
Mandengar kata - kata Bu Imah membuat Norma seakan meradang, dia kesal lantara Bu Imah memuji - muji istri Arif.
"Arif, apa kamu tau? kamu sadar saat mendengar suaraku. itu berarti kamu masih sangat mencintai aku kan sebenarnya?" ucap Norma
"Norma sebaiknya kamu keluar dan tolong jangan kaemari lagi ya, Arif ini sekarang sudah beristri. Apapun alasan kamu dulu pergi, semua itu sekarang sudah tidak penting. Hargailah perasaan Ane sebagai istri." nasehat Bu Imah
"Tapi aku dan Arif saling mencitai Tante" ucap Norma
"Norma, kamu salah. aku mencintai istriku, bukan kamu" ucap Arif lirih menahan sakit. badan nya masih terasa lemah, bahkan untuk berdebat dengan Norma saat ini pun Arif merasa tak berdaya.
"Norma, kamu sudah dengar sendiri kan yang Arif katakan? sekarang Tante minta, kamu keluar dan tolong jangan pernah temui Arif" ucap Bu Imah
"Aku yakin Arif masih mencintaiku, sekarang aku pulang dulu Arif, tapi aku pasti akan datang lagi" Norma meninggalkan ruangan Arif dan di depan pintu, dirinya melihat Ane istri sah Arif yang ternyata masih menunggu diluar.
"Kamu tau kan bagimana Arif mencintaiku? bahkan dia sadar saat mendengar suaraku, karena ingin aku kembali disisinya, jadi tolong segera tinggalkan Arif." ucap Norma menatap Ane sinis
"Berhenti bicara seperti itu pada Kak Ane! Kak Ane ini istri sahnya Bang Arif, dia lah yang harusnya bicara seperti itu ke kamu, bukan sebaliknya. wanita tidak tau diri." sahut Alan kesal dengan tingkah Norma
"Sudah Alan, ini rumah sakit. jangan ribut biarkan saja" ucap Ane senyum seolah tidak terpengaruh dengan kata - kata Norma
Melihat Norma pergi, Ane segera masuk ke ruangan menemui suaminya
Ane terdiam memandang suaminya yang sudah sadarkan diri.
Tanpa disadari sudut matanya meneteskan air mata.
Arif tersenyum melihat Ane, keduanya saling menatap tanpa berkata - kata.
"Sayang..." ucap Arif senyum memanggil istrinya.
Mungkin ini baru kedua kalinya Arif memanggil Ane dengan sebutan "sayang"
Pertama tepat saat sebelum kejadian naas itu terjadi, saat berpamitan dengan istrinya sebelum meninggalkan istrinya dimalam pertamanya. dan ini kedua kalinya saat pertama bertemu istrinya setalah baru tersadar dari tidur panjang nya.
Mendengar suaminya memanggil "sayang" jantung Ane berdetak kencang. tidak menyangka kata itu akan keluar dari mulut suaminya lagi.
"Iya Bang, Ane disini" jawab Ane mendekat dan mencium tangan suaminya.
"Maafkan Abang ya" ucap Arif lirih
"Tidak, Abang tidak salah. tidak perlu minta maaf" ucap Ane yang masih memegang tangan suaminya.
__ADS_1
"Adik pasti capek ya, menjaga Abang berbulan - bulan?" tanya Arif
"Bagaimana mungkin Ane capek menjaga suami Ane" ucap Ane menggelangkan kepala dan tersenyum
"Bang, terimaksih ya. Bang Arif sudah menyelamatkan hidup Alan" ucap Alan mendekat ke atasannya itu.
Arif hanya tersenyum mengangguk
"Alan ini sekarang malah seperti adik Ane sendiri lho Bang, selama Abang Koma setiap Hari Alan kesini. jenguk Abang, bawain Ane makanan, nganter Ane ke kampus." cerita Ane tentang kebaikan Alan.
