Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
TA'ARUF


__ADS_3

Lima bulan kemudian


Ustadz Guntur menyampaikan keinginannya pada Abahnya ingin mengajak ta'aruf Nur.


"Apa yang menjadi dasar keinginanmu tur? apa kamu sudah mengetahui latar belakangnya?" tanya Abah


"Guntur merasa Nur adalah wanita yang sholihah bah, dan entah kenapa melihat Nur sepertinya hati Guntur mantap untuk ber ta'aruf dengan Nur" ucap Guntur


"Baiklah niat hatimu ini akan Abah sampaikan pada Nur" jawab Abah


Guntur merupakan anak Sulung Abah dan memiliki satu adik laki-laki bernama Burhan.


"Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam"


"Mbak Nur, Abah ingin berbicara dengan mbak Nur" ucap santriwati menyampaikan pesan dari Abah


"Abah?" Nur merasa heran


"Iya mbak, tadi Abah bilang kalau mbak Nur disuruh menemui Abah sekarang."


"Ada apa ya? kenapa Abah mencari saya?" Nur merasa bingung


"Kalau itu saya kurang tau mbak"


"Ya sudah terimakasih ya" ucap Nur segera menemui Abah dengan hati bertanya-tanya


"Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam" jawab Abah dan Guntur bersamaan


Perasaan Nur semakin merasa tak karuan lantaran keberadaan Guntur disana.


"Maaf Bah, tadi ada santriwati yang menyampaikan pesan kalau Abah ingin bicara dengan Nur?" ucap Nur ragu-ragu


"Iya benar Nur, silakan duduk. ada yang mau Abah bicarakan sama kamu"

__ADS_1


"Iya bah" Nur duduk dengan menundukkan pandangan


"Begini Nur, ini Guntur anak sulung Abah. kamu sudah tau itu kan?" tanya Abah


"I.. iya bah, saya tau." jawab Nur dengan perasaan campur aduk


"Guntur tadi menyampaikan pada Abah kalau Guntur mempunyai niatan baik ingin mengajak kamu untuk ta'aruf"


"Ta.. ta'aruf bah?" Nur terbata-bata


Mendengar pernyataan Abah soal ustadz Guntur yang mau mengajaknya ta'aruf, membuat Nur kelabakan. pasalnya dirinya tidak mungkin merima ajakan ta'aruf ustadz Guntur, dirinya hanya lah seorang pendosa yang tidak pantas untuk bersanding dengan ustadz Guntur, seorang anak kiayi tersohor, pemilik pondok pesantren dan beliau juga memiliki ilmu agama yang tidak perlu diragukan. ustadz Guntur yang selama ini belajar ilmu agama di Kairo, sesok laki-laki ganteng, idaman semua santriwati disana. mana mungkin menikah dengan seorang pendosa yang sudah memiliki anak diluar pernikahan. tapi menolak beliau juga seperti suatu penghinaan untuk beliau.


Setelah sesaat terdiam Nur membuka suara


"Maaf Abah, ustadz Guntur. Nur sangat tersanjung dengan ajakan untuk ta'arufnya. tapi sekali lagi Nur Mohon maaf. Nur tidak bisa. Assalamu'alaikum"


Nur segera bergegas keluar dan menangis di kursi taman yang ada dipesantren.


"Nur" panggil ustadz Guntur yang berdiri agak jauh dan menundukkan pandangan


"Boleh aku tanya alasannya?"


"Tidak ada alasan ustadz" jawab Nur menunduk


"Kenapa kamu tidak memikirkan dulu tapi langsung menolak, apa sudah ada orang lain dihati kamu?"


"Tidak ustadz" Nur menggelengkan kepalanya


"Lalu apa yang menjadi bahan pertimbangan kamu langsung menolakku? apa aku tidak cukup baik untuk kamu?"


"Tidak ustadz, ustadz sangat baik. justru karena ustadz terlalu baik untuk saya. saya merasa tidak pantas untuk ustadz" jawab Nur


"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu? kenapa kamu bisa memutuskan kalau kamu tidak pantas untukku? jujur sejak awal aku melihat kamu, ada rasa sejuk setiap melihatmu. dan aku berharap kamu adalah jodohku"


"Ustadz tidak tau siapa saya, ustadz tidak tau bagaimana dengan masa lalu saya. jika ustadz tau. ustadz tidak akan mungkin mau menjadikan aku pendamping ustadz." Jawab Nur meneteskan air mata mengingat dosa-dosa nya dahulu.


