
Keesokan harinya, Saka memutuskan untuk menjual mobil kesayangannya. ditatapnya nominal yang ada di buku rekeningnya.
"Alhamdulillah insyaallah cukup untuk biaya perawatan Almira dan Nur" gumam Saka yang duduk disamping ranjang nya.
"Saka mama masuk" mama Saka membuka pintu kamar Saka
"Kamu dirumah, tapi mobil kamu kok tidak ada? kamu kemanakan mobil kamu?" selidik mama Saka
"Saka jual ma" jawab Saka singkat
"Kamu jual? kenapa kamu jual? itu kan mobil kesayangan kamu. apa kamu mau ganti mobil batik?" tanya mama Saka
"Tidak ma, uang dari penjualan mobil. Saka akan gunakan untuk biaya perawatan anak Saka dan Nur" Ucap nya
"Kamu sudah gila? kamu bener-bener gak waras Saka. apa yang merasuki pikiranmu" mama Saka tercengang
"Justru karena Saka waras ma, Saka melakukan ini semua. Nur tidak punya si apa- siapa lagi. mama nya Nur bahkan sudah tidak perduli dan tidak pernah lagi menjenguk Nur dan Almira dirumah sakit" ucap Saka merasa sedih mengingat itu semua
"Kalau mama kandungnya sendiri saja tidak perduli, untuk apa kamu perdulikan dia. hanya membuang-buang uang saja. bahkan kita tidak pernah tau sampai kapan dia akan seperti itu. mungkin bisa membutuhkan waktu bertahun-tahun. lalu semua biaya akan selamanya kamu yang tanggung?" mama Saka emosi
"Iya ma, Saka akan menanggung semua biayanya sampai Nur dan Almira sembuh" jawab Saka
"Apa? mama tidak mengerti denganmu Saka, dulu mati-matian kamu merengek minta tolong sama Mama untuk menyembunyikan kamu karena tidak mau menikah dengan Nur, sekarang dengan bodohnya kamu bersikap seperti ini"
"Dulu Saka tidak mengerti, kalau perbuatan Saka akan menghancurkan hidup banyak orang. bukan hanya Nur tapi juga seluruh keluarga dan anak kami" sesal Saka
"Anak kami? sekarang sepertinya seru sekali kamu bilang seolah-olah itu anak kamu. ingat Saka. kamu tidak menginginkannya" teriak mama Saka
"Itu dulu ma, sekarang Saka benar-benar menyayanginya. Saka merasa berdosa pernah menelantarkan dia" ucap Saka
"Setelah mobil kamu jual, apa lagi yang akan kamu jual untuk biayanya mereka?"
"Yang pasti Saka akan melakukan apapun untuk menebus semua kesalahan Saka ma" ucapnya
__ADS_1
"Bodoh kamu Saka" ucapnya meninggalkan Saka
Di kamar mama Saka memikirkan cara untuk mencegah Putranya bertanggung jawab pada Nur. mama Saka sangat tidak menyukai keberadaan Nur.
Mama Saka mencoba menemui Tika. dan memohon agar Tika kembali kepada Saka.
