
Bu Risma yang panik dengan sikap Nur yang hanya terdiam dengan tatapan kosong. matanya mulai berkaca - kaca dan menumpahkan air mata
"Dek, kamu kenapa? kenapa kamu seperti ini dirumah saya?" ucap Bu Risma takut dilihat tetangga yang lewat
"Bagimana kalau kita masuk dulu? jangan seperti ini ya, nanti dikira kamu kenapa sama tetangga" jelas Bu Risma dan Nur menurut masuk kerumah
Nur yang sudah terduduk diruang tamu menangis meratapi nasibnya
"Sebenarnya apa yang terjadi antara kamu dan Saka? kenapa kamu seperti ini?" Ucap Bu Risma yang menyadari ada sesuatu antara wanita didepannya dengan Saka
"Tante, saya hamil anak Saka?" ucap Nur terbata - bata
"Apa maksud kamu? jangan asal sembarangan kalau bicara?" ucap Bu Risma tidak percaya
"Saya tidak sembarangan bicara tante, sata mengatakan yang sebenarnya" ucap Nur menangis
"Saya tau anak saya, Saka tidak akan mungkin melakukan hal seperti itu. lagian, setau saya Saka tidak pernah menceritakan nama Nur didepan saya. yang saya tau pacar anak saya bernama Nia. bahkaan Saka meminta saya untuk segera melamar Nia. tiba - tiba kamu muncul bilang hamil anak Saka. mana mungkin saya percaya?" ucap Bu Risma murka
"Saya tidak bohong tante, saya bisa buktikan kalau anak yang saya kandung anak Saka. teman saya tau kalau saya berhubungan dengan Saka" ucap Nur
"Saya tetap tidak akan percaya. bisa saja kan teman kamu sekongkol sama kamu untuk memfitnah Saka. bagaimana bisa kamu bilang hamil anak Saka, sedangkan Saka saja baru pulang berlayar" ucap Bu Risma
"Tante apa mungkin saya akan bohong masalah seperti ini, Saka dua bulan yang lalu pernah pulang tiga hari kan tante? saat itu lah kami bertemu" ucap Nur mencoba menyakinkan Bu Risma
"Apa Saka tau tentang semua ini?" tanya Bu Risma
"Tau tante?" jawab Nur mengangguk
"Lalu apa yang Saka katakan?" tanya Bu Risma tanpa mandang Nur
"Saka tidak mau mengakuinya tante" ucap Nur terisak tangis
"Kamu sudah dengar langsung kan berarti dari Saka? kalau Saka saja tidak percaya bahwa anak yang kamu kandung itu anak Saka. bagaimana mungkin saya percaya?" ucap Bu Risma
"Tante saya mohon, saya mohon tante percaya sama saya. saya tidak bohong tante. anak yang ada dalam kandungan saya memang anak Saka cucu tante" ucap Nur menjatuhkan dirinya kelantai menyentuh kaki Bu Risma
__ADS_1
"Sudah lah percuma kamu seperti ini. saya juga tidak bisa berbuat apa - apa. kamu tunggu saja Saka kembali berlayar. baru kalian bahas masalah ini" ucap Bu Risma
"Tapi tante, bagaimana nasib saya dan anak ini" ucap Nur memegang perutnya
"Lalu? kamu mau saya seperti apa? Saka juga tidak mungki kembali dalam waktu dekat. karena sudah terikat kontrak selama dua tahun dengan kapal luar negeri." ucap Bu Risma
"Begini Nur, bukan maksud tante tidak mau tau soal kamu. tapi tante juga tidak bisa mempercayai begitu saja kalau itu anak Saka. terlebih tante tidak penah tau kalau Saka dekat dengan Kamu. tante hanya akan percaya jika ada bukti. kita tunggu bayi itu lahir baru kita lakuakan test DNA." ucap Risma
"Lalu saya harus bagaimana tante? orang tau saya tidak akan memaafkan saya jika saya harus melahirkan tanpa menikah tante" tangis Nur
"Itu bukan urusan saya. lagi pula harusnya kamu pikirkan ini sejak awal. sebelum kamu melakulannya harusnya kamu sudah tau dengan segala konsekuensinya kan" ucap Bu Risma
"Saat itu Saka mengatakan akan tanggung jawab tante" ucap Nur memelas
"Nur, Nur, bagaimana bisa kamu sebodoh itu. sebenarnya obrolan ini percuma Nur karena tidak ada Saka disini. dan tante tidak bisa merawat anak itu sebelum jelas siapa ayah dari anak itu" ucap Bu Risma
Dengan berat hati. Nur melangkah meninggalkan kediaman Bu Risma. dengan langkah lunglai dan pandangan kosong, Nur melangkah menyusuri sepanjang jalan tanoa arah dan tujuan.
