Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
KONTRAKSI


__ADS_3

Seperti yang diharapkan Nia berhasil membujuk Riri untuk pulang kerumah.


Bersama dengan Nia, Riri pulang menemui Papa dan Mama nya.


Riri meminta maaf atas kesalahan yang sudah dilakukan nya. Riri mengakui apa yang dilakukan bukan tanpa sebab. pasalnya dirinya merasa selama ini sudah dibohongi Mama dan papa nya.


bagaimana bisa mereka menyembunyikan siapa dirinya yang sebenarnya. dan ada rasa takut suatu saat akan dibuang karena dirinya bukan bagian dari keluarga pak Sandi.


"Maafkan kami Riri, kami tidak menyangka niatan kami untuk tidak memberi tau siapa kamu yang sebenarnya malah menjadi kan kamu jadi seperti ini. awalnya kami berpikir dengan menyembunyikan siapa kamu yang sebenarnya akan membuat kamu selama nya menjadi milik kita. kami takut kalau kamu tau yang sebenarnya kamu akan mencari orang tua kandung kamu yang sebenarnya dan akan meninggalkan kami. karena itu kami tidak memberi tahu yang sebenarnya."ucap pak Sandi


"Kamu tau Ri, Mama dan papa sangat menyayangi kamu. bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu? seharusnya kamu tau itu Ri." sahut Bu Indah


"Maafkan Riri ma, pa, maafkan Riri" tangis Riri pecah merasa bersalah


"Jadi selama ini benar kamu mencintai kakak kamu?" tanya Bu Indah


"Benar ma, soal perasaan yang Riri rasakan untuk kak Alan, itu benar. Riri mencintai Kak Alan" Jawab Riri


"Tapi Riri tidak tau ma, apakah ini benar perasaan cinta apa hanya perasaan karena Riri takut kehilangan Kak Alan setelah Riri mengetahui kami bukan saudara kandung" ucap Riri lagi


"Ya sudah sekarang semua sudah jelas, mama harap kedepan keluarga kita bisa selalu rukun. Nia Mama minta maaf sudah berpikir buruk tentang kamu" ucap Bu Indah memeluk Nia


"Iya ma, tidak apa-apa" jawab Nia


"Tapi Riri, perasaan kamu untuk kakak kamu itu tidak benar. karena itu sebaiknya untuk sementara kalian tidak saling bertemu dulu. dan papa rasa sebaiknya kamu kuliah di luar kota dulu. bukan apa-apa tapi papa ingin kamu melupakan perasaan kamu itu." ucap pak Sandi


"Riri sebenarnya berpisah sama kamu itu berat untuk mama, tapi apa yang dikata papa juga tidak salah. tidak benar kalau kamu mencintai kakak kamu. walaupun kalian bukan saudara kandung tapi kalian besar bersama dan juga Riri tau Kak Alan sudah menikah dengan wanita yang dicintai Kak Alan." sahut Bu Indah


"Iya ma, pa. Riri paham. dan Riri akan menurut. Riri akan kuliah di luar kota seperti apa yang papa dan mama sarankan." jawab Riri pasrah


Semua kesalahan fahaman yang terjadi antara Nia dan mertua nya sudah membaik. tak ada lagi kesalahan fahaman diantara mereka.


****

__ADS_1


Dua bulan kemudian


"Bang, bangun Bang. sepertinya Ane mau melahirkan" ucap Ane membangunkan suaminya karya merasakan adanya cairan ketuban yang merembes


"Kamu yakin sayang? HPL (hari perkiraan lahir) sepertinya masih dia minggu lagi kan?" ucap Arif panik


"Iya Bang, sepertinya maju dari hari perkiraan lahir. soalnya ini ketuban Ane sudah merembes. kita kerumah sakit saja dulu Bang" ucap Ane


Arif sebagai suami siaga langsung memapah istri nya ke mobil.


