Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
CH 269


__ADS_3

Satu bulan kemudian


Hari ini Rara datang dari Surabaya bersama dengan kakek, tante Riri dan Om Farhan.


Sesampainya di rumah, semua menyambut kedatangan Rara, begitu juga dengan Nana.


"Anak Mama pasti capek ya, kalau mau istirahat ke kamar dulu saja sayang," ucap Anggun.


"Masih kangen sama Mama dan Papa," ucap Rara manja memeluk erat Mama nya.


"Manja banget anak Mama, padahal sebentar lagi jadi pengantin. Tapi manjanya masih kayak gini," goda Anggun mencolek hidung Rara.


"Tidak terasa ya, sebentar lagi kamu akan jadi istri orang" ucap Alan menatap Rara dan tersenyum.


"Iya mas, padahal seingat Mama. Kamu itu baru saja Mama lahirkan. Tiba-tiba udah segede ini dan sebentar lagi akan menjadi seorang istri," ucap Anggun dengan mata berkaca-kaca.


"Mama kok malah sedih, jangan nangis Ma. Nanti Rara ikut nangis," ucap Rara manja.


"Siapa yang nangis? Mama ini justru lagi bahagia sayang, karena sebentar lagi kamu akan menjadi istri dari laki-laki yang baik dan sholih. Mama percaya Amar akan menjadi suami yang baik untuk kamu dan Mama juga yakin kalau kamu akan bahagia menikah dengan Amar, " ucap Anggun.


"Terima kasih ya mah, Rara sayang Mama," ucap Rara memeluk Anggun. Sedangkan Nana sejak tadi hanya memperhatikan tanpa bicara sepatah katapun.


"Nana, sini sayang. Kenapa dari tadi hanya diam? Nana tidak sedang sakit kan?" tanya Anggun karena Nana tampak termenung.


"Tidak Ma, hanya sedang berpikir kira-kira yang kurang apa lagi ya Ma? Untuk persiapan pertunangan Rara?" tanya Nana.


"Sepertinya udah semua sih, sayang," jawab Anggun.


"Rara, kamu harus berterima kasih pada Kak Nana. Kamu tau? semua persiapan untuk pertunangan kamu dan Amar, itu semua Nana yang melakukannya," puji Anggun.


"Benarkah? Terima kasih ya kak, Rara sayang sama kak Nana," ucap Rara.


"Kakak hanya ingin kamu bahagia Ra," jawab Nana mencoba tersenyum.


Alang merasa bahagia, karena bisa melihat kedua putrinya akur dan saling menyayangi.


Begitu juga dengan Anggun, kini kecemasan dalam hatinya sudah hilang. Tidak bisa dipungkiri, beberapa hari ini Anggun sempat khawatir kalau Nana akan kembali mengacaukan hubungan Rara dan Amar. Tapi melihat apa yang Nana lakukan sekarang, Anggun sekarang yakin dan percaya kalau Nana memang sudah benar-benar berubah.

__ADS_1


"Ya sudah kalian masuk ke kamar sekarang, istirahat lebih awal. Karena besok pasti akan jadi hari yang melelahkan," Sahut Alan.


"Tapi malam ini, pasti Rara tidak akan bisa tidur kak, besok kan hari bahagia Rara," timpal Riri.


"Tidur lah Tan, kalau Rara tidak tidur, besok pas hari bahagia malah kayak mata panda, karena kurang tidur kan gak lucu," jawab Rara tersenyum.


"Tante tidak menyangka lho, kalau ponakan Tante sudah pada besar, huh.. rasanya baru kemarin sore, tante lihat kalian berlari-larian. Tidak taunya sekarang sudah pada dewasa," ucap Riri menghela nafas.


"Nenek bersyukur, nenek dan kakek masih bisa melihat Rara sebentar lagi akan menikah, sekarang nenek juga berdoa. Semoga nenek juga masih bisa melihat Nana menikah nantinya," ujar Bu Indah.


"Dengarkan keinginan Nenek Na, nenek ingin melihat kamu menikah," sahut Riri


"Nanti kalau sudah waktunya juga pasti menikah kok Tan, tapi masih perlu sedikit waktu lagi," sahut Nana.


