Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
CH 268


__ADS_3

"Siapa yang datang Na? tanya Anggun.


"Dimas ma" jawab Nana berlalu dan memanggil Alan yang ada di kamar


"Kamu yang nyuruh Dimas kesini mas?" tanya Anggun


"Iya, aku yang nyuruh" jawab Alan sambil jalan menuju ruang tamu.


"Hai Dim, saya suka anak muda yang tepat waktu kayak gini" ucap Alan saat sampai ruang tamu


"Bisa aja komandan, ada tugas apa ini ndan sepertinya mendadak sekali perintahnya?" tanya Dimas


"Tidak ada perintah apa-apa, ini kan hari libur." jawab Alan


"Kalau kamu tidak ada acara, temani saya mau tidak? Ini ibu sama Nana mau berbelanja untuk keperluan tunangan anak saya yang kedua. Bosen banget kan kalau harus menemani kaum hawa belanja. Tapi ini saya tidak memaksa lho ya" ucap Alan


"Siap ndan, kebetulan saya juga hari ini tidak ada kegiatan" jawab Dimas


"Mas kita berangkat sekarang?" tanya Anggun datang ke ruang tamu


"Iya, panggil Nana" jawab Alan


"Nana udah siap pah, lho Dimas masih disini?" tanya Nana melihat Dimas


"Dimas akan ikut dengan kita, ayo berangkat" ucap Alan


Didalam mobil, Nana tampak kesal lantaran papanya tanpa persetujuan dari nya mengajak Dimas untuk ikut dengan mereka.


"Anak pak Alan kapan akan tunangan?" tanya Dimas


"Rara maksdnya? kalau Rara akan tunangan bulan depan, tidak tidak tau kalau putri Papa yang satunya kapan mau nikah, pacaran aja gak mau" sindir Alan


"MasyaAlloh jarang ada lho perempuan dijaman sekarang ini yang gak mau pacaran, berarti Nana ini belum pernah pacaran pak Alan?" tanya Dimas


"Tanya aja tu sama anaknya, entah mau mencari yang seperti apa. Usia sudah cukup, pekerja ada tapi belum pernah juga membawa laki-laki datang ke rumah" jawab Alan

__ADS_1


"Pah, jangan mulai. Nana memang belum ada niatan kearah sana" jawab Nana


"Tapi biar bagaimana seorang perempuan tetap harus berpikir kearah sana kan? kalau Nana kriteria suaminya seperti apa?" tanya Dimas yang sedang menyetir


"Nana? entahlah. Yang jelas laki-laki itu harus pintar, ganteng dan tidak banyak bicara" jawab Nana sembari tersenyum membayangkan Dimas


"Hehehe.. kriteria kamu lumayan unik ya? tidak banyak bicara? nanti kalau punya suami tidak banyak bicara, rumah bakalan sepi kayak kuburan malah diam-diaman" seloroh Dimas


"Kenapa kriteria laki-laki yang disebutkan Nana mirip Amar? apa mungkin kalau Nana masih menyukai Amar? Astaghfirullah, apa yang aku pikirkan? tidak mungkin Nana seperti itu. Dia tau kalau Amar sebentar lagi akan menikah dengan adiknya" batin Anggun sedikit melirik kearah Nana


Ternyata bukan hanya Anggun. Alan pun memikirkan hal yang sama. Dan mulai mencemaskan kalau hal itu benar adanya.


***


Dirumah Arif


Ane melakukan Video call dengan teman-temannya dan memberitahu kabar gembira tentang pertunangannya Amar dan Rara yang akan digelar bulan depan.