"Tidak ma, Tika tidak bisa melakukan itu biarkan Saka bertanggung jawab atas kesalahan" Tika
"Apa kamu akan menyerah begitu saja dengan pernikahanmu? apa kamu rela menjadi janda. jadi seorang janda itu tidak mudah Tika. lihatlah mama, dari anak-anak kecil mama berjuang sendiri. dihina diremehkan karena mama seorang janda. apa kamu mau seperti itu sayang?" mama Saka berusaha merubah pikiran Tika
"Lebih baik, Tika menjadi janda tapi terhormat dari pada Tika harus pura-pura menutup mata atas kehancuran perempuan lain. apa tante pikir, Tika bisa bahagia diatas penderitaan wanita lain? tidak ma, Tika tidak bisa" ucapnya
"Apa yang Tika katakan benar jeng. biarlah Tika menjanda dari pada bahagia diatas penderitaan orang. saya tidak mengajarkan anak saya untuk menyakiti orang lain. walaupun ini semua sebenarnya bukan kesalahan kami. seandainya dari awal kamu mengatakan yang sebenarnya, aku tidak mungkin mau menikahkan anakku dengan anakmu "sahut bu Hesti mama Tika
"Apa maksud kamu? kamu menyesal menikahkan anak-anak kita? ini bukan kesalahan Saka perempuan itu yang salah. dia menggoda Saka. dia itu perempuan murahan, karena itu Saka tidak mau menikahi nya"
"Ma, sudah jangan menyalahkan mbak Nur, mereka dari keluarga baik-baik, Tika tau itu semua. bahkan saat mereka memilih untuk tidak melaporkan Saka kekantor polisi karena masih berharap akan ada etika baik dari Saka untuk bertanggung jawab. mereka dengan sabar menanti itu semua. hingga sekarang keluarga mereka berantakan seperti itu. ma.. mama juga punya anak perempuan kan? coba bayangan apa yang akan terjadi jika itu sampai terjadi pada anak perempuan mama?" ucap Tika
"Kamu yang sabar ya nak, ini semua kesalahan mama. yang tidak mencari tau dulu seperti apa laki-laki yang mama jodohkan denganmu. seandainya mama tidak memaksakan kehendak mama untuk menikahkan mu dengan Saka. kamu tidak harus menjadi janda seperti ini" sesal bu Hesti menangis memeluk putrinya
"Tidak apa-apa ma, jangan menyalahkan diri mama sendiri. ini semua takdir yang harus Tika jalani. Tika iklas menjalani semua ini ma. dan Tika yakin akan ada hikmah dibalik semua ini" ucap Tika senyum
***
Hari pertama Ane bekerja
untuk pertama kalinya setelah sekian lama kini Ane mengenakan seragam putih-putihnya kembali.
Ada perasaan senang, harus dan bangga pada dirinya sendiri.
"Senyum-senyum sendiri" ucap Arif memeluk Ane dari belakang
"Hari ini pertama kalinya Ane bekerja. tentu saja Ane senang bang. tapi jujur saja, Ane juga sedikit gugup."
__ADS_1
"Itu wajar sayang, nanti lama-lama juga akan terbiasa." Arif memberi semangat pada istrinya
Arif mengantarkan Ane sampai depan rumah sakit
"Pulangnya nanti abang jemput ya"
"Iya bang" Ucap Ane melambaikan tangannya
Ane sangat senang, hari pertamanya bekerja bisa menjalankan tugasnya dengan baik. bahkan dihari pertamanya kerja langsung disambut kelahiran bayi kembar. dan tentu saja itu membuat Ane semakin bersemangat dan yakin untuk menjalani profesinya ini. bisa menolong orang saat bersalin itu merupakan kebahagiaan tersendiri bagi seorang bidan. apalagi bidan pemula seperti Ane.
Sepulang kerja, Arif sudah ada diparkiran menunggu Ane selesai bekerja.
"Assalamu'alaikum" ucap Ane
"Walaikumsalam" Arif senyum menjawab salam istrinya
"Huft... " Ane membuang nafas dan menyandarkan tubuhnya
"Capek banget istri Abang?" tanya Arif
"Iya bang, hari pertama kerja langsung disambut dengan partus. tau gak bang anaknya kembar lucu sekali"cerita Ane dengan sangat antusias
"Em.. apa kamu mau punya anak kembar? bagaimana kalau kita program anak kembar?
"Tidak.. tidak, Amar masih kecil bang, bagaimana mungkin mau program anak kembar. kasian Amat nanti kasih sayangnya terbagi"
"Ketakutan kamu tidak beralasan sayang. yang namanya anak itu ada porsinya masing-masing dihati orang tua tidak akan mungkin hanya karena punya anak lagi mengurangi porsi sayangnya anak pertama"
"Dan lagi sayang, lebih baik punya banyak anak. menjadi anak tunggal itu tidak enak. rasanya sepi. itu yang abang rasakan. kamu kan juga anak tunggal, apa kamu tidak merasakan kesepian?" tanya Arif
"Iya juga sih bang, terkadang dulu Ane juga sering merasakan kesepian karena tidak punya saudara. bahkan Ane sering iri melihat kedekatan adik dan kakak"
Terimakasih syanx sudah memberikan dukungan kepada author. ijin promosi ya, author punya novel baru dengan judul "TAK CINTA BUKAN BERARTI LAMPU MERAH" jangan lupa mampir dan beri dukungan juga ya dengan like, coment dan Vote 🙏🙏 jangn lupa subscribe juga ya😘😍🥰
__ADS_1