Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
CH 267


__ADS_3

"Dimas kalau lagi senggang main-main saja kerumah, biar Nana juga ada taman ngobrol. Karena adiknya Nana saat ini masih kuliah di Surabaya, jadi Nana sering kesepian dirumah" timpal Alan yang berusaha untuk mendekatkan Nana dan Dimas


"Iya Pak" jawab Dimas menganggukkan kepalanya


"Nana kan jarang dirumah pah, setiap hari dari pagi sampai malam kerja. Mana ada waktu untuk main-main" sahut Nana


"Kamu itu tidak perlu bekerja sekeras itu Na, masalah pekerjaan kan staf mama juga sudah banyak dikantor, kamu manfaatkan waktu muda kamu untuk mengenal orang lain. Nana ini orang nya sangat tertutup Dim" timpal Anggun melihat Nana dan Dimas Seraya tersenyum


"Begitu ya tante" ucap Dimas


"Bukan tertutup Ma, tapi Nana memang sedang ingin fokus pada karir. Nana tidak mau memikirkan yang lain" timpal Nana


Nana sepertinya sudah bisa menangkap alasan kenapa Anggun siang ini sangat memaksa dirinya untuk ikut makan siang bersama. Nana menyadari hal ini di sengaja untuk mempertemukan dirinya dengan Dimas.


***


"Pah, mah. Nana tau tadi itu sengaja kan?" tanya Nana saat sampai dirumah


"Pulang ke rumah itu salam dulu, jangan langsung ngomel-ngomel seperti itu" Sahut Alan


"Assalamu'alaikum" ucap Nana sambil memanyunkan bibirnya


"Papa belum jawab, tadi itu sengaja kan? Papa dan mama sengaja kan mempertemukan Nana sama Dimas? jangan bilang kalau ini tidak sengaja?" ucap Nana


"Iya kalau sengaja kenapa? apa salahnya papa mengenalkan kamu dengan laki-laki yang baik. Ini juga demi kamu" jawab Alan


"Benar apa yang papa katakan Na, usia kamu juga sudah cukup untuk memiliki pendamping hidup dan mama lihat Dimas anak nya baik, sopan, ganteng." timpal Anggun


"Ma, jangan ikut campur masalah pribadi Nana! dan jangan coba lagi untuk berusaha menjodohkan Nana dengan siapapun" ucap Nana kesal


"Nana, jaga bicara kamu sama Mama. Cepat minta maaf sama mama" ucap Alan dengan nada tinggi


"Sudah mas Tidak apa-apa, jangan terlalu keras sama Nana!" ucap Anggun menenangkan Alan


"Maafkan Nana mah" ucap Nana tertunduk


"Iya tidak apa-apa Na, sebaiknya Nana segera istirahat. Soal tadi maafkan papa dan mama juga. Tapi niat kami baik, bukan ingin ikut campur tapi kami memikirkan kamu" ucap Anggun


"Nana permisi ke kamar" ucap Nana berlalu


"Mas jangan terlalu kasar sama Nana" ucap Anggun


"Aku nggak ngerti dengan jalan pikiran Nana, apa salahnya mengenalkan Nana sama Dimas, kamu tau sendiri kan? Dimas orang nya seperti apa?" ucap Alan

__ADS_1


"Iya, aku paham mas. Tapi kita kan juga tidak bisa memaksa Nana mas" ucap Anggun


"Siapa yang memaksa, kita kan tidak memaksa. Kita hanya mengenalkan Nana pada laki-laki yang baik. Tapi lihat tanggapannya? apa yang sebenarnya ada didalam pikiran anak itu?" ucap Alan


"Sudah-sudah, yang tenang. Biarkan Nana berpikir dulu" ucap Anggun


"Aaggghhh..... " Teriak Nana kesal melemparkan tas kekasur


"Ini pasti mereka lakukan, karena Rara mau menikah dengan Amar? mereka pasti takut kalau Aku akan kembali mengganggu hubungan mereka. Kenapa sih kalian itu tidak ada yang mau percaya sama aku? tapi karena kalian sudah meragukan aku, kenapa tidak sekalian saja?" gumam Nana tersenyum menyeringai


***


Dirumah sakit Sehat Medika


"Amar, kita makan siang bareng yuk" ajak Vita


Ya Vita teman kuliah Amar, dan sekarang juga jadi dokter residen dirumah sakit yang sana dengan Amar. Sebenarnya bukan secara kebetulan tapi memang Vita yang menyimpan rasa untuk Amar terus saja mencari cara agar bisa dekat dengan Amar dengan harapan suatu saat Amar akan melihat dirinya.


