Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
IKLAS


__ADS_3

Disaat semua orang hampir menyerah dengan kondisi Arif hanya Ane yang masih memiliki keyakinan suaminya pasti akan sadar, Ane yakin kekuatan doa itu nyata. tak pernah putus Ane memanjatkan doa untuk kesadaran suaminya, walaupun secara medis mungkin mustahil tapi Ane yakin kekutan doa akan membuat suaminya sadar kembali.


Hari, bulan dan tanpa terasa enam bulan sudah Arif tertidur dan seolah tidak mau bangun lagi.


Ya...Enam bulan sudah Arif dinyatakan koma oleh Dokter, dan sejak saat itu tidak sedikitpun menunjukan tanda - tanda Arif akan kembali sadar.


Semua orang sudah menyerah, mama dan papa bang Arif pun seolah sudah tidak lagi memiliki kenyakinan akan kesadaran Bang Arif.


Hanya Ane satu - satu nya yang masih ingin menunggu keajaiban itu datang. Hati kecil nya mengatakan suaminya pasti akan kembali.


"Ane...sudah enam bulan tapi Arif belum juga menunjukan tanda - tanda dia akan sadar, seperti yang Dokter katakan keadaan seperti ini juga menyiksa untuk Arif. Ane mama mohon kita semua iklaskan Arif ya, maafkan Arif yang tidak bisa menepati janji nya untuk menjaga Ane. Nak...kita Iklaskan biar Arif bisa pergi dengan tenang ya nak. Biar Arif tidak kesakitan lagi. kasian Arif tersiksa dengan kondisi dan alat - alat yang ada di tubuhnya." Nasehat Bu Imah


"Apa mama akan menyerah?? apa mama tidak yakin Bang Arif masih ingin bersama kita??" tanya Ane menatap bu Imah dengan wajah yang sendu


"Mama hanya tidak sanggup lagi melihat Arif menderita Ne, kasian Arif seprti ini. mungkin memang sudah waktu nya Arif kembali ke sang pencipta. Hidup dan mati kita milik Alloh Ane, pada waktu nya tiba semua akan kembali kepada Nya. Percayalah Ne...kita semua sayang Arif tapi Alloh lebih menyayangi Arif." Bu Imah memegang tangan Ane menguatkan dan menyakinkan menantunya untuk iklas agar Arif bisa kembali ke sang pencipta dengan tenang.


"Ma...Ane mohon jangan ma....jangan.....beri Bang Arif kesempatan" Rengek Ane


"Sudah enam bulan Arif menderita dengan alat - alat ini, apa Ane tega melihat Arif harus menderita seperti ini terlalu lama" Bu imah menyakin kan Ane

__ADS_1


"Ma.....jangan....." rengek Ane kembali dan menggelengkan kepalanya.


"Ane....Arif anak mama, mama yang melahirkannya, mama ingat pertama kali Arif terlahir ke dunia ini, mata kecilnya, tangan mungil nya, bagaimana pertama kali mama mengajari dia jalan, bagaimana pertama kali Arif berangkat sekolah, semua itu tidak pernah mama lupakan. mama juga berat mengatakan ini Ne, mama juga belum siap kalau harus kehilanhan anak mama satu - satu nya. tapi melihat kondisi Arif seperti ini, mama tau dia kesakitan. dia tersiksa dengan alat - alat ini." tangis Bu Imah pecah


"Maafin Ane ma....maafin Ane ya ma...." rengek Ane memeluk Bu Imah


Papa Arif yang melihat istri dan menantu nya menangis, pun tak kuasa menahan tangis nya lagi. kini tangis itu pecah membanjiri ruangan yang kala itu semua keluarga sudah di sana untuk mengiklaskan Arif pergi.


"Ma...pa...jika itu yang terbaik buat bang Arif walaupun berat, Ane akan mencoba mengiklaskan demi bang Arif. Ane gak mau bang Arif kesakitan lagi" ucap Ane mencoba mengiklaskan suaminya kembali ke sang pencipta.


