
"Ma, apa benay yang mbak ini katakan? Saka bukan orang seprti itu kan ma?" rengek Tika
"Bukan, Mama tau Saka, wanita ini hanya wanita yang tidak tau malu. mengemis cintanya Saka"
"Tante, tante tega bicara seperti itu. kalau tante meragukan anak ini. ayo kita tes DNA tante. sekarang kita bisa lakukan itu untuk membuktikan apa saya berbohong" tantang Nur
"Untuk apa? tidak perlu. saya lebih percaya anak saya"
"Apa tante benar-benar yakin sama Saka? kalau tante yakin kenapa tidak berani tes DNA?biar semua jelas"
"Aku rasa mbak ini benar ma, saya juga tidak bisa menerima kenyataan ini kalau sampai mas Saka seperti itu."ucap Tika
"Tika, apa kamu lebih percaya sama wanita tidak jelas ini ketimbang suami kamu sendiri?" teriak mama Saka
"Bukan saya tidak percaya mas Saka ma, hanya saja, biar semua jelas. dan mbak ini juga mendapat keadilan. kasih anak yang tidak berdosa ini" Tika iba melihat Almira menangis
"Kenapa kamu harus perduli dengan wanita tidak tau diri seperti itu" mama Saka geram
"Ma, kita sama-sama perempuan, tidakkah ada sedikit rasa iba dihati mama. apa lagi anak sekecil ini harus terlunta-lunta seperti ini" mata Tika berkaca-kaca
"Jangan bodoh Tika, itu bukan urusan kita. dia sendiri yang terlalu gampang jadi perempuan! biar dia tanggal sendiri akibatnya"
"Cukup tante, jangan hina saya terus. iya saya salah. saya terlalu bodoh mempercayai janji-janji yang Saka ucapkan. tapi tidak kah tante tau, saya melakukan hal tercela itu dengan anak tante" Nur tidak dapat lagi menahan emosi nya dengan semua hinaan mama Saka
"Semisal pun itu betul anak Saka, saya tidak sudi memiliki cucu yang lahir dari seorang ibu murahan seperti kamu."
Bagai tersambar petir disiang hari, hari Nur hancur lebur mendengar hinaan demi hinaan yang keluar dari mulut mama Saka, nenek Almira.
"Ya Alloh, sehina ini kah diriku?" tangis Nur pecah pikiran menerawang jauh
Hujan turun begitu derasnya, Nur yang lingung dengan bodohnya berjalan menyusuri jalan di bawah guyuran hujan bersama Almira. bahkan Nur tidak menghiraukan tangisan Almira yg mungkin bisa dibilang hipotermi.
"Nur, kamu gila ya. anak sekecil ini kamu biarkan kehujanan" teriak Saka yang kebetulan lewat dan melihat Nur berjalan menggendong bayi dibawah guyuran air hujan.
Nur yang masih linglung hanya diam tak merespon.
Dengan cepat Saka mengambil Almira dari tangan Nur dan mendekapnya.
Saka menarik Nur masuk ke mobil dan segara membawa kerumah sakit.
Dijalan Saka mulai panik melihat Almira sudah berhenti menangis badannya terlihat biru dan lemah.
Saka mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah derasnya air hujan yang turun saat itu.
Darah lebih kental dari pada air, mungkin itu kata yang tepat. meskipun Saka belum pernah melihat Almira sebelumnya dan Saka yang menolak mengakui keberadaan anak ini saat masih dalam kandungan, nyatanya seperti kebakaran jenggot saat melihat kondisi Almira yang hampir sekarat.
Mungkin mulutnya mengatakan menolak tapi hati kecilnya tidak bisa dibohongi lagi. dirinya sangat menghawatirkan keadaan Almira.
Dirumah sakit, Saka berlari mendekap bayinya.
__ADS_1
"Dokter tolong, dokter tolong" teriak Saka di IGD
Dokter dan perawat segera datang dan memberikan tindakan.
Setelah Almira mendapatkan perawatan di inkubator, dokter mempersilahkan Saka dan Nur masuk
"Bapak, ibu. anak kalian mengalami hipotermi. dan keadaan nya sangat menghawatirkan. yang saya heran bagaimana bisa anak kalian seperti ini? apa yang sebenarnya terjadi? tanya dokter Lina
Nur yang masih tampak belum sepenuhnya sadar kalau anaknya sakit hanya diam.
