
Setelah satu jam Irma menunggu Arif, akhirnya yang ditunggu kini ada dihadapannya.
Arif yang tampak heran melihat penampilan Irma tidak seperti sedang ingin membahas masalah pekerjaan, tapi lebih tepatnya seperti orang yang sedang melakukan kencan dengan seorang kekasih.
"Maaf Bu Irma sudah menunggu terlalu lama" ucap Arif
"Tidak apa-apa, yang penting pak Arif bersedia datang dan menyempatkan waktu untuk bertemu dengan saya" Irma senyum
"Baik apa yang ingin ibu katakan sampai kita harus bertemu hari ini? padahal saya sudah mengatakan. masalah kantor semua di handle oleh sekertaris saya" ucap Arif santai bersandar pada kursi dan meletakkan tangannya diatas meja sembari membuka ponselnya.
"Bisa bapak letakkan ponsel bapak? karena sepertinya tidak baik kalau berbicara sambil memainkan ponsel" ucap Irma.
"Iya maaf saya tau itu, tapi seperti yang saya sudah katakan. saya terlalu sibuk bu Irma. pekerjaan saya tidak bisa saya tinggal begitu saja. tapi karena bu Irma memaksa ingin bertemu terpaksa saya harus mengurus pekerjaan dan memantau anak buah saya lewat telpon seperti yang saat ini saya lakukan"
"It's okay saya bisa mengerti kalau itu alasannya." Irma menyeruput minumannya
"Oya, pak Arif mau minum apa biar saya pesankan"
"Biar saya pesan sendri"
"Mbak" Arif memanggil seorang pelayanan
Pelayanan datang dan Arif memesan satu buah cappuccino
Irma senyum melihat Arif yang lebih memilih memesan sendiri ketimbang dia yang pesankan.
"Okay pak Arif saya akan langsung katakan sama pak Arif , saya tidak akan buang-buang waktu lagi. saya menginginkan pak Arif" ucap Irma terus terang
"Hahaha menginginkan? apa maksud dari perkataan bu Irma? bu Irma pikir saya ini barang yang bisa diinginkan semua orang?" Arif tertawa dengan santainya
"Terserah bagaimana tanggapan pak Arif, tapi saya tidak pernah kehilangan apapun yang saya inginkan. kalau saya sudah menginginkan, maka saya harus dapatkan itu" kembali Irma senyum dan menyeruput minuman didepan nya. dan tak lama cappuccino pesanan Arif juga sampai. dengan santai Arif menyeruput cappuccino yang sudah datang.
__ADS_1
"Begini bu Irma, sepertinya benar, bu Irma ini salah sangka dengan kebaikan saya. saya ini laki-laki beristri dan sudah memiliki seorang anak. jadi saya harap bu Irma mengerti maksud saya. tolong kita profesional kerja saja. jangan berharap lebih dari laki-laki yang sudah beristri" tegas Arif.
"Pak Arif belum mengenal saya, saya bukan tipe orang yang bisa melepas sesuatu yang sudah saya inginkan"
"Dan saya bukan sesorang yang mudah tergoda dengan seorang wanita. karena saya sangat mencintai istri dan anak saya" jawab Arif kembali menyeruput cappuccino di depannya dengan santai seperti tak memikirkan apa yang barusan didengar nya.
"Kalau saya tidak bisa mendapatkan pak Arif dengan cara baik-baik, berarti bapak yang sudah membuat saya melakukan dengan cara tidak baik" Irma berdiri dan meninggal Arif sendiri di cafe
"Astaghfirullah, manusia macam apa lagi yang kali ini saya jumpai?" Arif menyeruput cappuccino lagi dan menggelengkan Kepalanya
****
Keesokan harinya Ayu sekertaris Arif menghubungi kalau proyek yang saat ini dikerjakan tiba-tiba dibatalkan sepihak oleh PT. sinar Jaya Grup
Padahal hampir sebagian besar dana perusahaan sudah digunakan untuk menggarap proyek tersebut.
"Kenapa seperti itu? kita kan ada SOP (Standart Operating Procedure). main batalkan kontrak begitu saja" Arif geram
"Iya kamu benar Ayu, kondisi keuangan kita bagaimana?"
