Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
CH 224


__ADS_3

Dirumah Alan


"Nana tadi cerita katanya tadi siang kalian makan bersama sama Ane dan Amar?" tanya Alan


"Iya sayang, tadi siang kami makan bersama. Amar sekarang sudah besar ya. dan sepertinya putri kita ada rasa sama Amar. dari tadi mama perhatikan sepertinya Nana curi pandang terus sama Amar" ucap Dokter Anggun tersenyum


"Apa iya ma? mereka kan masih kecil?" ucap Alan


"Mereka itu bukan anak kecil sayang, mereka sebentar lagi lulus SMA, wajar kan kalau mereka mengidolakan lawan jenis" ucap Dokter Anggun


"Nana, bagaimana sekolanya hari ini?" tanya Alan saat melihat Nana dan Rara sedang menonton televisi


"Baik pa, tadi Nana juga dapat brosur tentang Akbid ini pa, dekat rumahnya tante Ane. boleh tidak Nana kuliah disitu?" Nana memeberikan brosur pada Alan


"Nana, sudah berapa kali papa bilang, jangan kuliah di sana nak!" ucap Alan


"Sebenarnya kenapa sih pa? kenapa Nana tidak boleh kuliah disana? itu udah akreditasi A lho pah, kenapa masih tetap gak boleh?" gerutu Nana


"Papa bilang tidak boleh ya tidak boleh. tolong jangan paksa papa" ucap Alan berlalu


Nia menghela nafas kasar dan menyandarkan tubuhnya disofa


"Kak, sebaiknya dengarkan papa saja, tidak baik membantah orang tua kak" ucap Rara


"Kamu apaan sih Ra, anak kecil tau apa" ucap Nana berlalu dan masuk ke kamar membanting pintu


Dikamar Nana menjatuhkan tubuhnya dikasur


"Kenapa sih papa selalu melarang Nana kuliah disana? padahal Nana ingin kuliah disana. selain kuliah disana bagus. kampusnya kan dekat dengan rumah tante Ane. siapa tau bisa sering-sering bertemu_ arrgghh... " Teriak Nana yang awalnya mau tersenyum jadi marah karena ingat penolakan papanya.


"Pokoknya aku tidak akan menyerah. aku mau kuliah disana" gumamnya lagi


***


"Ra, kak Nana kenapa? tanya Dokter Anggun


"Entahlah ma, sepertinya marah karena papa tidak mengijinkan kak Nana kuliah di akbid yang dekat dengan rumah tante Ane" Jawab Rara


"Huh.. mereka itu sama keras kepalanya, kamu sendiri gimana sayang. yakin mau ikut kakek ke Surabaya?"


"Iya ma, sudah Rara pikirkan ma. lagian_" ucap Rara terpotong


"Lagian kenapa sayang?" Dokter Anggun menatap Rara


Rara menggelengkan kepalanya


"Sayang, kalau mau ada yang diceritakan sama mama, katakan saja jangan ragu. ada apa sayang?" tanya Dokter Anggun


"Rara tidak ingin kalau kak Nana berpikir, mama dan papa lebih sayang Rara dari pada kakak" ucap Rara menundukkan wajahnya


"Sayang, kenapa punya pikiran seperti itu? mama dan papa sama-sama sayang sama kamu dan kakak. tidak ada bedanya. kalian anak kami. kenapa kamu punya pikiran seperti itu?" Dokter Anggun tak mengerti dengan pemikiran Rara


"Ka-karena kakak pernah bilang kalau gak suka sama Rara, semenjak ada Rara. mama dan papa lebih perhatian sama Rara" ucap Rara


"Tapi mama jangan menegur kak Nana ya, Rara tidak mau kalau kak Nana salah faham lagi" ucap Rara lagi


"Astaghfirullah hal adzim, jadi kak Nana pernah bilang seperti itu sama kamu, sampai kamu mau tinggal sama kakek diSurabaya?" Dokter Anggun tidak mengerti dengan pemikiran anak-anaknya


"Iya ma, tapi selain itu. Rara memang ingin menemani kakek ma. kasian kakek sendiri disana. Janji ya ma! jangan tegur kakak soal ini" pinta Rara


***


Keesokan harinya disekolah


"Amar" Panggil Desi dan Amar menghentikan langkahnya

__ADS_1


"Kamu jahat banget sih, kenapa surat kemarin malah kamu kasihkan mamaku" ucap Desi


"Amar tidak menjawab dan berlalu


"Mar, Amar" teriak Desi namun tak dihiraukan $oleh Amar


***


Dret.. dret...


