
Sesampainya di pesantren Abah memanggil Guntur dan berbicara kembali dengannya.
"Guntur, apa kamu benar-benar tidak bisa menerima Fatimah. ya.. mungkin sifatnya memang kurang dewasa, tapi kita tau dia dari keluarga baik-baik. Abah yakin dia juga pasti nantinya bisa menjadi istri yang baik untuk kamu" Abah yang masih berusaha membujuk Guntur
"Bah, Guntur tidak pernah menolak. dengan perjodohan yang Abah lakukan untuk Guntur. namun Guntur juga tidak mungkin membohongi diri Guntur dan orang tua Fatimah. kalau Guntur memang tidak mencintai Fatimah bah. Guntur mencintai Nur Abah. walaupun Guntur tau, Abah tidak akan pernah merestui hubungan kami. Guntur pasrah bah, jika memang Guntur tidak ditakdirkan untuk berjodoh dengan wanita yang Guntur cintai.
Selama ini Guntur tidak pernah jatuh cinta, Guntur sendiri tidak tau kenapa Guntur bisa langsung jatuh cinta pada Nur sejak awal Guntur melihatnya."ucap Guntur
"Mungkin, kamu adalah jodoh yang dikirim Alloh untuk membimbing Nur agar menjadi lebih baik. agar Nur tidak terjerumus kembali kedalam masa lalunya." ucap Abah
"Maksudnya Abah?? apa maksudnya Abah ini berarti Abah merestui kami?" tanya Guntur
"Jika Alloh menginginkan kalian bersama, maka siapa Abah kok bisa mencegah kalian"
"Bah, ini Abah serius? Abah benar-benar merestui kami?" tanya Guntur tidak percaya
"Pergilah kerumah Nur, temui orang tuanya. dan sampaikan niat baikmu. Abah akan merestui kalian" ucap Abah yang sekarang sudah bisa menerima kenyataan kalau memang mereka berjodoh siapapun tidak akan mampu menghalangi. terlebih kita tidak bisa menilai seseorang hanya berdasarkan masa lalunya
***
Keesokan hari Ustadz Guntur pergi kerumah Nur, sesampainya disana ustadz Guntur hanya bertemu dengan ibunya. bahkan ternyata Bu Elsa juga tidak mengetahui kalau Nur sudah tidak ada di pesantren.
"Jadi Nur sudah tidak ada di pesantren? kemana lagi anak itu? kenapa hobby sekali dia itu menghilang" gerutu bu Elsa. dan segera menghubungi Nur tapi nomernya juga tidak bisa dihubungi
"Tante, tante tenang dulu. kalau menurut tante saat ini Nur ada dimana? maksud saya kira-kira tempat yang mungkin dikunjungi Nur?" tanya Guntur
"Almira" ucap bu Elsa
"Almira? siap Almira tante?"
Bu Elsa menatap Guntur seakan ragu akan bercerita
"Putrinya" ucapnya ragu
"Jadi namanya Almira"
"Kamu tau tentang Almira?" tanya bu Elsa menatap Guntur
"Iya saya tau tante. saya tau semua masa lalunya dan tujuan saya datang kesini sebenarnya untuk Mengkhidbah Nur tante."
"Ma-Maksud kamu?" Bu Elsa mengerutkan dahinya seolah tak mengerti
"Iya tante, saya ingin melamar Nur untuk menjadi istri saya"
"Ta-Tapi Nur"
"Iya saya tau tante, tapi bagi saya Nur tetap wanita yang baik. dan saya yakin Nur akan menjadi istri yang baik bagi saya. dan saya pun akan menyayangi Almira seperti anak saya sendiri" ucap ustadz Guntur
"Baiklah kalau memang seperti itu, tante sekarang lega, dan tante berterimakasih sama kamu nak Guntur. tante pikir setelah kesalahan dimasa lalunya, Nur akan selamanya sendiri. tante memang kecewa dengan Nur, tapi jauh dilubuk hati tante. tante selalu mendoakan agar dia bisa mendapatkan jodoh yang bisa membimbingnya dan menunjukkan mana yang benar. Alhamdulillah Alloh sepertinya mendengarkan doa-doa tante" ucap Bu Elsa dengan mata bercaka-kaca
"InsyaAlloh saya akan menjaga Nur dan Almira dengan baik dan saya akan selalu berusaha agar nantinya bisa menjadi suami dan ayah yang baik buat mereka"
"Terimakasih nak Guntur, oya biar tante coba hubungi sahabatnya dulu. biasanya Ane ini tau dimana keberadaan Nur"
Bu Elsa mengambil hapenya dan menghubungi Ane
"Assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam tante" jawab Ane
"Ane, apa beberapa hari ini Nur menghubungi kamu?" tanya bu Elsa
"Iya tante, ada apa ya tante?"