"Boleh, kebetulan saya juga baru mau makan" jawab Amar yang sekarang sudah mulai tidak terlalu bersikap dingin dengan Vita


Disela obrolan saat Amar sedang makan siang, Amar menerima panggilan masuk dari Rara, yang mengabarkan kalau bulan depan dirinya akan pulang ke Semarang untuk mempersiapkan acara tunangan.


"Itu tadi pacar kamu Mar?" tanya Vita


"Lebih tepatnya Calon istri" tambah Amar


"Uhuk.. uhuk.. " Vita tersedak mendengar perkataan Amar


"Ma-maksud kamu?" kembali Vita bertanya


"Iya kami akan segera menikah, masih menunggu dia Wisuda sih tapi bulan depan rencananya kami mau tunangan dulu" ucap Amar


"Tunangan? bulan depan?" Vita tercengang dengan pernyataan Amar


"Iya, kamu datang ya! Ranu juga akan datang katanya" ucap Amar


"Kamu benar-benar serius akan menikahi Gadis kecil itu Mar?" tanya Vita yang masih beli percaya


"InsyaAlloh serius, kamu kan juga sudah tau. Aku menunggu Rara sejak Rara itu masih SMP. Tentu saja aku sangat serius" ucap Amar


"Em.. Mar.. aku, aku kembali duluan ya, aku lupa ada janji dengan pasien" ucap Vita buru-buru pergi


"Tidak dihabiskan dulu makanan nya?" tanya Amar.

__ADS_1


"Tidak, aku duluan" ucap Vita berlalu


Hatinya terasa ngilu dan sakit, sekarang harapannya kandas. Amar sebentar lagi akan menikah. Itu berarti sudah tidak ada lagi kesempatan bagi dirinya untuk bisa bersama dengan Amar.


Ditaman yang ada dirumah sakit, Vita duduk dan menumpahkan semua air matanya


Mencintai seseorang yang tidak mencintai kita memang akan terasa sangat menyakitkan. Sejak pertama kali mengenal Amar, Vita sudah menjatuhkan pilihan untuk mencintai Amar. Walaupun Vita tau mencintai Amar hanya akan membuatnya sakit hati. Karena Amar tidak pernah melihatnya lebih dari seorang teman.


***


"Na, ikut Mama yuk belanja. Mumpung hari libur" ucap Anggun


"Mau belanja apa ma?" tanya Nana


"Ini mau beli perlengkapan untuk persiapan acara tunangan Rara dan Amar. Bulan depan kan mereka tunangan, takutnya nanti ada yang kurang kalau tidak dari sekarang persiapannya" jawab Anggun


"Mereka benar-benar akan tunangan bulan depan ma? kenapa harus buru-buru tunangan?" tanya Nana


"Om Arif dan Tanya Ane menghendaki seperti itu, kita pihak permpuan hanya mengikuti kemauan dari pihak laki-laki" jawab Anggun


"Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam, sepertinya ada tamu Na. Coba kamu lihat siapa yang datang" ucap Anggun


Nana berjalan kedepan untuk membuka pintu


"Dimas? ada perlu apa? kamu mencari papa ya?" tanya Nana.


"Iya, pak Alan meminta saya untuk datang kemari" jawab Dimas.


"Ya sudah silahkan masuk, saya panggilkan papa" ucap Nana


"Siapa yang datang Na? tanya Anggun.


"Dimas ma" jawab Nana berlalu dan memanggil Alan yang ada di kamar


"Kamu yang nyuruh Dimas kesini mas?" tanya Anggun


"Iya, aku yang nyuruh" jawab Alan sambil jalan menuju ruang tamu.


"Hai Dim, saya suka anak muda yang tepat waktu kayak gini" ucap Alan saat sampai ruang tamu


^Happy Reading^

__ADS_1


__ADS_2