Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
CH 180


__ADS_3

Sore ini Ane dan Alan mengunjungi Nana ke rumahnya.


"Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam, eh ada pak Arif dan Ane. mari masuk!" ucap Bu Indah


"Terimakasih Bu, kami dengar Nana sakit, jadi kami ingin menengoknya" ucap Ane


"Iya Ne, dari kemarin Nana rewel terus mencari mamamnya. huh.. mama tidak tau lagi harus bicara apa soal Nia" Bu Indah menghela nafas kasar


"Yang sabar ya bu, ini ujian. semoga saja kita semua bisa mengambil hikmah dari kejadian ini dan semoga Alan juga kuat menghadapi ujiannya'


"Amin. sebentar ya, tante panggil Alan dulu" Bu Indah berlalu memanggil Alan


"Alan, ada Pak Arif dan istrinya didepan"


"Suruh tunggu sebentar ya ma, ini Alan lagi gantiin baju Nana"


Setelah mengganti baju Nana, Alan dan Putrinya keluar menemui Arif dan Ane


Alan menjadi sosok ayah yang sangat baik untuk Nana, berusaha membuat Nana melupakan ibu yang sudah melukai hatinya.


"Bang Arif, kak Ane. eh.. ada si ganteng. Nana lihat itu ada Amar, mainan sama Amar mau?" tanya Alan pada putrinya


"Kirain yang kamu bilang ganteng aku Lan?" canda Arif


"Hahaha.. bisa saja ini Bang Arif"


"Lho bang Arif kan emang beneran ganteng Lan, masak kamu gak tau?" imbuh Ane


"Iya, iya. bang Arif yang ganteng. mana ada kecap nomer dua, pasti semua kecap bilangnya nomer satu" Alan terkekeh


"Gitu dong senyum. kita kan juga bahagia kalau kamu bisa tersenyum seperti itu"


"Iya bang terimakasih ya bang"


"Oya, Nana bagaimana masih rewel?" tanya Arif


"Alhamdulillah sudah jauh lebih baik bang, panasnya sudah turun. juga sudah tidak bertanya tentang Nia lagi"

__ADS_1


Alan dan Arif memandang ke arah Nana dan Amar yang sedang bermain.


Nana tampak bahagia bermain dengan Amar dan sejenak melupakan mamanya yang selama beberapa hari ini selalu dicari-cari kedatangan Amar membuat Nana melupakan mamanya.


"Terimakasih ya bang, kehadiran Amar sepertinya membuat Nana senang" Alan menatap Nana


"Iya sama-sama Lan, kami sengaja membawa Amar kesini supaya bisa mengalihkan perhatian Nana" jawab Arif


"Semisal nanti Nana kembali rewel, ajak saja kerumah kami Lan, biar bermain sama Amar. atau besok semisal kamu mau kerja, bawa saja Nana kerumah biar aku nanti yang menjaganya. gimana mas boleh kan?" tanya Ane pada Arif


"Tentu saja boleh sayang, biar Amar juga ada teman main. gak papa Lan, untuk sementara ini setiap pagi antarkan saja Nana kerumah biar fokusnya teralihkan. tapi apa kamu yakin dengan keputusan kamu ini Lan?"


"Keputusan yang mana maksud abang?" Alan melihat Arif


"Keputusan untuk menjauhkan Nana dari mamanya"


"Yakin bang, ini Alan lakukan demi kebaikan Nana. Alan tidak ingin Nana tau seperti apa kelakuan mamanya"


"Ya sudah jika itu sudah menjadi keputusanmu" ucap Arif


****


"Tasya baik pa, memangnya apa yang bisa terjadi kalau mama bersama Tasya, mama pasti akan menjaga Tasya dengan baik. tapi sayang wanita sebaik mama disia-siakan begitu saja"


"Tasya, papa tidak ada maksud menyia-nyiakan mama kamu, papa masih sangat mencintai mama Anggun, papa khilaf Sya! bagaimana keadaan mama? apa mama baik-baik saja? apa mama tidak akan merubah keputusannya sya?"


"Papa pikir apa mama bisa baik-baik saja setelah apa yang sudah papa lakukan pada mama. pah, apa papa tidak berpikir sebelum papa bertindak? papa ini juga punya anak perempuan, bagaimana kalau anak perempuan papa ini dipermainkan seperti papa mempermainkan mama dan wanita itu?"