"Anak itu, seperti biasanya selalu membuat tante bingung dengan keberadaannya."
"Em.. apa Nur belum menghubungi tante kalau sekarang sudah tidak lagi di pesantren?"
"Itu dia. kenapa itu anak, Tiba-tiba meninggalkan pesantren tapi tidak bilang sana tante. ini ada ustadz Guntur dari pesantren datang kerumah. kan tante jadi bingung mau jawab apa." gerutu bu Elsa
"Ustadz Guntur? ustadz Guntur ada dirumah tante? mencari Nur?" Ane terkejut
"Iya, ini ustadz Guntur mencari Nur kerumah. apa kamu tau sekarang Nur ada dimana?"
"I-Iya tante, saya tau. sekarang Nur kontrak rumah disini tidak jauh dari rumah Almira. karena ingin bisa sering-sering bertemu dengan Almira" ucap Ane
"Kontak dideket Almira, apa tidak apa-apa seperti itu" Ucap bu Elsa ragu dan melihat ustadz Guntur
"Tidak apa-apa tante, Tika dan mamanya Saka juga tidak keberatan. karena semata-mata untuk Almira. lagian Saka juga kali ini berlayarnya cukup lama jadi mereka tidak akan bertemu. lagian Ane yakin Nur sudah move on dari Saka tente. kita do'akan saja tante, kali ini Nur akan dapat jodoh yang terbaik"
__ADS_1
"Amin, terimakasih ya Ne. oya tolong kirimi alamatnya Nur ya tante tunggu"
"Iya tante"
Ane menutup telpon dan mengirimkan alamat Nur di semarang.
Setelah mendapatkan alamat Nur di semarang. Ustadz Guntur segera melakukan mobilnya ke Semarang. menempuh perjalanan yang cukup lama sekitar lima jam.
karena hari sudah malam, ustadz Guntur memutuskan untuk menginap di sebuah hotel yang letaknya tidak terlalu jauh dari alamat Nur.
Sesampainya kamar hotel, ustadz Guntur menuju ke balkon hotel, melihat pemandangan kota semarang dimalam hari. ada perasaan bahagia besok dirinya akan kembali berjumpa dengan Nur, dan yang lebih membuatnya bahagia. besok ustadz Guntur akan menyampaikan keinginannya untuk menjadikan Nur sebagai istrinya.
Sementara di tempat lain Nur yang sudah mendapatkan informasi dari Ane tentang kedatangan ustadz Guntur ke Semarang merasa cemas. pasalnya hari sudah malam namun ustadz Guntur belum juga sampai ditempatnya. Nur hanya khawatir terjadi apa-apa dengan ustadz Guntur. Nur ingin menghubungi ustadz Guntur namun dia baru ingit kalau ternyata dia tidak mempunyai nomor hape ustadz Guntur.
Sepanjang malam Nur terjaga tidak bisa memejamkan matanya sama sekali karena perasaan cemas memikirkan ustadz Guntur yang tak juga memberinya kabar.
Keesokan harinya, selepas sholat subuh. Nur yang tidak tenang dari semalam. sudah rapi dan berada di teras menunggu kedatangan ustadz Guntur
Jantungnya terasa berdetak kencang, ada perasaan khawatir juga ada perasaan penasaran untuk apa ustadz Guntur sampai mencarinya kerumah.
***
Pagi ini ustadz Guntur segera checkout dari hotel dan bergegas menuju alamat Nur yang didapat dari bu Elsa kemarin.