"Eh..Tante dengar, katanya ada junior Papa kamu yang mau dijodohkan sama kamu?" tanya Riri.


"Igh.. apaan sih Tan, tidak ada. Papa aja itu yang terlalu bersemangat," jawab Nana.


"Kak Nana mau dijodohkan pah?" sahut Rara.


"Sudah-sudah, jangan bahas Nana lagi. Intinya kalau sudah waktunya, pasti Nana akan menikah kok. Tidak perlu risau," ucap Nana tersenyum.


Entah apa yang ada dipikiran Rara, namun Rara memiliki kenyakinan tentang dirinya dan Amar.


***


Dikamar


"Mas, kenapa aku merasa kalau Nana itu punya rencana ya? entah kenapa aku tidak begitu percaya dengan keponakan aku yang satu itu." ucap Riri.


"Jangan berpikir buruk dulu sayang, kalau pun Nana pernah mencintai Amar, itu kan masa lalu. Sudah bertahun-tahun kan? aku yakin, perasaan itu sudah berubah seiring berjalannya waktu, " jawab Farhan.


"Iya aku tau mas, aku pun berharap semoga Nana benar-benar tidak membuat ulah, aku khawatir kalau dia sampai berulah." Riri yang cukup mengenal sifat keponakannya seperti apa, seakan tidak begitu percaya dengan perubahan Nana.


Apa lagi masalah perasaan, pasalnya Riri sendiri pernah mengalami bagaimana saat dirinya mencintai Alan, namun perasaan cinta itu harus di kuburnya demi menjaga keutuhan keluarga ini, dan Riri juga harus berpura-pura untuk bilang kalau dirinya sudah melupakan perasaannya dan hanya menganggap Alan sebagai kakak.


Hah.. nyatanya itu semua tidak benar, sudah bertahun-tahun lamanya, nyatanya perasaannya itu masih ada.

__ADS_1


Riri pun sekarang berharap semoga Nana juga bisa belajar untuk mengikhlaskan Amar dan tidak merusak kebahagiaan Rara.


"Hai.. kenapa malah bengong?" tanya Farhan.


"Terima kasih sayang," ucap Riri.


"Terima kasih untuk apa? habis bengong kok malah berterima kasih? gak jelas deh kamu sayang," ucap Farhan


"Hehehe.. cuma mau bilang terima kasih saja sayang, tidak perlu ada alasan kan untuk mengucapkan terima kasih?" ucap Riri tersenyum.


"Terima kasih, karena kamu sudah hadir disaat yang tepat sayang. Meskipun rasa cintaku masih terpaut untuk kak Alan, tapi setidaknya dengan hadirnya kamu. Aku dan kak Alan bisa menjalani kehidupan normal tanpa harus merasa canggung karena aku pernah mengejar cinta kakak ku." batin Riri.


***


Dirumah Arif


"Alhamdulillah, semua sudah siap Bang. Semoga acara besok berjalan dengan lancar ya Bang," ujar Ane duduk di samping Arif.


"Tadi Alan juga telpon dan mengabarkan kalau semua sudah beres. gedung buat acara besok juga sudah 100%," ucap Arif.


"Alhamdulillah, ini yang mau punya acara malah sampai jam segini belum pulang juga Bang," gerutu Ane.


"Amar, tidak bilang hari ini pulang jam berapa sayang?" tanya Arif.


"Tadi sudah ngabari Bunda sih Bang, kalau hari ini pulang malam, karena ada operasi." jawab Ane.


"Tapi besok Amar ijin tidak masuk kan?" tanya Arif.


"Ya, iya lah Bang, masak yang tunangan mau kerja, kan gak lucu Bang hehehe.. " Ane tertawa.


"Kali aja Bun, Amar itu kan kalau masalah pekerjaan tidak bisa diganggu gugat, " ucap Arif.


"Seperti siapa kalau seperti itu? Amar itu gila kerja karena nurun dari Ayahnya. yang suka banget kerja," gerutu Ane.


"Bukan gila kerja sayang, kami ini hanya merasa punya tanggungjawab pada pekerjaan," jawab Arif.


^Happy Reading^

__ADS_1


__ADS_2