"Kamu serius Ne?" tanya Nia


"Iya pertanyaan kamu aneh juga Nia" sahut Wawa


"Bukan gitu, Rara kan adiknya Nana. Kalau Rara tunangan bulan depan, itu artinya Rara bakal nikah duluan dibandingkan Nana. Bukan gimana-gimana aku hanya kasihan sama Nana. Adiknya menikah lebih dulu. Itu pasti bukan hal yang mudah untuk Nana, melihat adiknya menikah lebih dulu" jelas Nia


"Iya sih kalau itu aku paham, pastinya gak enak. Tapi gimana lagi, Rara dan Amar juga gak mungkin menunda pernikahan dan menunggu sampai Nana dapat jodoh kan? kasihan juga kalau harus menunggu lama, sedangkan sampai sekarang Nana belum punya calon kan?" timpal Yeni


"Ne, apa Amar dan Dimas harus buru-buru tunangan ya? maksudnya apa tidak bisa ditunda gitu? dan apa Alan juga setuju dengan acara pertunangan Rara bulan depan?" cerca. Nia


"Iya semua sudah setuju kok, untuk melakukan tunangan bulan depan" jawab Ane


"Bagaimana bisa Alan tidak mempertimbangkan perasaan Nana" ucap Nia


"Kamu salah Nia, aku yakin Alan sudah mempertimbangkan semuanya. Alan dan Anggun orang tua yang bijaksana kok." sahut Ane


"Kalau mereka bijak seharusnya mereka juga memikirkan perasaan Nana" jawab Nia

__ADS_1


"Begini Nia, masalahnya sampai sekarang bukankan Nana juga belum punya pacar, sedangkan Rara dan Amar mereka bersama sudah terlalu lama. Kami sebagai orang tua tidak ingin mereka salah langkah, tau sendiri kan pergaulan anak jaman sekarang" ucap Ane


"Sudah-sudah, sebaiknya kamu bicarakan ini sama Alan dengan cara baik Nia. karena apa yang dikatakan Ane juga benar. Pacaran terlalu lama juga tidak baik" sahut Wawa


Setelah percakapannya pada sahabat ditelpon, keesokan harinya Nia bertemu dengan Nana untuk menanyakan soal pertunangan Rara.


"Kamu benar-benar tidak apa-apa kan Na?" tanya Nia


"Memangnya Nia bisa apa ma, disaat semua sudah diputuskan" jawab Nana


"Sayang, kamu jangan khawatir ya. Anak mama cantik. Pasti banyak cowok yang suka sama kamu. Jangan berkecil hati hanya karena adik kamu menikah lebih dulu ya" hibur Nia


"Ma, jika saat ini Nana berkecil hati. Itu bukan karena adik Nana menikah lebih dulu. Tapi itu semua karena satu-satunya laki-laki yang Nana cintai menikah dengan Rara. seandainya Amar menikah dengan orang lain mungkin hati ini tidak terlalu sakit. Tapi melihat orang yang kita cintai menikah dengan adik sendiri rasanya sakit ma" ucap Nana


"Apa samapai sekarang kamu masih mencintai Amar nak? kenapa kamu tidak mencoba membuka hati kamu untuk orang lain?" tanya Ni


"Nana bukan Mama, yang bisa dengan mudah mencintai yang lain. Bagi Nana satu-satunya laki-laki yang Nana cintai cuma Amar. Sampai kapan pun tidak akan pernah berubah" tegas Nana


"Nana, tolong jangan berkata seperti itu. Mama sudah menyesalinya semuanya nak" ucap Nia


"Hidup Nana berantakan. Sejak mama meninggalkan papa demi laki-laki tua itu, kehidupan yang Nana jalani semua sandiwara. Tidak ada yang benaran sayang tulus dengan Nana." ucap Nana


"Mama sayang kamu nak" sahut Nia


"Kalau Mama sayang Nia, mama tidak akan pergi meninggalkan Nia. Mama tidak akan menghncurkan hidup Nia seperti ini. Mungkin saat ini Nana sudah bersama dengan Amar jika saja saat itu Mama tidak pergi" ucap Nana meneteskan air mata


"Nana, tolong maafkan Mama! Maafkan kebodohan Mama! saat itu Mama masih terlalu muda untuk memikirkan semua itu, Mama silau karena dunia. Tolong maafkan mama!"


"Nana akan memafkan Mama, jika Mama bisa membuat Amar bersatu dengan Nana." ucap Nana


Nia terdiam dan menatap Nana


"Kenapa diam ma? tidak bisa kan? Mama sekarang tau kan akibat dari apa yang mama lakukan?"


^Happy Reading^

__ADS_1


__ADS_2