"Tadi mamanya hujan-hujanan dok" jawab Saka
"Hujan-hujanan? bagaimana mungkin bayi diajak hujan-hujanan?" Dokter Lina tampak heran dan mengamati Nur yang sepertinya tidak merespon diajak bicara
"Bapak, sebaiknya saya sarankan bawa istri bapak ke psikolog. sepertinya listri bapak membutuhkan perawatan dari seorang psikolog" ucap dokter Lina
Saka menatap Nur yang memang terlihat tak bergeming melihat anaknya sakit.
"Sebenarnya dia bukan istri saya" ucap Saka
"Oh.. Maaf Pak, saya pikir istri bapak. lantas dimana suaminya? tolong segera hubungani keluarganya. karena ini bukan masalah sepele. hampir saja ibu ini membunuh anaknya sendiri" ucap Dokter Lina
"Baik dok, saya akan segera hubungi keluarganya" jawab Saka
Saka memapah Nur keluar, Nur yang masih dengan pakaian basahnya hanya diam tanpa ekpresi
"Nur, kenapa kamu jadi seperti ini? Aku tidak menyangka aku begitu kejam hingga membuat kamu seperti ini. saat aku terlalu pengecut untuk menerima kenyataan kamu hamil. aku tidak menyangka kamu jadi seperti ini" Ucap Saka melihat Nur dengan perasaan sedih
Panggilan dari Tika
"Assalamu'alaikum mas"
"Walaikumsalam"
"Mas di mana? bisa segera pulang? ada yang harus kita bicarakan"
"Mas ada dirumah sakit"
"Rumah sakit, mas kenapa? mas baik-baik saja kan? Tika panik
"Aku baik-baik saja, nanti aku jelaskan sampai rumah. sudah dulu ya tunggu aku dirumah"
"Baik Mas, Asalamualaikum"
"Walaikumsalam" Saka menutup telpon dan kembali mendekatke Nur
Melihat Nur hanya bengong rasanya sakit hati Saka.
Nur yang sadar saat ini berada dirumah sakit temu Nia bekerja segera keruangan Nia
__ADS_1
"Nia, ada yang nyari kamu tu diluar" ucap teman Nia
"Siapa?"
"Sepertinya mantan pacar kamu"
"Mantan pacarku" Nia yang penasaran segera keluar
"Saka" Nia bingung melihat kedatangan Saka
"Nia, tolongin Nur Nia" ucap Saka gugup
"Nur? kenapa dengan Nur? "
"Dia sepertinya dalam kondisi yang tidak baik. tadi aku melihatnya berjalan dijalan sambil menggonggong anaknya"
"Astaghfirullah, lalu bagaimana keadan Almira?"
"Anak itu saat ini sedang ada diruang NiCU karena hipotermi" Saka terlihat sedih
"Lalu Nur dimana?"
"Ayo ikut aku"
Saka membawa Nia menemui Nur
"Astaghfirullah Nur, kamu kenapa seperti ini" Nia sedih
"Saka tolong carikan baju ganti buat Nur, dia bisa sakit kalau tidak segera ganti baju"
"Baik Nia, aku keluar sebentar cari baju buat dia"
Saka berlari ke toko baju mencari baju buat Nur.
Sementara Nia berusaha mengajak ngobrol Nur tapi Nur tidak merespon. sepertinya dia bahkan tidak menyadari anaknya sakit.
Tak lama Saka kembali membawa baju ganti buat Nur, dengan dibantu Nia. Nur kini sudah berganti baju.
Dibantu Nia juga Nur duduk kembali diruang tunggu.
"Saka, sebenarnya apa yang terjadi? kenapa Nur seperti ini? aku kemarin baru saja ketemu dia. dan dia baik-baik saja" Nia heran
"Aku juga tidak mengerti. tadi aku tidak sengaja melihatnya dijalan"
"Apa kamu sadar Saka, Nia harus mengalami semua ini karena kamu. kamu laki-laki yang tidak punya hati. habis manis sepah kamu buang. kamu tau hampir satu tahun dia menghilang dan putus kontak dengan keluarganya demi melahirkan anak kamu"
Haiii sayang, sebentar lagi lebaran. aku mau mengucapkan selamat hari raya idul fitri. mohon maaf lahir dan batin ya🙏
Terimakasih untuk dukungan dari kalian semua 🙏
__ADS_1
Author juga mau sekalian promosi Novel baru dengan judul "TAK CINTA BUKAN BERARTI LAMPU MERAH"
ceritanya insyaallah tidak kalah seru.😉