Ane mendekati suami nya, memeluk tubuh Arif yang terbaring dengan banyak nya alat - alat yang terpasang di tubuhnya, membelai wajah nya, menatap nya dalam, menciumi wajah nya.


"Abang.....Ane mencintai Abang, kata itu yang selama ini abang tunggu kan??


"Ane...tidak pernah menyangka Polisi ganteng yang tidak sengaja Ane bayari minum itu sekarang menjadi suami Ane, takdir ini memang rahasia Alloh ya Bang, lantara air mineral pertama kali kita di pertemukan dan sekarang saat Abang sudah menjadi suami Ane, Alloh sudah ingin mengambil Abang. Tapi Ane parcaya ini mungkin yang terbaik buat Abang. Dan mungkin ini lah takdir Ane harus ditinggal pergi suami Ane yang bahkan belum sempat Ane merasakan menjadi seorang istri. kini Ane sudah harus mengiklaskan Abang pergi." Tangis Ane kembalai pecah


"Abang...apa kah sekarang sudah waktu nya untuk Ane melepaskan abang dan mengiklaskan abang pergi??? kata kan lah bang, jika memang Ane harus mengiklaskan Abang pergi," tatapan mata Ane tak lepas dari wajah suaminya.


"Ane harus bagaimana Bang?? apa yang harus Ane lakukan?? Ane bingung, Ane belum siap" kembali Ane menangis

__ADS_1


"Ane....sabar ya nak..." Bu Vina menghampiri Ane dan memeluk putri nya.


"Ma....apa Ane sudah harus di tinggalkan suami Ane?? bahkan Ane saja belum pernah menjadi istri sungguhan untuk Bang Arif. Apa sekarang Ane benar - benar harus mengiklaskan nya??? Ane menatap mata Bu Vina


Melihat kondisi Ane seperti itu Bu Vina dan pak Edi ikut merasakan kesakitan yang di rasakan putrinya.


Dimana biasanya pasangan pengantin baru lagi senang - senang nya dimabuk cinta, tapi tidak dengan Ane dan Arif dimana sang istri harus mengiklaskan kepergian suami yang bahkan belum sempat memulai apa itu yang dinamakan pernikahan.


Kembali Ane menghampiri suami nya dan menatap suaminya


"Bang jika ini memang takdir kita dan jika Abang sudah tidak kuat lagi untuk bertahan Ane akan mengiklaskan kepergian Abang.


"Insyaalloh sekarang Ane iklas jika memang Abang sudah mau pergi." tangis Ane pecah sejadi - jadi nya begitu juga dengan Bu Imah, Papa Arif, Pak Edi, dan Bu Vina. semua yang diruangan itu ikut menangis mendengar Ane mengiklaskan suaminya.


"Terimaksih walaupun cuma sebentar Abang pernah hadir dalam hidup Ane, mengajari apa itu cinta, menerangi hidup Ane. Abang hadir di saat Ane merasa frustasi dengan hidup Ane. Abang dengan tulus memberi cinta untuk Ane, memuliakan Ane sebagi seorang perempuan dengan tidak mengajak pacaran dan langsung menghalalkan Ane dengan ikatan pernikahan.


Sebenarnya Ane ingin Abang bangun dan memberi kesempatan pada Ane agar bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang istri. tapi Ane tau permintaan Ane hanya akan membebani Abang."


"Sekarang Ane akan berusha untuk melepas Abang, terimakasih dan tolong maafin Ane ya bang" ucap Ane kembali memeluk suaminya dan mencium bibir suami nya."

__ADS_1


"Ane iklas Abang pergi, pergi lah bang! Ane iklas dan Ane mencintai Abang. Abang akan selalu hidup di hati Ane." Ane mendekatakan wajahnya dan membisikan di telinga suaminya.


Mendengar semua kelurga sudah iklas, Dokter dan perawat mendekat dan bersiap melepas semua alat - alat yang terpasang di tubuh Arif.


__ADS_2