
Satu bulan setelah kepergian Viko, selama itu juga Ane ataupun Nia belum pernah berkunjung menemui Nur ataupun Almira. mereka masih sibuk dengan pekerjaan mereka sendiri dan menghibur suami mereka yang masih dalam suasana berduka kehilangan rekan kerjanya.
Kali ini Ane dan Nia mengajak suami mereka untuk sekedar refresing melihat hawa pegunungan yang tak jauh dari kota mereka.
"Heemm.. suasananya enak banget ya bang, udaranya sejuk sekali" ucap Ane membentangkan kedua tangannya menikmati sejuknya udara pegunungan
"Ne lihat, ada kuda. kita naik kuda yuk" ucap Nia menunjuk kuda
"Kalian saja, aku tunggu kalain disini" sahut Alan yang belum pernah tersenyum sejak kepergian seniornya
mereka bersedih teringat nasib anak-anak Viko yang masih kecil.
"Abang juga mau disini apa mau ikut naik kuda?" tanya Ane
"Abang biar disini saja sama Alan. kalian naik. kuda berdua saja" jawab Arif
"Yeah.. kalian gak asik, kita kesini kan tujuannya untuk berlibur kalau kalian malah diam-diaman seperti ini tadi sebaiknya kita tidak usah pergi saja" ucap Nia
"Kita tau kalian bersedih, kami juga bersedih atas kepergian bang Viko, tapi kita tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan. hidup harus terus berjalan. pekerjaan kalian juga sudah menanti. jangan sampai kepergian bang Viko mempengaruhi kinerja kalian. aku yakin bang Viko tidak suka melihat kalian seperti ini" ucap Ane
setelah mendapat pencerahan dari Ane dan Nia, Arif dan Alan merasa sedikit bisa meletakkan beban pikiran mereka dan menikmati liburan mereka.
sementara dirumah Saka
Almira menangis seharian, Hampir tidak ada waktu bagi Tika untuk sekedar istirahat atau makan dengan baik.
baru satu suapan nasi masuk kedalam mulutnya, Almira sudah menangis minta digendong. Tika benar-benar merasa kuwalahan mengurus Almira
"Ma, Boleh Tika titip Almira sama mama sebentar saja, Tika sakit perut mau kekamar mandi sebentar" ucap Tika
"Tidak, tidak. mama mau arisan. sudah mama katakan jangan urusi anak itu, taruk saja kepentingan asuhan" ucap bu Risma
"Sebentar saja ma" ucap Tika memohon
"Tidak, mama tidak mau mengurusi anak pembawa sial ini" bu Risma pergi meninggalkan Tika
Tika yang sudah tidak tahan lagi karena perutnya sakit, meletakkan Almira diranjangnya.
Tapi Tika lupa, sekarang Almira sudah bisa berguling sendiri.
"Oeeekk.. ookkk... " Almira menangis
Tika segera berlari keluar
"Astaghfirullah Almira" ucap Tika panik melihat Almira jatuh ke lantai
__ADS_1
Dengan tergesa-gesa Tika berlari membawa Almira kerumah sakit.
"Bagaimana keadaan anak saya Dok?" tanya Tika panik
"Alhamdulillah anak ibu tidak apa-apa. tidak ada yang serius yang terjadi namun saya harap ini menjadi yang pertama dan terakhir. jangan sampai hal serupa terjadi lagi. karena akan sangat berbahaya" ucap Dokter
"Baik Dok, saya mengerti"
Sepanjang perjalanan didalam taxi Tika menangis, ternyata tidaklah mudah merawat bayi seorang diri. namun dirinya juga tidak tau harus meminta bantuan dari siapa. Satu-satunya orang dirumah hanya mertuanya tapi jelas tidak mungkin mengharapkan mertuanya untuk membantu.
Meminta bantuan kepada yang lain jelas tidak mungkin lagi, semua orang memiliki kehidupan sendiri-sendiri tidak mungkin baginya untuk merepotkan yang lain.
yang bisa Tika lakukan hanya menangis
"Maafkan tante sayang, maafkan tante. tante tidak bisa menjagamu dengan benar." ucap Tika menangis memandangi Almira yang sedang tertidur di pangkuannya
Tidaklah mudah bagi Tika untuk bisa menjalani semua ini. ini kali pertamanya merawat seorang bayi bahkan tanpa bantuan siapapun. setiap hari dilaluinya dengan tangisan lantara capek dan tidak tau harus berbuat apa disaat Almira sedang rewel.