"Kondisi keuangan jujur saja kurang baik pak, karena hampir semua kita investasikan kedalam proyek ini. dan pengerjaan sudah sekitar 60℅ pak, jika sampai pihak PT. Sinar Jaya grup sampai benar-benar memutus kontrak kerja sama dengan kita. perusahaan kita terancam bangkrut pak" ucap Ayu
"Separah itu ya, Oke saya akan segera ke kantor nanti kita bicarakan lagi dikantor"
"Baik pak"
**
"Ada apa bang? kenapa terlihat bingung?" tanya Arif
"Masalah kantor, abang harus segera ke kantor untuk menyelesaikan masalah. abang pamit ya" Arif mencium kening Ane dan menyambar kunci mobil yang ada di meja
__ADS_1
Sesampainya kantor, Arif meninjau pekerjaan karyawan dan melihat kondisi keuangan. yang sudah terlalu banyak untuk pembiayaan proyek bersama PT. Sinar Jaya grup.
Arif keruangan nya dan menghubungi Irma
"Ada apa pak Arif? tumben menghubungi saya duluan?" Irma senyum menyeringai
"Apa maksud PT. Sinar Jaya grup memutuskan kontrak secara sepihak? kami tidak melakukan kesalahan apapun yang bisa dijadikan alasan pemutusan kontrak. kami bisa menuntut PT. Sinar Jaya grup atas pemutusan kontrak secara sepihak"
"Silakan saja lakukan, saya tidak takut dengan ancaman anda. saya tau bagaimana keadaan keuangan perusahaan anda. menempuh jalur hukum pun butuh waktu yang saya rasa lumayan lama, sedangkan perusahaan anda butuh dana untuk bisa beroperasional. hanya saya satu-satunya orang yang bisa membantu anda saat ini."ucap Irma menutup telpon
"Agh.... " Teriak Arif dan memukul meja di depannya nya.
Menempuh jalur hukum sudah pasti, tapi kelangsungan perusahaan saat ini juga tidak kalah penting. ribuan nasib karyawan bergantung padanya.
Arif merasa kepalanya penat,
Menghadapi penjahat dirinya tentu saja sudah terbiasa tapi ternyata menghadapi lawan perempuan yang licik seperti Irma ternyata juga bisa membuatnya kalang kabut. bukan memikirkan dirinya, yang membuat Arif terbebani. Tapi yang menjadikan Arif resah memikirkan nasib ribuan karyawan. saat kasus ini ditempuh dengan jalur hukum, mungkin Perusahaan akan selamat tapi menunggu waktu sidang pastinya butuh waktu yang cukup lama.
"Dari mana aku bisa dapat uang untuk melanjutkan operasional selama kasus ini berlanjut" gumam Arif
Dirumah
"Bang, kenapa dari tadi Ane perhatian sepertinya ada yang mengganggu pikiran Abang? tanya Ane karena selama dirumah Arif terlihat banyak diam
" Iya sayang maaf ya, sudah membuat kamu kepikiran. abang sedang memikirkan keadaan perusahaan yang jujur saja sedang tidak baik"
"Sebenarnya ada apa dengan perusahaan Bang? bukankah kemarin sepertinya baik-baik saja?" Ane memandang suaminya lekat
"Bu Irma memutuskan kontrak kerja sama secara sepihak, sedangkan pengerjaan proyek yang kami sepakati sebelumnya sudah kami kerjakan hampir 60% . uang perusahaan sudah banyak terkuras untuk proyek itu. bisa dikatakan perusahaan mungkin bisa berhenti beroperasional jika sampai kerja sama ini benar-benar batal" Arif memijat pelipisnya
"Kalau boleh Ane tau, apa yang membuat bu Irma sampai memutuskan kontrak kerja sama? bukankah aneh kalau tidak ada apa-apa tapi kerja sama dibatalkan sepihak?"
__ADS_1
"Beberapa waktu yang lalu, Bu Irma menyatakan perasaannya secara terang-terangan sama abang. tentu saja dengan tegas abang langsung menolaknya. ternyata hal itu membuat bu Irma marah dan menjadikan alasan untuk memutuskan kontrak secara sepihak. bukan kah tidak masuk akal? mencampur adukan masalah pribadi dengan masalah kantor. lagian dia jelas-jelas tau kalau abang ini sudah memiliki anak dan istri. dia itu sepertinya agak gak waras"