"Ane, mama sama papa nantimenyusul kalian ya. banyak-banyak doa dan berdzikir semoga persalinan nya nanti dipermudah" ucap Bu Imah


"Iya ma, tidak usah buru-buru ya ma, sepertinya masih lama kok ma, kontraksinya masih jarangjarang juga ma" ucap Ane menenangkan mertuanya


"Iya sayang, ya sudah segera kerumah sakit dan segera kabari mama ya. Arif jangan lupa mama dan papa Ane dikabari ya" ucap Bu Imah


"Iya ma, samapai dirumah sakit nanti Arif kabari mama dan papa" jawab Arif


Diperjalanan Arif terlihat menyembunyikan kepanikan nya tapi Ane cukup pintar untuk membaca kepanik suaminya.


"Sayang, Abang malu. seharusnya Abang yang bicara seperti itu" ucap Arif tak kuasa meneteskan air mata


"Kenapa abang nangis? " tanya Ane


"Abang takut sayang, apa tidak sebaiknya SC saja sayang? sepertinya lebih aman" ucap Arif


"Tidak Bang, persalinan normal juga aman kok. percaya ya. InsyaAllah semua baik-baik saja. lagian Ane ingin bersalin secara normal Bang" ucap Ane


"Yakin tidak mau SC sayang" Arif menawarkan lagi


"Yakin Bang, Awww.. huu" Ucap Ane menahan sakit saat kontraksi datang


"Sayang, sakit ya? SC saja ya. abang tidak tega melihat kamu kesakitan" ucap Arif

__ADS_1


Ane hanya diam tidak menjawab perkataan suami nya. Ane berusaha menahan sakit dan menikmatinya saat kontraksi itu datang. berusaha mendoktrin pikiran nya kalau sebentar lagi akan bertemu dengan buah hati nya untuk menghilangkan rasa sakit saat kontraksi datang.


Sesampainya dirumah sakit, Ane diperiksa oleh Nia yang kebetulan sedang piket malam itu. hasil pemeriksaan ternyata baru pembukaan tiga. masih cukup lama untuk menunggu karena ini kelahiran anak pertama.


Ane yang saat ini berada diruang perawatan mencoba berjalan-jalan disekitar rumah sakit untuk mengalihkan rasa sakit nya. Arif yang dengan setia menemani Ane dan kadang terlihat menahan air matanya. Arif mungkin seorang polisi yang keren dan pemberani saat berhadapan dengan penjahat tapi dirinya lemah saat melihat orang yang dicintai nya merasakan kesakitan.


"Tenang Bang, tidak sesakit itu kok" ucap Ane mencoba senyum


"Iya Bang, Ane wanita yang kuat, Bang Arif tenang saja" sahut Nia melihat Arif yang terlihat tegang


"Iya. aku kawatir. dan tidak tega melihat Ane kesakitan seperti ini" ucap Arif


"Semua perempuan didunia ini ingin merasakan rasa sakit ini bang" sahut Ane


"Oya, abang kabari Mama dan papa kamu dulu ya sayang" ucap Arif


"Sebaiknya besok saja bang, kalau sudah pagi. lagian masih lama juga kok" ucap Ane


"Berarti masih lama juga dong, kamu merasakan sakit" tanya Arif


"Ini belum seberapa bang, nanti kalau udah pembukaan tujuh sampai sepuluh lebih sakit lagi" ucap Nia dan dicubit Ane.


"Awww" teriak Nia kesakitan


"Kok aku kamu cubit, aku cuma bilang yang sebenarnya hehehehe" ucap Nia tak kuat menahan tawa melihat wajah panik Arif


"Iya, iya maaf. biar gak panik maksdnya" tambah Nia agi


"Tidak sayang, tidak sakit kok, Ane menikmati rasa ini. karena Ane ingin segera bertemu dengan anak kita." Ucap Ane


"Sayang anak Bunda, segera lahir ya. bunda sudah tidak sabar itu ingin bertemu dengan mu. sehat ya sayang." gumam Ane mengelus-elus perut buncit nya


"Iya sayang segera lahir, jangan buat Bunda kesakitan ya" ucap Arif bicara dengan anak yang ada didalam perut Ane."

__ADS_1


"Ya gak bisa dong bang, kalau mau cepet lahir ya memang harus merasakan sakit. kalau gak sakit malah gak lahir-lahir" ucap Ane saat kontraksi nya tidak datang.


__ADS_2