Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
CH 195


__ADS_3

Iya saya yang pagi itu anda telpon" timpal Dokter Anggun


"MasyaAlloh pantas saja dari tadi saya merasa tidak asing dengan anda. tapi saya ragu karena setau saya anda kan bekerja diluar kota saat saya telpon waktu itu" ucap Alan


"Iya anda benar, tapi sejak kejadian mantan suami saya waktu itu, saya memutuskan untuk mengelola rumah sakit ini sendiri. karena dulu rumah sakit ini kan dikelola mantan suami saya" ucap Dokter Anggun


"Oya maaf dulu saya belum sempat mengucapkan terimakasih pada anda jika saat itu anda tidak menghubungi saya, mungkin sampai detik ini, laki-laki itu masih membohongi saya"


"Tidak perlu berterimakasih Dok, karena saat itu kita dipihak yang sama-sama tersakiti" ucap Alan


"Senang bertemu anda kembali, semoga kedepan kita bisa teman karena biar bagaimana anda yang membuat saya tau bagaimana sifat asli mantan suami saya" ucap Dokter Anggun mengulurkan tangan


"Senang juga bertemu dengan anda" Alan membalas uluran tangan Dokter Anggun


"Maaf kalau boleh saya tau, tadi anda bilang mantan suami? apa anda juga bercerai dengan suami Anda?" tanya Alan


"Bagaimana kalau kita bertemu saja nanti malam karena disini ada anak kecil yang sepertinya tidak baik kalau kita membicarakan itu didepan anak kecil" ucap Dokter Anggun


"Baik kalau begitu nanti kita lanjut di WhatsApp saja ya Dok. kami permisi dulu" ucap Alan pamit


"Baik Pak Alan, dada Nana ingat pesen bu Dokter ya. apa tadi?"


"Tidak boleh terlalu sering makan manis-manis" jawab Nana


"Okey anak pinter" Dokter Anggun mengusap kepala Nana lembut


Sementara ditempat lain, Nia yang baru saja menerima transferan uang hasil penjualan tanah membicarakan terkait pembangunan klinik yang akan dibangun oleh suaminya


"Jadi bagaimana mas, apa kita akan membuat klinik disini atau dikota lain?" tanya Nia yang berharap suaminya akan membuat klinik dikota lain yang tidak akan serumah dengan Tasya dan mamanya.


"Kenapa tidak di Semarang saja pah? Tasya ingin kita tinggal diSemarang" sahut Tasya


"Kita? apa kamu akan ikut pindah ke Semarang? bagaimana dengan sekolah kamu sya?" Nia membulatkan matanya tak percaya Tasya mempunyai ide seperti itu


"Tasya akan pindah sekolah" jawabnya singkat


"Bukankah kamu tidak bisa meninggalkan rumah ini karena ada banyak kenangan dirumah ini?" Nia mengingatkan


"Itu dulu, sebelum Tasya menyadari kesalahan Tasya yang terlalu egois mempertahankan tinggal dirumah yang penuh kenangan ini membuat mama Anggun wanita yang sangat baik, rela jauh dari suaminya karena Tasya. tapi Tasya tidak menyadari dengan mereka terpisah jarak akan ada predator wanita yang siap kapan saja memangsa papa." ucap Tasya sinis menatap tajam kearah Nia


"Tapi itu sudah berlalu sya, sekarang tolong terimalah aku sebagai mama kamu"


"Jangan harap" Jawab Tasya singkat


"Mas, lihat Tasya semakin hari semakin tidak mau menghargai aku sebagai ibunya" gerutu Nia


"Terus yang kamu harap Tasya seperti apa? setelah apa yang kamu lakukan?"


"Aku lakukan? memang apa yang sudah aku lakukan?" tanya Nia tak mengerti


"Karena kamu Tasya harus berpisah dengan Anggun, bagi Tasya Anggun itu bidadari yang menjelma sebagai mama sambungnya" terang Dokter Sigit


"Mas, kenapa kamu bicara seperti itu. sekarang ini aku istri kamu. kenapa kalian masih membicarakan wanita itu terus? tolong hargai aku mas" ucap Nia dengan mata berkaca-kaca


"Kamu itu terlalu berisik Nia. mungkin itu yang membuat Tasya dan Mama sampai sekarang belum bisa menerima kamu dirumah ini. kamu itu seharusnya lebih bisa bersabar, biar bagaimana Anggun itu wanita yang baik dan memperlakukan keluarga ini dengan begitu baik wajar saja mereka marah karena tiba-tiba Anggun harus pergi dari rumah ini karena kamu"


"Iya, Nia ngerti mas tapi bukankah seharusnya itu tugas Mas Sigit untuk membuat mereka bisa menerima aku dirumah ini. biar bagaimana ini semua terjadi bukan hanya kesalahanku tapi juga kesalahan kamu mas?"


"Apa kamu bilang? kesalahanku? ini semua bukan kesalahanku tapi ini semua karena sikap ceroboh kamu. coba saja kalau kamu tidak seceroboh itu. ini semau tidak akan terjadi. saat ini keluargaku masih baik-baik saja." ucap Dokter Sigit


"Aku tidak percaya itu yang kamu katakan mas, aku tidak percaya samapai saat ini kamu masih menyalahkan aku. padahal kita ini melakukannya berdua dan aku kecewa sama kamu" ucap Nia menangis berlari kekamar nya.

