Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
CINTA YANG SALAH


__ADS_3

Siapa? suami kamu menelpon?" ucap dokter sigit yang melihat nia telpon dibalkon dan memeluk nia dari belakang.


"Eh..dokter, kapan ada disini?" nia kaget


"Baru saja, ada apa malam-malam seperti ini suami kamu menelpon? apa ada masalah?"


"Tidak kok dok, tidak ada apa-apa, hanya masalah biasalah tidak usah dipikirkan" ucap nia membalik badan dan melingkarkan tangannya pada leher dokter sigit.


"Yakin tidak apa-apa?" tanya Dokter Sigit menempelkan keningnya pada kening Nia


"Iya" jawab Nia


"Masuk yuk, disini dingin. nanti masuk angin" Dokter Sigit mengajak Nia masuk dan melingkarkan tangannya dipinggang Nia.


****


"Bagaimana Lan?" tanya Bu Indah


"Nia sedang banyak pasien ma" jawab Alan lesu


"Astaghfirullah, Kenapa Nia lebih mementingkan pekerjaannya dibanding dengan putrinya sendiri" Bu Indah merasa kesal


"Sudah ma, tidak apa-apa. mama istirahat saja, biar Alan yang jaga Nana"


"Alan, mama ini kasian sama kamu dan Nana. Nia ini sudah sangat keterlaluan kalau menurut mama"


"Ma, sudah ya. jangan bicara seperti itu tentang Nia. dia hanya sedang menjalankan tugasnya" ucap Alan mencoba menenangkan Bu Indah


"Ya sudahlah, mama tidak ikut campur lagi! dari dulu kamu selalu saja membela Nia istri kamu itu" Bu Indah kesal dan meninggalkan Alan bersama Nana yang masih manangis.


Sementara diapartemen Dokter Sigit, Nia kembali memadu kasih dengan pasangan terlarangnya.


"Dok, terimakasih ya, sudah selalu membuatku bahagia dengan selalu menyempatkan waktu Dokter untuk sekedar menemaniku" ucap Nia bersandar didada Dokter Sigit


"Kamu kok manggilnya masih Dokter terus? kita kan tidak lagi dirumah sakit?"


"Lalu aku harus memanggil apa?"

__ADS_1


"Kalau diluar rumah sakit kamu bisa memanggilku dengan MAS mungkin! Ucap Dokter Sigit mencium kening Nia


"Baiklah mulai sekarang aku akan memanggil Dokter dengan sebutan mas. mas Sigit" ucap Nia senyum


"Begitukah lebih enak didengar" Dokter Sigit melingkarkan tangannya ditubuh Nia


"Dok.. eh Mas maksudnya, semisal, semisal aku pisah dengan mas Alan, apa Dokter akan menikahi aku?" tanya Nia


"Kenapa bertanya seperti itu? emang kamu mau pisah sama suami kamu?"


"Ini kan Nia bilangnya semisal Dok, eh mas"


"Sebaiknya jangan gegabah."


"Kenapa? apa Mas Sigit tidak mau menikahi aku? apa mas Sigit tidak mencintai aku? " Nia mendongakkan wajahnya melihat Dokter Sigit


"Jangan salah sangka dulu? tentu aku mencintai kamu Nia, justru karena aku mencintai kamu. aku tidak ingin membuatmu suatu saat menyesali keputusanmu."


"Menyesali? maksdnya?" Nia kembali menatap Dokter Sigit


"Iya, saat ini kamu memang sedang emosi dan marah karena kesibukan suami kamu. aku faham itu, mungkin rasa cinta untuk suami kamu hilang karena itu. tapi kamu mempunyai anak, aku juga mempunyai anak. kita mungkin saja tidak mencintai pasangan kita tapi jangan sampai itu merubah kasih sayang kita pada anak. anak kita berhak untuk selalu mendapatkan kasih sayang dari kita."


"Tentu saja, jika pun kamu pisah dari suami kamu itu harus dengan alasan yang kuat. jika tak asuh anak kamu jatuh ketangan suami kamu, kamu akan kesulitan bertemu dengan anak kamu. dan aku tidak mau saat itu terjadi kamu menyesali keputusan yang telah kamu ambil. aku mencintaimu dan aku tidak ingin kamu menyesal dengan keputusanmu. jadi aku sarankan, sebaiknya kita tetap seperti ini saja. jangan berpikir terlalu jauh, kita nikmati saja hubungan kita saat ini"


****


Keesokan harinya Nia pulang kerumah dan segera melihat Nana yang sudah tertidur setelah makan.


