
"Sebenarnya kemarin wanita yang bernama Norma kesini Ma" Ane menceritakan kejadian saat Norma mengunjungi Arif suaminya.
"Untuk apa lagi perempuan itu datang kemari" ucap Bu Imah yang terlihat kesal. padahal Bu Imah ini wanita yang sangat lembut dan tidak pernah marah
"Ya, itu Ma, dia bilang kalau Bang Arif masih mencintainya dan dimalam sebelum pernikahan kami Norma bilang Bang Arif ingin membatalkan pernikahan kami." cerita Ane
"Sayang apapun yang dikatakan perempuan itu, Mama harap Ane tidak langsung mempercayainya begitu saja, lihat saja faktanya bahwa kamulah yang saat ini dicintai Arif." ucap Bu Imah
"Iya Ma" jawab Ane mengangguk
"Sayang, semua orang punya cerita dan masa lalu sendiri-sendiri, jadi biarlah masa lalu itu menjadi bagaian dari perjalan hidup kalian yang sebaiknya kalian kubur, dan sambutlah masa depan kalian dengan lebih baik. yang lalu kuburlah yang dalam! sambut yang baru ukir kembali cerita cinta kalian pada halaman yang baru. tidak perlu membuka lagi kisah yang sudah dikubur" nasehat Bu Imah
"Iy Ma, Ane faham." ucap Ane
"Kalau perempuan itu datang lagi sebaiknya suruh pergi saja" ucap Bu Imah dan Ane mengangguk mengiyakan.
Tok...tok...tok...
suara pintu ruangan Arif
"Masuk" jawab Ane
"Untuk apa kamu kesini?" tanya Ane
"Apa kamu masih harus bertanya untuk apa saya kamari?" ucap Norma
mendengar suara ribut-ribut di depan pintu Bu Imah melihat siapa yang datang.
"Kamu? untuk apa kamu kemari lagi?" tanya Bu Imah sinis
"Tante" ucap Norma mengulurkan tangan hendak menyalami Bu Imah namun tak di sambut oleh Bu Imah
"Tinggalkan tempat ini dan jangan pernah temui anak saya!" peringatan Bu Imah
"Tante ijinkan saya menemui Arif, siapa tau dengan kehadiran saya Arif akan segera sadar. Tante tau kan, bagaimana Arif sangat mencintai saya?" ucap Norma
"Omong kosong, sejak kamu meninggalkan Arif dia sudah tidak lagi mencintai kamu" tegas Bu Imah
"Itu tidak benar Tante, Arif belum melupakan saya. dia masih sangat mencintai saya. ijinkan saya menemui Arif tante" Norma menyatukan tangan nya memohon untuk bisa bertemu dengan Arif
"Keluar dari sini" bentak Bu Imah
__ADS_1
"Arif" teriak Norma ketika tanpa sengaja melihat mata Arif mulai terbuka
Seketika pandangan Ane dan Bu Imah beralih ke Arif.
"Arif, kamu sadar nak" ucap Bu Imah
"Bang Arif" ucap Ane lirih melihat suaminya sadar justru saat mendengar ada Norma disitu
"Arif, aku disini, Norma yang selama ini kamu tunggu" ucap Norma mendekat
Kini Bu Imah dan Ane membiarkan Norma mendekat.
"Ane panggil Dokter dulu ma" ucap Ane meninggalkan ruangan.
Arif yang masih lemas hanya memandangi istrinya pergi, tak mampu mencegah
Di luar Ane menangis hatinya pedih
"Apa benar Bang Arif masih mencintai wanita itu? apakah Bang Arif akan kembali pada wanita itu dan meninggalkan Ane" batin Ane
Ane segera menghilangkan pikiran-pikiran buruk nya dan segera memanggil Dokter.
Dokter datang meneriksa keadaan Arif
"Baik Dok, terimakasih" ucap Bu Imah
Ane yang lebih memilih duduk diluar lantara mengira suaminya tidak membutuhkannya.