Terlihat dari kejauhan Nur tampak berdiri di pinggir jalan terlihat seperti orang bingung.
Ustadz Guntur behenti didepan kontrak Nur dan memarkirkan mobilnya. sementara pandangan mata Nur terus mengekori mobil yang berhenti di depannya, memastikan itu adalah ustadz Guntur
"Huff.. " Nur menghembus nafas lega saat ustadz Guntur keluar dari dalam mobilnya.
"Assalamu'alaikum kenapa kamu seperti orang gelisah? apa sedang menunggu seseorang?" tanya ustadz Guntur
"Walaikumsalam, Nur dari habis subuh berdiri disini menunggu ustadz Guntur" jawab Nur menunduk
"Menunguku?" ustadz Guntur menunjuk dirinya dan mengerutkan dahinya
"Iya, dan semalaman Nur juga tidak tidur. karena khawatir. kemarin Ane sahabat Nur memberitahu kalau ustadz Guntur kemarin perjalanan mau kesini. tapi Nur tunggu sampai malam kok tidak datang-datang makanya Nur jadi khawatir takut ustadz kenapa-napa dijalan" ucap Nur
"Ternyata kamu menunggu ya? kalau kamu menungguku kenapa harus pergi dari pesantren?"
"Itu.. itu.. " Nur, bingung mau jawab apa
"Eh.. iya bisa. mari silakan masuk ustadz" z
"Em.. sebaiknya kita bicara diluar saja, takutnya menimbulkan fitnah kalau kita bicara disini. bagaimana kalau kita bicara sambil cari sarapan? belum sarapan kan?" tanya ustadz Guntur
"Ba-baik ustadz, tunggu sebentar saya ambil tas didalam dulu"
"Silahkan, saya tunggu disini"
Tak butuh waktu lama, Nur sudah kembali dengan menenteng sebuah tas tali panjang
"Mari ustadz"
Nur dan ustadz Guntur menuju ke mobil
Saat Nur akan membuka pintu mobil
"Maaf Nur, sebelumnya aku mau minta maaf. tapi bagaimana kalau kamu duduk dibelakang" ustadz Guntur
"Oo iya ustadz" ucap Nur mengerti
Didalam mobil keduanya tampak sangat canggung dan hening
"Em.. soal, soal tadi maaf ya Nur" ucap ustadz Guntur memecah keheningan
"Soal apa?" Nur tak mengerti
"Soal kamu yang aku suruh duduk dibelakang" ucap ustadz Guntur menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. merasa tidak enak dengan Nur
"Tidak apa-apa ustadz, Nur mengerti kok" jawab Nur
"Karena sekarang kita belum mahram jadi aku memintamu untuk duduk dibelakang, tapi jika nanti kamu sudah menjadi istriku. kamu pasti aku suruh duduk disampingku" ucap ustadz Guntur tersenyum
"Uhuk.. uhuk.. " Nur yang tiba-tiba terbatuk karena terkejut dengan apa yang didengar
"Kamu kenapa Nur? minumlah, masih baru kok airnya belum aku minum" ucap ustadz Guntur memberikan sebotol air mineral yang kebetulan ada didalam mobilnya.
Nur menerima air mineral dari ustadz Guntur dan membuka botolnya.
__ADS_1
Ustadz Guntur melihat Nur sekilas dari kaca mobilnya, memastikan Nur sudah meminum airnya.
****
Tibalah mereka di sebuah warung makan bubur ayam dan nasi uduk
"Nur mau sarapan disini tidak?" tanya ustadz Guntur
"Boleh" ucap Nur
Dan keduanya turun dari mobil
"Pak bubur ayamnya dua ya"
"Satu saja ustadz, Nur nasi uduk saja"
"Bubur ayamnya satu saja pak sama nasi uduk nya satu" ucap ustadz Guntur meralat pesanannya
Mereka duduk berhadapan didepan warung
karena meja dan kursi diwarung itu dibuat terbuka didepan warung. jadi yang sarapan disana bisa langsung melihat pemandangan disekitar yang banyak ditamani bunga-bunga dan ada kolam ikannya.