***
Setelah meluangkan waktunya untuk berlibur selama dua hari, Ane kembali ke aktifitasnya
"Hai Ne" sapa Nina
"Mbak Nina, mas Gilang" Ane menyalami keduanya
"Iya mbak, Ane kerja disini. kalian kesini..? apa mbak Nina hamil ya?" tebak Ane karena Mereka berada dipoli kandungan
"Alhamdulillah, Alloh mempercayai kami untuk menjadi orang tua" jawab Nina senyum memegang perutnya yang masih rata.
"Alhamdulillah, Ane ikut senang. semoga semuanya lancar sampai persalinan"
semuanya mengamini doa Ane.
"Oya Arif gimana? apa masih suka diam kalau dirumah, soalnya kalau dikantor aku perhatiin masih suka diam. suasana dikantor sekarang benar-benar berbeda terasa seperti tidak ada kehidupan setelah kepergian Viko"
"Iya mbak, dirumah juga masih sama sering ngalamun. hanya sesekali saja saat bermain dengan Amar, bang Arif bisa tertawa. kepergian bang Viko benar-benar membuat bang Arif kehilangan sosok seorang sahabat" ucap Ane
"Iya aku faham itu, aku saja sebenarnya juga merasakan hal yang sama seperti itu. kadang kalau lagi dikantor aku juga sering terlintas saat kami bercanda bersama, memecahkan kasus bersama, makan bersama. apalagi Arif yang sudah bersahabat dengan Viko semenjak mereka SMA. Viko tempat curhatan bagi Arif mereka sudah seperti kakak beradik kemana-mana selalu bersama. jadi wajar saja bagi Arif kalau masih berduka sampai saat ini" ucap Nina
"Ibu Nina" panggil seorang perawat
"Eh, aku kesana deluan ya. sudah dipanggil" ucap Nina
"Okey mbak" ucap Ane senyum padat Nina dan Gilang
__ADS_1
Ane mengambil ponselnya dan menghubungi suaminya
"Assalamu'alaikum bang"
"Walaikumsalam"
"Abang lagi apa?"
"Lagi mempelajari laporan, ada apa dek?"
"Tidak apa-apa, nanti malam mau makan diluar tidak?"
"Amar gimana? sepertinya kita terlalu seru meninggalkan Amar sendiri"
"Amar kita ajak saja bang, kan amat sudah besar juga. sudah bisa diajak kemana-mana"
"Baiklah kalau begitu, nanti abang usahakan pulang cepat ya"
"Iya bang, ya sudah Ane kembali bekerja dulu. Assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam" Arif menutup telponnya
Ane berusaha untuk menghibur suaminya agar tidak terus-terusan larut dalam kesedihan pasca kepergian sahabat sekaligus rekan kerjanya Viko.
***
Malam ini mereka sudah siap untuk pergi makan malam diluar, namun Amar malah sudah tertidur dengan pulasnya.
"Bang, sepertinya makan malam kita diluar gagal" ucap Ane
"Kenapa?" Arif melihat istrinya
"Amar sudah bobok nyenyak. kasian kalau dibangunkan" ucap Ane
"Kalian pergi saja, biar mama yang jaga Amar. kan ada si embak juga disini yang bantu mama jaga Amar" ucap Bu Imah tau Putranya butuh hiburan agar tidak terus-terusan sedih.
"Tapi ma, Ane tidak enak. Mama sudah menjaga Amar dari tadi pagi. mama juga butuh istirahat" ucap Ane
"Tidak apa-apa, mama senang kok menjaga Amar. sudah kalian pergi saja."
"Gimana bang" tanya Ane melihat suaminya
"Ya sudah, kita pergi saja. sudah siap juga kan" ucap Arif
"Kami pergi dulu ya ma" pamit Arif dan Ane
__ADS_1
"Iya hati-hati, have fun ya!" bu imah senyum
terimakasih dukungan nya sayanx2 nya akoh π₯°π mohon maaf ya jika terkadang karakternya tidak sesuai dengan harapan kalian ππjngan lupa like, coment dan vote ya dan jangan lupa juga subscribe okeyππ