"Terimakasih Alan sudah menjagakan Ane selama aku tidak sadarkan diri" ucap Arif
"Sudah jadi tugas dan tanggung jawab Alan Bang, kerena Abang seperi ini demi menyelamatkan nyawa Alan." ucap Alan
"Sudah - sudah, yang sudah ya sudah semua itu takdir. yang terpenting sekarang semua baik - baik saja." sahut Bu Imah
"Bang, Ane senang lihat Abang sudah bangun." ucap Ane tersenyum, bahagia melihat suaminya kembali sadar.
"Tapi kok istri Abang kurusan ya sekarang?"ucap Arif
"Gimana gak kurusan Rif, enam bulan dia gak merawat diri dengan baik. makan gak teratur disuruh pulang istirahat dirumah juga gak mau" ucap Bu Imah
"Terimaksih ya sayang, sudah sabar mengurus Abang" Arif senyum
Melihat Arif dan Ane yang sepertinya ingin melepas rindu Bu Imah mengajak Alan untuk keluar.
"Sayang....maafin Abang ya, sudah membuat Sayang pikiran." ucap Arif
"Ternyata jadi istri polisi itu seperti ini ya" ucap Ane, memanyunkan bibirnya.
Melihat istrinya yang seperti itu membuat Arif ingin tertawa dan mengusap kepala Ane yang tertutup jilbabnya.
"Lain kali jangan seperti ini lagi ya? jangan buat Ane sedih lagi" ucap Ane manja memeluk tubuh Arif
"Masyaalloh... senengnya hati Abang, istri Abang manja seperti ini" ucap Arif
Ane yang menyadari apa yang telah dilakukan langung mengangkat kepalanya dengan wajah kembali memerah
Kenapa harus malu sayang, aku ini kan suami kamu" goda Arif
"Sayang apaan sih.. " ucap Ane segera menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Abang seneng banget lho, Ane mau manggil sayang" ucap Arif senyum
Suara nada dering panggilan masuk du hape Ane.
"Assalamualikum Ma" ucap Ane
"Alhamdulillah Bang Arif sudah sadar Ma"
"Besok Mama mau ke sini??"
"Ya Ma, Walaikumsalam" Ane mematiakn sambungan telphonnya.
"Mama mau kesini dek?" tanya Arif
"Iya Bang, besok Mama sama Papa mau kesini jenguk Bang Arif" jawab Ane
"Sebenarnya Abang sudah ingin pulang dek, pengen dirawat istri Abang sendiri di rumah" ucap Arif
"Iya, nanti coba Ane tanya sama Dokter dulu ya, kira - kira kapan Abang boleh pulangnya" ucap Ane
"Ternyata enak ya nikah sama Bidan, ada yang bisa merawat kalau lagi sakit" Arif memandangi wajah istrinya tersenyum
"Tapi kalau bisa jangan sakit lah Bang, Ane takut" Ane kembali diam
"Abang tau, kamu pasti cemas ya sayang? sekali lagi maafin Abang ya sayang" ucap Arif tangannya mengusap lembut pipi istrinya.
"Tapi abang bersyukur menjadikan kamu sebagai bhayangkari Abang. karena sebagai seorang bhayangkari yang mendampingi Polisi kamu memang harus kuat seperti ini dek!" ucap Arif lagi
"Iya bang, selama enam bulan ini awalnya Ane merasa berat banget, tapi setelah itu Ane pasrahkan semuanya pada Alloh. Dan jujur sebenarnya beberapa hari ini, Ane merasa sedikit terganggu maksud Ane, ada yang mengganggu pikiran Ane." ucap Ane ragu.
"Apa yang mengganggu pikiran Adik?" tanya Arif
"Norma" ucap Ane ragu
"Norma? maksud adik? apa adik cemburu?" Arif senyum
"Apa Abang masih mencintainya?" tanya Ane menatap Arif
Dan Arif pun menatap Ane senyum
"Bodoh, mana mungkin Abang nikah sama kamu kalau masih mencintainya" ucap Arif senyum mencolek hidung istrinya.
__ADS_1
"Kok malah ngatain Ane Bodoh" ucap Ane manyun dan melipat tangannya ke depan.
"Ya salah sendiri lucu, jangan berpikir yang tidak - tidak istriku. Abang mencintai Ane bukan yang lain jadi jangan dengarkan orang lain. cukup percaya Abang" yakin Arif