Sampai sebuah jembatan. Nur melihat air sungai yang terlihat cukup tenang namun dalam.
Namun Nur teringat anak yang tak berdosa yang saat ini ada didalam rahimnya.
"Maafkan Mama Nak, tidak seharusnya Mama punya pikiran seperti ini. Mama yang berdosa tapi kamu tidak anakku. kamu berhak untuk hidup" gumam Rara memegangi perutnya dan mengusap air matanya
***
Hari minggu yang ditunggu Nia dan Alan pun sampai kini keduanya sudah duduk berhadapan dengan kedua orang tua Nia dan Alan di Blora.
"Jadi kedatangan kami kemari untuk menyampaikan niat baik anak kami untuk mempersunting putri bapak yang bernama Nia" ucap Pak Sandi pada pak Karsa
"Kami sebagai orang tua menyerahkan semua keputusan pada anak kami. intinya orang tua manut pak" jawab pak Karsa
"Piye nduk? semua keputusan ayah serahkan sepenuhnya padamu. Ayah dan ibu akan merestui pilihanmu" tamabahnya lagi
"Nia bersedia menikah dengan mas Alan yah" jawab Nia tertunduk malu
__ADS_1
"Baik karena semua sudah sepakat. bagaimana kalau kita sekalian cari hari baik untuk menikahkan putra putri kita pak" usul pak Sandi
Setelah pembicaran yang cukup panjang hari pernikahan Nia dan Alan pun sepakat akan digelar tiga Bulan lagi.
Rona kebahagian menyelimuti wajah kedua calon pengantin.
Ini lah yang dinamakan jodoh. terkadang pacarannya sama siapa menikanya sama siapa.
Pacaran lama tidak menjamin akan sampai pada pernikahan.
Itu lah yang dialami Nia dan Saka menjalin hubungan selama tiga tahun pun akhirnya kandas karena yang hanya memberi janji sejatinya akan kalah sama yang memberi bukti.hehehe..
Perempuan itu tidak membutuhkan janji - janji manis. tapi perenpuan itu membutuhkan bukti yang bisa membuatnya merasa aman dan nyaman.
"Mas Alan terimakasih, sudah membuktikan ketulusan kamu. dan tolong kedepannya bimbing aku untuk bisa menjadi istri yang sholehah untuk mu" ucap Nia menatap mata Alan
"Begitu juga aku dek Nia, tegur Mas, jika mas melakukan kesalahan. seorang suami juga hanya mamusia yang tidak selamanya benar. kita sama - sama belajar untuk menjadi seorang hamba yang jauh lebih baik. kita niatkan pernikahan kita ini sebagai ibadah. karena sejatinya ibadah yang terpanjang itu pernikahan. semoga dengan menikah dapat meningkatkan ketaatan kita kepada Alloh." ucap Alan bijaksana
"Masyaalloh, adem hati Nia mas mendengar kultum dari calon suami hehehe" goda Nia
"Jujur mas sudah tidak sabar untuk segera menikah denganmu dex. biar kita bisa selalu beribadah bersama mencari Ridho Alloh" ucap Alan
"Iya Mas, kan tidak lama lagi. tinggal tiga bulan saja kok" ucap Nia senyum
"Tiga bulan itu lama, bisa tidak sih dicepetin gitu hahaha" ucap Alan ketawa
Like
Coment
Add favorit
Vote
Terimakasih
__ADS_1