"Dari semalam dia menangis, lihatlah matanya sampai sembab seperti itu karena menangis" ucap Alan


"Namanya juga anak kecil mas, nangis ya biasa lah mas" ucap Nia


"Tapi Nana ini menangisi kamu dari kemarin. apa kamu tidak kasian?" ucap Alan


"Mas, aku capek! aku baru Pulang kerja. tolong jangan mulai lagi ributnya" ucap Nia mengambil pakai ganti dilemari


"Mau kemana kamu? aku belum selesai bicara!" suara Alan meninggi

__ADS_1


"Hua.. Hua.. " tangis Nana mendengar Alan bicara dengan keras membuatnya terbangun


"Kamu ini gimana sih mas? kamu sendiri yang bilang dari semalam Nana nangis. sekarang baru tidur, kamu buat dia bangun" ucap Nia menghampiri Nana dan menggendongnya


"Cup.. cup.. sayang, ini ada mama. mama sudah pulang. diam ya, jangan nangis lagi!" Nia berhasil membuat Nana tenang dan kembali tidur di gendongannya.


Alan yang kembali disudutkan Nia keluar dengan kesal dan duduk diruang TV.


"Nia sudah pulang" tanya Bu Indah


"Sudah ma, sedang menggendong Nana dikamar" Ucap Alan dan menghela nafas dengan kasar


"Kenapa? baru sadar kalau istrimu itu semakin hari semakin keterlaluan" ucap Bu Indah


"Ma, sudah jangan tambah beban pikiran Alan" ucap pak Sandi


****


Setelah kembali menidurkan Nana, mama memanggil Nia untuk berbicara diruang keluarga, sampai diruang keluarga Nia memiliki firasat yang tidak baik. karena disana sudah ada Pak Sandi dan Alan yang semua diam menunggu kedatangan Nia.


"Duduk Nia" ucap Bu Indah mempersilakan Nia untuk duduk


"Ada apa ya ma? kenapa semua berkumpul?" ucap Nia melihat Alan yang masih terdiam


Setelah Nia duduk, pak Sandi mulai membuka suara.


"Nia, papa dan mama ingin membicarakan sesuatu dengan kamu dan Alan" Pak Sandi melihat Nia dan Alan secara bergantian


"Soal apa pa?" tanya Nia


"Soal rumah tangga kalian. papa dan mama perhatian, akhir-akhir ini sepertinya rumah tangga kalian sedang tidak baik. jujur saja sebenarnya papa dan mama tidak ingin ikut campur urusan rumah tangga kalian. hanya saja melihat kalian semakin hari sepertinya semakin tidak menemukan solusi. jadi terpaksa mama dan papa ikut angkat bicara disini"


"Iya Nia, mama ini jujur sudah menganggap kamu sebagai putri mama sendiri, melihat kalian seperti ini mama juga ikut sedih. kenapa diantara kalian tidak ada yang mau mengalah? apa kalian tidak kasian dengan anak kalian? Nana itu membutuhkan kehadiran kalian, membutuhkan kasih sayang kalian. sebagai orang tua, kalian punya tanggung jawab terhadap anak kalian" sahut Bu Indah


"Nia mama ini sudah tua, kamu tau kan Nana sekarang semakin aktif. mama sepertinya tidak sanggup jika harus menjaga Nana sendiri. menurut mama, apa tidak sebaiknya kalau lebih baik kamu berhenti saja dari pekerjaan kamu. fokus sama anak kamu dulu. nanti kalau Nana sudah besar kamu bisa bekerja lagi. sekarang masalah mencari nafkah biar Alan saja sebagai kepala keluarga yang melakukannya" ucap Bu Indah lagi


"Maaf ma, bukan Nia tidak mau menurut perintah mama. hanya saja Nia ini di kuliahkan orang tua Nia biar jadi bidan. kalau Nia tidak bekerja, itu sama halnya Nia mengecewakan orang tua yang sudah membesarkan Nia"

__ADS_1


^HAPPY READING^


__ADS_2