Tentu saja kata-kata Tasya menjadi tamparan keras buat Dokter Sigit. bagaimana tidak? selama ini dirinya hanya berburu kesenangan tanpa berpikir hal yang sama seperti yang dikatakan Tasya.


Seharian ini Dokter Sigit terus merenungi apa yang telah dikatakan Putri semata wayangnya.


Dokter Sigit segera ke Semarang menemui Dokter Anggun yang saat ini masih berstatus sebagai istrinya.


"Ada apa memintaku bertemu disini?" tanya Dokter Anggun mendatangi Dokter Sigit disebuah rumah makan


"Aku ingin membicarakan masalah rumah tangga kita"


"Masalah apa yang mau dibahas? aku sudah mengurus semuanya. pengacara yang menangani perceraian kita" ucy Dokter Anggun dan menyeruput es coklat yang ada dihadapannya.

__ADS_1


"Apa sudah tidak mungkin lagi bagi kita untuk kembali bersama?" Dokter Sigit menghela nafas berat


"Apa kamu tidak memikirkan nasib anak yang saat ini dikandung wanita itu?"


"Bagaimana kamu seyakin itu kalau itu anakku, sedangkan dia sampai sekarang juga masih mempunyai suami?"


"Huh.. Mas Sigit, Mas Sigit. dari awal kamu tau dia sudah mempunyai suami. tapi kenapa kamu melakukannya? terlepas benar atau tidak dia anak kamu, kenyataannya kamu sudah melakukannya dan ada kemungkinan memang benar dia anak kamu. bukankah kalian bisa melakukan tes DNA setelah anak itu lahir?"


"Jika nanti hasil tes DNA menunjukkan dia bukan anakku, apa kamu mau kembali bersamaku lag?"


"Apapun hasil tes DNA itu tidak merubah sedikitpun keinginanku untuk berpisah dari kamu, entah anak itu anak kamu atau bukan yang pasti kamu sudah menghianati aku. aku bisa memaafkan apapun kesalahan kamu kecuali satu penghianatan. aku tidak akan pernah mentolerir yang namanya penghianatan. bukankah dari awal aku sudah memberitahu kamu soal hal ini?"


"Baiklah aku memang salah, dan aku tidak berhak memaksa kamu untuk memaafkan aku. aku terima keputusan kamu untuk bercerai. bukan karena aku menyerah dengan cinta kita tapi aku tidak ingin membuatmu menderita lagi karena kesalahanku" ucap Dokter Sigit dengan mata berkaca-kaca menyesali perbuatannya.


Mendengar perkataan Dokter Sigit, Dokter Anggun yang sebenarnya masih menyimpan rasa cinta untuk suami yang sudah menghianatinya segera berlalu. langkahnya terasa berat, air mata mulai tak terbendung lagi, sekuat tenaga berusaha tegar dan tidak menangis. nyatanya rasa sakit itu begitu menyeruak dihatinya.


Begitu juga Dengan Dokter Sigit yang meneteskan air matanya dan memandang Dokter Anggun hingga punggung istrinya tak nampak lagi oleh penglihatannya.


Dokter Sigit mengambil ponsel dari dalam sakunya, dan mencari kontak dengan nama "Nia"


Segera menggeser tombol hijau untuk memanggilnya.


"Assalamu'alaikum Mas"


"Walaikumsalam, sekarang kamu dimana? temui aku di cafe green"


"Sekarang?"


"Iya aku tunggu sekarang" jawab Dokter Sigit mematikan panggilan


Sementara Nia masih bertanya-tanya dengan keinginan Dokter Sigit yang mendadak memintanya untuk bertemu. setelah beberapa hari begitu sulit untuk menemuinya.


"Apa mungkin sekarang mas Sigit sudah berubah pikiran? apa mungkin mas Sigit akan bertanggung jawab dengan anak ini?" Gumam Nia memegangi perutnya yang masih rata


^Happy Reading^


Maaf ya sayang,


Sebenarnya dari kemarin udah up tapi entah kenapa masih review terus dan susah untuk Up🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2