
Sayup-sayup terdengar suara Adzan shubuh, Nia yang sudah terbangun karena harus mengurus nana yang dari jam tiga sudah terbangun dan minta digendong.
"Sayang, kamu terlihat capek sekali kelihatannya. sudah berapa lama Nana minta digendong?" tanya Alan
"Iya mas, nana minta digendong sejak jam tiga tadi" jawab Nia
"Jam tiga? ya Alloh sayang.. kenapa tidak bangunkan aku? kita kan bisa gendong bergantian" ucap Alan
"Tidak apa-apa mas, Nia tau mas Alan juga sudah capek bekerja. kan semalam tidur mas Alan juga sudah malam banget kan"
"Terimakasih ya sayang, kamu mengerti pekerjaan mas dan rela capek menggendong Nana sendiri" ucap Alan mengecup kening Nia
"Iya, ya sudah sekarang mas Alan sebaiknya segera sholat subuh. nanti pagi tolong jagain Nana ya, Nia mau minta ijin juga untuk pergi kerumah sakit menjenguk Nur. kemarin Ane telpon kalau Nur sudah bisa diajak bicara. dan hari ini Ane minta ditemani menjenguk Nur" ucap Nia
"Alhamdulillah kalau Nur sudah ada kemajuan. ya sudah nanti biar seharian ini Nana aku yang jaga, kamu jalan-jalan aja dulu nanti sama Ane. tidak usah buru-buru pulang. kamu juga butuh waktu untuk dirimu sendiri. mungkin mau ke salon atau mungkin mau berbelanja. intinya hari ini kamu tidak usah khawatir dengan Nana. percayakan Nana sama Ayah Alan yang serba bisa ini"ucap Alan tertawa
"Kamu ini paling bisa membuat hati istri senang mas. tapi terimakasih ya mas, aku memang sepertinya butuh ke salon biar rileks mas"
"Iya, mas ngerti. tidak mudah memang mengurusi seorang bayi. dan kamu memang seorang ibu yang hebat"ucap Alan yang sangat mengagumi Nia
Pagi ini setelah memandikan Nana membuat sarapan buat Alan dan mertuanya, Nia pamitan untuk menjenguk Nur kerumah sakit, pasalnya semenjak hamil Nia tidak diijinkan untuk menjenguk Nur oleh mertuanya.
Sampai dirumah sakit ternyata Ane sudah menunggunya didepan pintu masuk rumah sakit.
"Ane, kamu sudah disini. bang Arif mana?" tanya Nia melihat sekeliling
"Bang Arif sudah pergi, tadi itu cuma nganter saja sampai sini terus ditinggal lagi deh ngurusin kerjaan. kamu tau kan sekarang ini selain bertugas sebagai Polisi bang Arif juga harus mengurus perusahaan keluarga. jadi lumayan sibuk sekarang" ucap Ane
"Wah bang Arif ini memang hebat. padahal sebagai polisi saja sudah sibuk masih bisa ngurusin perusahaan" Nia mengacungkan jempolnya
"Iya gimana lagi, bang Arif kan anak satu-satunya. mau tidak mau ya harus tetap mau hehehe" Ane tertawa
"Ya sudah ayo kita masuk" ucapnya lagi
Ane dan Nur sampai dikamar tempat Nur mendapatkan perawatan
"Assalamu'alaikum"
__ADS_1
"Walaikumsalam" jawab Nur menoleh kearah pintu
"Nur" ucap Ane dan Nia merasa senang dan segera memeluk Nur
Mereka bertiga menangis berpelukan. melepaskan rindu setelah sekian lama merasa tidak seperti ini
"Nur, kamu sudah sembuh. kamu ingat aku?" tanya Ane
"Kamu juga ingat aku kan? sahut Nia menunjuk dirinya
"Hehehe.. kalian ini apaan sih, ya pasti ingat lah. kalain ini kan sahabatku. mana mungkin aku lupa. dan Nia maafkan aku ya, aku berdosa sama kamu. maafkan aku Nia. tolong maafkan aku" ucap Nur menggengam tanggan Nia
"Nur, sudah ya. jangan minta maaf terus. aku sudah melupakan itu semua. aku kan juga sudah punya keluarga sekarang. justru aku harusnya berterima kasih sama kamu." ucap Nia memeluk Nur
"Aku memang bodoh Nia, rasa cintaku pada Saka membutakan mata hatiku. bahkan aku lupa, kalau aku akan menyakiti sahabat baikku" ucap Nur tak mampu menahan cairan bening disudut matanya