"Assalamu'alaikum Ne"


"Walaikumsalam Wawa, Hai.. bagaimana kabarnya? aku rindu banget sama kamu" ucap Ane


"Sama, aku juga kangen banget sama kamu. udah hampir tiga tahun ya kita gak bertemu" ucap Wawa


"Iya, kapan balik Jawa. udah kangen"


"InsyaAlloh bulan depan aku udah kembali kejawa"


"Maksudnya kamu udah bisa pindah Jawa atau hanya pulang libur?"


"Alhamdulillah suami udah mutasi ke Jawa, ini kami sudah mulai mengurus apa-apa yang harus kami bawa pulang"


"Jadi bener kalian udah bisa pindah Jawa? wah bakalan sering kumpul dong kita" ucap Ane


"Iya InsyaAlloh. eh.. Yeni juga udah pindah katanya?" tanya Wawa


"Iya, Yeni udah pindah kejawa juga. cuma kami belum sempat ketemu. dia masih sibuk" jawab Ane


"Ya udah, bulan depan aja meet up bareng" ucap Wawa


"Okay, udah gak sabar ketemu kamu. Oya Riki udah kelas berapa sekarang?" tanya Ane


"Riki udah kelas 2 Sekarang dan InsyaAlloh sebentar lagi punya adik"


"Kamu itu serius gak ingin tambah anak lagi? kamu anak tunggal, bang Arif anak tunggal. ini Amar juga mau jadi anak tunggal?" tanya Wawa


"Hehehe.. mungkin, aku sama bang Arif memang belum ada bahasan kerarah sana sih"


"Bukan belum ada kalau itu, tapi emang gak ada. Amar aja udah mau lulus SMA tapi belum punya adik. berarti memang gak ada niat tambah" ucap Wawa


***


Malam hari Ane mulai memikirkan perkataan Wawa tentang adik buat Amar


"Bang"


"Iya sayang" jawab Arif yang sedang berada didepan laptopnya


"Abang pernah terpikirkan untuk punya anak lagi gak, setelah kelahiran Amar?" tanya Ane


"Kenapa tiba-tiba tanya seperti itu?" ucap Arif menghentikan aktifitasnya


"Tidak ada apa-apa sih bang, hanya kepikiran ucapan Wawa saja tadi siang menanyakan apa Amar tidak ingin punya adik. ini Wawa udah hamil lagi lho bang" ucap Ane


"Sebenarnya bukan abang tidak ingin punya anak lagi. tapi jujur setelah apa yang kamu alami saat dulu kamu melahirkan Amar, abang memang ada sedikit perasaan takut kalau kamu kenapa-napa. karena itu abang merasa Amar saja sudah cukup." terang Arif


Sekarang Ane tau kenapa suaminya tidak pernah mengatakan ingin punya anak lagi.


mungkin karena perasaan takut kehilangan dirinya.


Ane hanya tersenyum dan mencoba memahami. walaupun dirinya sendiri juga sebenarnya selama ini tidak berpikir untuk punya anak lagi setelah melahirkan Amar.


***

__ADS_1


Itu kamu nak? benarkah itu kamu? sudah lama mama mengamati kamu dari jauh tanpa berani mendekati kamu anakku. mama merindukan kamu, tapi mama malu bertemu dengan kamu. lebih baik kamu memang tidak pernah mengenal aku sebagai mama kamu. mama tidak pantas mengakui kamu sebagai anak mama" gumam Nia terisak dari dalam taxi melihat Nana didepan rumah


"Ayo sayang kita berangkat" ucap Dokter Anggun


"Ayo ma" jawab Nana menggandeng Dokter Anggun dan Rara mengekori dibelakang


"Nana sayang, kamu sepertinya sangat menyayangi mama tiri kamu nak, seharusnya mama yang saat ini mengantarkan kamu kesekolah. tapi karena kesalahan yang mama lakukan, mama harus menjauh dari kamu untuk selamanya sayang. tapi dipenjara. mama sadar sayang, sesungguhnya harta kita yang paling berharga adalah keluarga. mama menyesal pernah menyia-nyiakan kamu dan papa kamu" Gumam Nia menyaka air matanya


Selama ini selama lima tahun setelah dirinya keluar dari penjara, Nia selalu mengintip Nana dan Alan dari jauh. hatinya merindukan mereka namun apa daya dirinya tak pantas untuk dipanggil mama.


