
Hari ini Nia merasa sangat lemah, kepalanya pusing, setiap makan atau minum selalu muntah hingga tidak ada nutrisi yang masuk kedalam tubuhnya.
Disaat seperti ini batinnya terasa teriris, berbeda saat dirinya mengandung Nana. dulu saat dirinya mengandung Nana banyak orang yang memperhatikannya, mencarikan segala apa yang dia inginkan. sekarang dirinya hanya bisa menangis sendirian didalam sebuah ruangan yang terlihat kecil dan sempit.
"Apakah ini hukuman dari dosa yang sudah aku lakukan karena menghianati mas Alan? tapi aku tidak mungkin seperti ini terus. kasian anakku jika harus lahir tanpa ayah. aku harus bicara sama mas Alan" gumam Nia lirih
Segera Nia mengambil ponselnya dan menghubungi Alan
"Assalamu'alaikum, ada Nia?"
"Walaikumsalam mas, mas aku ingin bicara sama kamu?"
"Bicara apa?"
"Apa bisa kamu datang ke tempatku sebentar saja mas"
"Kenapa aku harus kesana? maaf aku tidak ada waktu"
"Tolong mas, sebentar saja. aku lagi sakit mas?"
"Kamu lucu Nia, kalau kamu lagi sakit harusnya jangan menghubungi aku tapi kamu hubungi laki-laki selingkuhan kamu, kecuali kalau kamu kemalingan boleh itu kamu hubungi aku" ucap Alan ketus
"Mas, tega kamu bilang seperti itu mas" ucap Nia dengan mata berkaca-kaca
"Huh.. aku tega? bagaimana bisa kamu bilang aku tega? apa kamu tidak berfikir justru kamu yang tega selama ini"
"Mas, aku tau aku salah saat itu aku khilaf mas. tapi aku sudah berusaha meminta maaf sama kamu kan mas? tolong maafkan aku dan setidaknya kasiani aku mas, saat ini aku sedang sakit. aku, aku hamil mas" ucap Nia
"Selamat ya atas kehamilan kamu" ucap Alan sontak membuat Nia membulatkan mata tidak percaya dengan apa yang telah didengarnya.
"Mas, kamu_?" ucap Nia terpotong
"Huh.. kamu pikir aku bodoh, mau mengakui anak hasil perselingkuhan kamu? Nia, Nia dasar tidak punya malu. aku sudah bicarakan semua ini dengan pengacara, kalau saat ini kamu hamil anak dari selingkuhan kamu, pengacara yang akan mengurus semuanya. biar proses perceraian kita bisa dipercepat." terang Alan
"Apa kamu tidak takut jika ternyata anak ini anak kamu mas?"
"Huh.. bagaimana mungkin itu anakku, kamu pikir aku itu bodoh ya? bagaimana bisa kamu hamil anakku dengan usaha kehamilan empat minggu? jika kita saja sudah empat bulan lebih mungkin tidak pernah berhubungan. kamu pikir saja siapa yang dalam waktu dekat tidur dengan kamu" ucap Alan ketus dan menutup telponnya
"Mas, mas!" teriak Nia dan membanting hapenya
"Apa yang harus aku lakukan dengan anak ini? bagaimana caraku menghidupinya?" Nia terisak
Dengan tubuh yang lemah Nia berusaha bangun dan menguatkan dirinya untuk mencari Dokter Sigit.
__ADS_1
"Kamu harus bertanggung jawab mas, kamu tidak bisa lari seenaknya sendiri setelah apa yang sudah aku korbankan untuk kamu. anak ini berhak untuk dapat pengakuan dari ayahnya" gumam Nia
Dengan sempoyongan Nia sampai ke apartemen Sigit namun sepertinya apartemen itu sudah kosong. laki-laki yang dicarinya sepertinya sudah tidak lagi berada dikota ini. Beruntung Nia ingat asal kota Dokter Sigit dan dimana putrinya bersekolah. tanpa pikir panjang Nia pergi bergegas ke kota asal Dokter Sigit.
Karena sampai sana malam Nia memutuskan untuk menginap dihotel malam ini. sesampainya dihotel Nia segera membaringkan tubuhnya yang lemah diranjang. matanya menerawang dan tampak cairan kristal disudut matanya mulai membasahi pipi Nia.