"Setiap orang punya masa lalu, seperti apapun masa lalu seseorang dia punya kesempatan untuk bertaubat dan menjadi orang yang lebih baik. Alloh itu menyukai pendosa yang bertaubat daripada Orang sholih yang selalu merasa dirinya benar."

__ADS_1


Nur menggelengkan kepala dan terisak.


"Saya adalah seorang pendosa ustadz. bahkan saya saja merasa jijik dengan diri saya sendiri. dosa-dosa saya dimasa lalu sangatlah besar ustadz. sebaiknya ustadz Guntur carilah wanita yang sholihah, yang sepadan dengan ustadz. jangan saya ustadz." tangis Nur


"Sebesar apa dosa yang kamu lakukan? hingga kamu berani menghakimi dirimu sendiri? Alloh saja maha Pemaaf, kenapa kamu tidak bisa memaafkan dirimu sendiri? dengan kamu saat ini ada disini, belajar ilmu agama. itu berarti kamu sudah menjadi orang yang lebih baik. mau berubah menjadi lebih baik" tegas ustadz Guntur


Sesaat semua terdiam. ustadz Guntur yang merasa tidak mendapat jawab dari Nur meninggalkan Nur


"Saya punya anak" ucap Nur menghentikan langkah ustadz Guntur


Seketika ustadz Guntur mematung, hanya diam mendengar Nur mengatakan memiliki seorang anak.


"Apa benar yang kamu katakan?" tanya ustadz Guntur menoleh kearah Nur


"Apa mungkin saya berbohong mengenai anak" jawab Nur


Ustadz Guntur terlihat bingung


"Saya pernah melakukan dosa besar saat saya masih kuliah. hingga saya hamil. tapi laki-laki yang sudah menghamili saya tidak mau bertanggung jawab dan memilih kabur meninggalkan saya dalam kondisi hamil. saya melahirkan bayi itu sendiri. bahkan saya sempat depresi tidak mengenali siapapun, termasuk anak saya sendiri. saya juga sampai dirawat dirumah sakit jiwa. bahkan karena saya juga papa saya meninggal. lalu apa yang bisa diharapkan dari wanita pendosa seperti saya? sekarang ustadz Guntur sudah mengetahui fakta mengenai diri saya.saya yakin sekarang ustadz Guntur pasti menyesal pernah berniat untuk ta'aruf dengan saya." Nur sudah merasa lega karena sudah menceritakan semua tentang dirinya. meskipun konsekuensi nya, ustadz Guntur mungkin akan memandang rendah dirinya. tapi tetap saja itu jauh lebih baik. dari pada dirinya harus membuat ustadz Guntur berharap lebih darinya.


Ustadz Guntur hanya diam, tak ada tanggapan dan pergi meninggalkan Nur tanpa sepatah katapun.


Nur yang masih duduk hanya bisa menahan agar air matanya tidak terjatuh.


dengan langkah berat Nur menuju kemarnya. menjatuhkan tubuhnya kekasur. dan dikamar inilah akhirnya Nur meluapkan semua kesedihanannya. hatinya terasa pilu. bayangan masa lalu yang dengan susah payah dilupakan kini kembali hadir. siapa sangka dirinya harus menghadapi hal seperti ini dan mungkin setiap orang yang melihatnya masa lalu nya juga akan memiliki respon yang sama. Nur sudah pasrah, mungkin sekarang seumur hidupnya dirinya akan sendirian. laki-laki mana yang bisa menerima masa lalunya yang begitu kelam.


"Ya Alloh kuatkanlah diriku, ini mungkin hukuman dari dosa-dosa yang aku lakukan di masa lalu" Gumam Nur meneteskan air matanya.


Nur mengambil air wudhu dan melakukan sholat sunah untuk menenangkan hatinya.


selepas sholat Nur kembali membuka Alquran, membacanya dengan khusyuk.


setelah selesai mengaji Fatimah mendekati dan bertanya kembali apa yang membuat dirinya menangis setelah bertemu dengan Abah? namun lagi-lagi Nur tak memberitahu alasnya.


Dan hal ini membuat Fatimah semakin bertanya-tanya


^ Happy Reading^

__ADS_1


__ADS_2