"Tempatnya disini enaknya" ucap ustadz Guntur
"Iya ustadz"
"Kamu suka tinggal disini"
"Em.. dulu saya kuliah di kota ini dan sekarang Almira anak saya tinggal disini. jadi saya tentu saja suka tinggal disini" ucap Nur
"Kenapa kamu tiba-tiba pergi dari pesantren?" tanya ustadz Guntur
"Em.. sebenarnya, sebenarnya" Nur ragu
"Sebenarnya kenapa? karena Abah tidak merestui kita?" tanya ustadz Guntur
"Nur faham kenapa Abah tidak setuju. Nur juga punya anak. jadi Nur mengerti kenapa Abah tidak mau merestui kita. dan Nur pun sadar diri dan Nur ingin ustadz mendapatkan wanita yang sholihah yang pantas untuk mendampingi ustadz Guntur"
"Ini bubur sama nasi uduknya" ucap penjual bubur memberikan bubur dan nasi uduknya
"Terimakasih pak" ucap ustadz Guntur
"Nur, terimakasih kamu sudah memikirkan kebaikan untukku, tapi aku sudah yakin kamu lah yang terbaik untuk ku"
"Ta-tapi Abah"
"Alhamdulillah Abah sudah setuju" ustadz Guntur tersenyum
"Maksudnya ustadz? Abah menyetujui hubungan kita?" Nur membulatkan matanya
"Alhamdulillah iya, Abah sudah menyetujui kita untuk menikah dan menyuruh kamu untuk kembali ke pesantren" ucap ustadz Guntur
"Tapi bagaimana dengan Almira" ucap Nur menunduk
"Kalau kamu mau, kamu bisa membawa Almira. aku janji aku akan menyayangi Almira layaknya anakku sendiri" ustadz Guntur menyakinkan
"Masalahnya, Almira tidak mungkin mau ikut denganku" Nur sedih
"Kenapa begitu? kamu kan ibunya?"
"Ustadz sudah tau kan cerita kalau aku pernah depresi sampai dirawat dirumah sakit jiwa?"
"Iya aku tau"
"Berawal dari situlah, akhirnya Almira melupakan aku sebagai ibunya. saat itu aku benar-benar tidak mengerti dengan yang terjadi bahkan aku juga tidak mengerti dengan diriku sendiri sehingga aku harus dirawat dirumah sakit jiwa. beruntung saat itu Saka ayahnya Almira dan istrinya Saka mau merawat Almira. jadi saat aku kembali pulih aku sudah kehilangan anakku. Almira benar-benar tidak mengenaliku. dan menangis saat melihaku. tapi alhamdulillah Tika dengan perlahan memberi pemahaman pada Almira kalau akau adalah mamanya.
Sebagai seorang ibu hatiku hancur, anak yang aku perjuangan tidak mengenaliku, tapi aku juga bersyukur Almira mendapatkan kehidupan yang baik bersama dengan Tika dan Saka ayahnya. mereka sangat menyayangi Almira" ucap Nur dengan mata berkaca-kaca.
"Bukankah kamu bilang, ayah Almira tidak mengakui keberadaan Almira?"
"Iya seperti itu awalnya, dari aku hamil Saka dan mamanya tidak mengakui keberadaan Almira, tapi saat aku dirawat dirumah sakit jiwa. sepertinya hati Saka terketuk dan akhirnya tanpa diminta dengan sendirinya dia mau merawat Almira. sepertinya karena istrinya juga yang meminta. Tika wanita yang sangat baik. bahkan dia bisa menyayangi Almira anak dari wanita lain seperti anak kandungnya sendiri"
"Nanti kita akan sering mengunjungi Almira kesini. biar Almira terbiasa dengan kamu dan mau ikut dengan kamu"
"Aku tidak akan memaksa Almira untuk ikut denganku, walaupun aku ingin. karena aku juga tidak ingin menyakiti Tika dengan memisahkannya dengan Almira. Tika sangat menyayangi Almira. aku tidak akan mungkin memisahkan mereka"
^Happy Reading^
Terimakasih sayanx, jangan lupa like, coment dan Vote ya! dukungan kalian sangat berarti bagi Author 🙏😍😘
__ADS_1