Hatinya juga merasakan rindu yang teramat pada putrinya Nana.
"Ya, Alloh kenapa semua menjadi seperti ini? begitu berat hukuman ini ya Alloh" Nia terisak.
Hingga Nia terlelap karena kecapean meratapi nasibnya saat ini.
***
Keesokan harinya, Nia yang hanya berbekal nama sekolah Tasya nekat untuk mendatangi Tasya ke sekolahnya. tidak terlalu sulit untuk mencari sekolah Tasya karena Tasya bersekolah di sekolah favorit yang ada dikota P.
"Tasya, ada yang mencari kamu saat ini sedang menunggu kamu diruang Guru" ucap wali kelas Tasya.
"Siapa bu?"
"Ibu juga kurang tau, katanya teman ayah kamu"
"Teman ayah?" gumam Tasya
"Apa anda yang mencari saya?" Tasya melihat
"Iya, kamu Tasya anak Dokter Sigit kan?" tanya Nia tersenyum
"Iya, saya Tasya. anak Dokter Sigit. anda siapa?" Tasya menatap Nia penuh dengan tanda tanya, hatinya mulai tidak anak apalagi sudah beberapa hari mamanya pergi dan papanya selalu menghindar jika ditanya perihal mamanya.
"Kenalkan saya Nia teman papa kamu" Nia mengulurkan tangannya dan Tasya masih diam tidak membalas
"Saya tau kamu pasti bertanya-tanya kenapa saya mencari kamu sampai kesekolah ini" ucap Nia kembali menarik tangannya karena tidak dibalas oleh Tasya
"Apa tujuan anda datang kesini?"
"Tasya tolong pertemukan tante dengan papa kamu"
"Kenapa harus saya? kenapa tidak langsung bertemu dengan papa?"
"Papa kamu meninggalkan tante dan calon adik kamu yang saat ini ada dalam kandungan tante" ucap Nia meneteskan air mata
"Apa maksud tante sebenarnya? adik apa?" Tasya membulatkan matanya
__ADS_1
"Saat ini tante sedang hamil adik kamu Tasya. anak Dokter Sigit. tapi papa kamu tidak mau bertanggung jawab" ucap Nia
"Tante bohong, papa Tasya tidak mungkin seperti itu. Tasya sudah punya mama. jangan pernah datang kesekolah Tasya lagi" teriak Tasya
Tasya segera berlari Keluar ingin segera bertemu dan menanyakan hal tersebut pada papanya
Didalam taxi Tasya menghubungi papanya
"Assalamu'alaikum"
"Walaikumsala, ada apa Sya? kenapa telpon papa disaat jam sekolah?"
"Siapa Nia pa?"
"Nia? maksud kamu?"
"Jawab Tasya pa, siapa itu Nia?" Teriak Tasya terisak
"Tasya sayang, sekarang kamu dimana? kita bicara dirumah ya? Tasya ada dimana?"
"Tasya dijalan mau pulang. jawab Tasya pa! siapa itu Nia?"
"Oke, kita bicara setelah Tasya sampai rumah. papa tunggu Tasya dirumah
Dari mana Tasya tau soal Nia? apa Anggun menemui Tasya dan menceritakan semuanya" gumam Dokter Sigit bertanya-tanya
Dengan derai air mata Tasya kembali ke rumah dan menghujani papanya dengan pertanyaan
"Jadi Nia datang kesekolah kamu?" Dokter Sigit tercengang dan membulatkan matanya tangannya mengepal menahan emosi yang membuncah
"Apa yang wanita itu katakan?"
"Dia bilang ingin bertemu dengan papa karena papa sudah meninggalkan dia dan adik Tasya yang saat ini ada didalam kandungnya" Tasya terisak
"Adik Tasya?" Dokter Sigit membulatkan matanya
"Apa bener yang dikatakan wanita itu pa? apa ini penyebabnya mama pergi dari rumah ini?"
"Sayang, dengarkan papa ya! lain kali kalau dia datang lagi menemui kamu, jangan dihiraukan."
"Jawab dulu pa? apa dia penyebab mama pergi? apa benar dia hamil anak papa?" cerca Tasya
^Happy Reading^
__ADS_1
Terimakasih dukungannya 🙏