya bang, Ane ingin mencoba bekerja"


"Lalu Amar bagaimana?"


"Mama bilang katanya mau menjaga Amar tapi nantinya Ane tetep menggunakan jasa baby sitter juga bang. karena tidak baik jika kita menitipkan anak kita pada neneknya. sejak abang kecil mama sudah merawat abang sampai dewasa, sekarang abang dewasa masak ganti kita bebani dengan mengasuh anak kita. biar mama bisa istirahat dimasa tuanya. jangan bebani dengan mengasuh anak bang. karena itu lebih baik kita sewa juga jasa baby sitter" ucap Ane


"Baik sayang, gimana baiknya saja. kamu yang atur, abang percaya sama kamu. kamu pasti akan memikirkan yang terbaik buat Amar dan mama" Arif memeluk istrinya

__ADS_1


"Terimakasih ya bang, memberikan kesempatan pada Ane untuk menyalurkan ilmu Ane"


"Apapun yang terbaik buat kamu dan keluarga kita, abang pasti akan dukung" ucap Arif mencium kening Ane


__ADS_2