"Kak Ane, kenapa diluar?" tanya Alan
"Bang Arif sudah sadar Lan" ucap Ane senyum
"Alhamdulillah, benarkah kak?" tanya Alan gembira
"Iya, masuklah" ucap Ane
"Tapi kenapa Kak Ane malah diluar? harusnya kan Kak Ane menemani Bang Arif?" Alan menyatukan alisnya.
"Bang Arif sudah tidak membututuhkan aku" jawab Ane
"Tidak membutuhkan? apa maksud Kak Ane?" Alan bingung
__ADS_1
"Sudah ada Norma di dalam, Bang Arif lebih membutuhkan Norma" ucap Ane
"Kenapa Kak Ane bisa berfikir seperti itu?" tanya Alan
"Yang membuat Bang Arif sadar kembali itu Norma, berkat Norma Bang Arif sadar kembali. mungkin benar bahwa mereka masih saling mencintai. Bahkan di alam bawah sadarnya pun Bang Arif hanya mendengarkan Norma." cerita Ane dengan mata mulai berkaca-kaca
"Meski aku tidak tau pasti cerita mereka, tapi aku yakin Bang Arif bukan orang seperti itu. Bang Arif tidak akan menikah dengan Kakak kalau dihatinya masih ada orang lain. Bang Arif bukan tipe orang yang suka bermain-main dengan perasaan" ucap Alan
Ane tersenyum, ingin mempercayai apa yang dikatakan Alan. tapi melihat kenyataan bukan dirinya yang bisa membuat Arif kembali sadar tapi justru wanita lain, membuat Ane menyadari kalau mungkin suaminya masih memikirkan wanita lain itu.
"Kak, masuk yuk! Kakak lebih berhak berada didalam bersama suami Kakak." ajak Alan
"Kamu masuk dulu aja Lan, biar aku disini dulu. aku tidak ingin membuat Bang Arif bingung dengan kehadiranku." ucap Ane berusaha tersenyum menyembunyikan kepedihannya.
"Kalau Kak Ane tidak masuk, Alan juga akan disini menemani Kakak, walapun menurut Alan seharusnya Kak Ane didalam bukan diluar seperti ini. Kakak istri sah Bang Arif, apapun alasannya Kakak yang seharusnya berada didalam." ucap Alan mencoba meyakinkan Ane.
"Lan, aku ini anak tunggal tapi sekarang ini aku merasa sepertinya aku punya seorang adik, terimaksih ya Alan." ucap Ane senyum
"Aku ini Tim pendukung istri sah kak." ucap Alan tertawa
****
Arif yang sudah mulai membuka matanya, walaupun masih terasa pusing dan lemah tapi berusaha mencari keberadaan istrinya, melihat sekeliling ruangan namun yang di lihat hanya Bu Imah dan wanita yang dulu pernah meninggalkan dirinya, memberi bekas luka di hatinya.
"Ane" ucap Arif lirih
"Arif ini aku, Norma. aku sudah disini, aku kembali, aku janji tidak akan meninggalkan kamu lagi" ucap Norma
"Ane" ucap Arif kembali lirih
Mendengar anaknya mencari-cari Ane, Bu Imah baru menyadari kalau menantunya tidak ada disana. Bu Imah yang dari tadi pikirannya terfokuskan ke Arif, sampai tidak menyadari ketidak keberadaan menantunya.
"Dimana Ane?" batin Bu Imah
"Arif, sudah ada aku untuk apa kamu mencari-cari yang tidak ada" ucap Norma tapi Arif tidak menjawab ucapan Norma.
Ingin rasanya Bu Imah menarik wanita yang tak tau malu ini keluar. tapi Bu Imah tidak ingin membuat keributan dirumah sakit. terlebih di depan Arif.
"Arif sayang, apa kamu sedang mencari istri kamu Ane?" tanya Bu Imah
Arif mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
"Ane mungkin sedang bicara sama Dokter, kamu sabar ya, selama enam bulan kamu koma. Ane lah, yang dengan sabar merawat kamu dan tidak pernah mau meninggalkan kamu. disaat semua pupus harapan hanya Ane yang yakin kamu akan sadar kembali. kamu beruntung nak, punya istri seperti Ane" ucap Bu Imah.