****


"Ma, mama ada acaranya bertemu dengan tante Ane kapan? Nana ingin ikut kalau mama bertemu dengan tante Ane" ucap Nana


"Belum tau sayang, akhir-akhir ini dipoli gigi lagi rame, gak bisa ditinggal" jawab dokter Anggun


"Oya, nanti kalian pulang sendiri ya! mama sepertinya tidak bisa menjemput kalian."


"Iya mama nanti Rara pulang sendiri" Jawab Rara


"Nanti pulang sekolah Nana boleh tidak mampir ke rumah tante Ane ma?" tanya Nana


"Kan baru beberapa hari yang lalu bertemu dengan tante Ane sayang? udah mau kesana lagi?" tanya Dokter Anggun


"Iya ma, Nana mau bertanya seputar kuliah di akbid kayak gimana?"


"Sayang, papa kan sudah melarang. ikuti kata papa saja ya! jangan melawan papa" ucap Dokter Anggun


"Mama ini kenapa sih? jadi ikut-ikutan kayak papa, memang apa salahnya kalau Nana ingin kuliah disitu?" gerutu Nana


"Nana, papa pasti punya alasan tersendiri. kenapa melarang Nana kuliah disana. apapun yang papa lakukan, yang pasti itu demi kebaikan Nana" terang Dokter Anggun


"Kebaikan? kebaikan apa ma? Nana gak ngerti kenapa papa seperti itu" ucap Nana kesal


Setelah mengantarkan Nana dan Rara kesekolah. kini dokter Anggun berangkat ke rumah sakit.


"Assalamu'alaikum ma" ucap Tasya yang kini sudah dewasa


"Tasya, apa kabar sayang?" ucap Dokter Anggun memeluk Tasya


"Tasya baik ma, Tasya kangen sama mama. sudah berapa tahun kita tidak bertemu ya ma?"


"Mama juga kangen sayang, selama ini. mama selalu berusaha mencari kabar tentang kamu. tapi bak ditelan bumi, kamu menghilang begitu saja, bahkan kamu mengganti nomer ponsel kamu"


"Maaf ma, Maafkan Tasya" ucap Tasya terisak


"Ya sudah kita bicara diruangan mama saja" ucap Dokter Anggun


**


Diruangan Dokter Anggun


Tasya melepas rindu dengan mama yang sangat disayanginya. dan Dokter Anggun sengaja membatalkan semua janji dengan pasien.


"Jadi selama ini kamu dimana sya?" tanya Dokter Anggun


"Setelah papa keluar dari rumah sakit, kami memutuskan untuk kembali ke kota P. tapi karena papa. sudah tidak bekerja terpaksa rumah kami jual untuk biaya terapi papa dan untuk kebutuhan hidup. dan kami pindah dirumah yang lebih kecil. Tasya sebenarnya ingin menemui mama, tapi Tasya mendengar kalau mama sudah menikah dengan Om Alan, jadi Tasya urungkan niat Tasya untuk bertemu dengan mama " ucap Tasya


"Tasya, harusnya kamu bilang sama mama kalau kamu butuh apa-apa, jangan malah lari seperti ini.


Sya kamu itu anak mama. walaupun mama sudah menikah dengan om Alan. bukan berarti mama akan melupakan kamu" ucap Dokter Anggun


"Lalu sekarang kamu tinggal dimana?"


"Tasya tinggal dengan suami Tasya ma"

__ADS_1


"Ka-kamu sudah menikah sayang?" Dokter Anggun tercengang


"Iya ma, Tasya juag sudah punya anak satu" jawabnya


__ADS_2