"Sudah ya, jangan dibahas lagi masalah itu. kita lupakan saja." Nia menyeka air mata Nur
"Nia bener Nur, yang sudah terjadi dimasa lalu biarlah terjadi. tidak usah kita bahas dan kita ungkit lagi. jadikan ini pembelajaran untuk kita semua. jangan sampai kesenangan dunia membuat kita lupa akan akan dosa yang harus kita pertanggung jawaban sampai akhirat."Ucao Ane
"Iya Ane, selama ini sepertinya aku sudah terlalu lalai dan meninggalkan sholat. Alloh pasti sangat membenci ku" tangis Nur kembali pecah
"Apa Alloh Akan menerima taubatanku Ne?" ucap Nur menatap mata Ane
"Pasti Nur, Alloh Akan memaafkan taubatan hambanya. dan Alloh Akan senang jika hambanya mau bertaubat" ucap Ane
"Aku malu sama Alloh Nur, rasanya aku tidak pantas. aku sudah berlumpur dosa!" tangis Nur
"Nur, kamu jangan bicara seperti itu. bukankah Alloh lebih menyukai taubatan dari seorang pendosa dari pada seorang hamba yang sholih tapi merasa dirinya selalu benar" ucap Ane
Nur menangis sejadi-jadinya mengingat dosa-dosa yang selama ini dilakukannya.
Nur mengajak Ane dan Nia untuk berjalan-jalan di taman, sekedar untuk menghirup udara seger.
Karena darinya merasa bosan berbaring terus dikamar.
Di taman Nur menanyakan soal apa yang dialami nya selama ini.
__ADS_1
"Jadi selama ini aku itu gila ya?" pertanyaan Nur membuat Ane dan Nia saling memandang
"Kamu tidak gila Nur, kamu hanya sedikit tertekan saja hingga kamu melupakan kita semua" jawab Nia
"Tidak usah menghiburku Nia, kalauaku tidak gila mana mungkin aku dirawat disini" ucap Nur melihat sekeliling yang dipenuhi dengan orang gila. Ada yang hanya diam, ada yang membawa boneka kemana-mana, ada yang menyanyi sendiri.
"Aku dulu seperti yang mana?" ucap Nur
Nia dan Ane saling menatap
"Sudah Nur, yang penting sekarang kamu sudah baik-baik saja." jawab Nia
"Oya boleh aku tanya sesuatu sama kalian?" ucap Nur.
"Mau tanya apa Nur?" tanya Ane
"Em.. kenapa sejak aku bisa mengingat semuanya. yang datang kesini hanya Saka dan kalian. kenapa mama dan papa tidak kesini? apa mereka belum tau aku sudah sembuh? dan dokter mengatakan seminggu lagi jika keadaanku tetap stabil aku boleh pulang kerumah.
"Nur" ucap Ane ragu ingin menyampaikan yang sebenarnya dan melihat Nia, Nia pun mengangguk
Karena cepat atau lambat Nur memang harus tau keadaan yang sebenarnya
"Sebenarnya papa kamu" ucap Ane kembali terhenti. rasanya begitu sulit ingin menyampaikan berita kepergian papanya Nur
"Papa kanapa? kenapa Ane? tolong katakan papa kenapa?" papa kenapa Nia?"tanya Nur melihat Ane dan Nia bergantian
"Okay, kami beritahu. tapi kamu janji tenang ya! semua ini sudah kehendak Alloh dan tidak ada satu manusia pun yang bisa mengubah takdir Alloh" ucap Nia
"Iya, Aku janji, tolong kasih tau aku, papa kok kenapa?" Nur melihat Ane
"Papa kamu, sebenarnya papa kamu sudah kembali kepangkuan Alloh" ucap Ane
"Innalilahi Wainailahi rojiun" ucap Nur. air matanya kembali pecah
"Kapan papa perginya?" tanya Nur datar
"Sebelum kamu dibawa kesini tepatnya saat Almira masuk rumah sakit dan keadaan kamu seperti ini. papa kamu pergi kerumah Saka dalam keadaan marah. siapa sangka disana papa kamu terkena serangan jantung" Nia menceritakan kepergian papa Nur
__ADS_1
"Astaghfirullah Papa, ini semua salahku, ini salahku" Aku yang membuat papa meninggal" Nur terisak dipelukkan Ane
"Sudah ya, jangan menyalahkan diri sendiri" ucap Ane mengelus punggung Nur