__ADS_1


Dokter Sigit memijat keningnya yang terasa pening menghadapi situasi seperti ini membuatnya ingin marah. Dokter Sigit menyesali semua kebodohannya. disaat seperti ini bayangan tentang kebaikan Dokter Anggun, seakan menari-nari di benaknya. penyesalan yang sudah tidak mungkin lagi diperbaiki.


hanya karena kebodohannya kini dirinya harus kehilangan Istri yang cantik, jabatan, kekayaan dan nama baik. dalam sekejap seakan kebahagiaan dalam hidupnya sirna begitu saja.


***


Malam ini Alan dan Dokter Anggun bertemu di sebuah Cafe


"Hallo Dok, maaf sudah membuat menunggu. ada pekerjaan dikantor tadi yang tidak bisa ditinggalkan" ucap Alan yang datang terlambat


"Tidak apa-apa, silakan duduk. maafkan saya juga karena saya terlalu lapar jadi saya makan duluan"


"Iya tidak apa-apa Dok" jawab Alan tersenyum


"Oya silakan pesan makan saja dulu, baru ngobrol. karena menunda makan juga tidak baik"


"Mbak" Alan memanggil pelayanan restoran


"Saya mau steak yang ini dan Lemon tea saja ya" Ucap Alan menunjuk gambar dibuka daftar menu


"Baik Pak, mohon tunggu sebentar" ucap Pelayanan restoran


"Okay" jawab Alan


Alan tersenyum memperhatikan dokter Anggun yang makan dengan begitu lahapnya tanpa ada kecanggungan


"Kenapa lihatin terus, pasti berpikir ini orang rakus apa laper ya?" ucap Dokter Anggun masih mengunyah makanan di mulutnya.


"Tidak Dok, mana mungkin saya berani berpikir seperti itu?"


"Iya juga gak papa, karena saya benar-benar laper saat ini, seharian gak sempat makan. pasien datang dan pergi tidak memberi kesempatan bagi Dokter untuk makan" ucap Dokter Anggun


"Kasian sekali samapai tidak sempat makan" Gumam Alan


"Tidak apa-apa, silhkan dilanjut makannya" ucap Alan tersenyum


Tak butuh waktu lama pesanan Alan sudah tiba, kini Alan juga menyantap makanannya sambil sesekali diselingi obrolan ringan.


"Ternyata makanan disini lumayan enak ya, aku baru tau kalau disini banyak makanan enak" ucap Dokter Anggun


"Maaf sebelumnya, tapi apa Dokter cerai dengan Dokter itu setelah pagi itu?" tanya Alan memberanikan diri bertanya


"Anggun" ucap Dokter Anggun dan Alan menatap tak mengerti


"Panggil saja aku Anggun, kita tidak sedang dirumah sakit. tidak perlu seformal itu" ucap Dokter Anggun tersenyum


"Oh.. iya Dok, maaf Anggun maksudnya" ucap Alan mengagruk kepalanya yang tidak gatal


"Sejujurnya iya, karena jujur saja. aku bisa melakukan kesalahan apapun kecuali satu penghianatan. Lalu bagaimana dengan kamu sendiri? aku dengar istri kamu hampil?" tanya Dokter Anggun


"Mantan istri lebih tepatnya" jawab Alan


"Iya maaf, aku juga sudah dengar sih kalau saat ini mantan istri kamu itu sudah menikah dengan mantan suamiku. ironis sekali ya nasib kita. lihat saja kita dipertemukan seperti ini karena perselingkuhan pasangan kita. tapi aku dengan mantan istri kamu itu sedang hamil. bagaimana kalau kamu bisa seyakin itu kalau anak yang dikandungnya bukan anak kamu? apa kamu tidak ingin melakukan tes DNA setelah anak itu lahir"


"Tidak perlu tes DNA , karena itu memang bukan anakku" jawab Alan


"Seyakin itu" ucap Dokter Anggun melihat Alan


"Iya karena sudah cukup lama aku dan Nia tidak pernah melakukannya" jawab Alan


"Tapi saat itu kalian kan masih suami istri"

__ADS_1


"Iya tapi aku dan Nia sebenarnya saat itu sedang dalam tidak keadaan baik. rumah tangga yang kami bina seolah tidak ada artinya lagi. Nia selalu menghindariku, mungkin karena saat itu dia sudah mulai tidak tertarik padaku. dan lebih tertarik dengan yang lebih tua" ucap Alan


"Hahaha.. " Dokter Anggun tertawa


"Kenapa tertawa?" Alan melihat Dokter Anggun


"Gimana tidak tertawa coba, ekspresi kamu itu lho, lucu pas bilang gitu kayaknya kamu gak percaya dri gitu" Dokter Anggun tertawa kembali


"Bukan gak percaya diri, tapi coba kamo lihat, aku lebih muda. lebih ganteng tapi kenapa istriku malah selingkuh dengan laki-laki yang jauh lebih tua. dan maaf kamu juga sepertinya masih muda tapi kenapa malah memilih dia yang sudah tua. apa mungkin yang lebih tua justru yang membuat wanita semakin tertarik"


"Jangan samakan aku dengan istri kamu, kalau aku menikah dengannya bukan karena usia dia tua seperti yang kamu bilang tadi. tapi aku menikah dengannya karena Tasya anaknya. aku menyayangi anaknya. ya mungkin karena aku memang suka sama anak-anak. jadi awal bertemu Tasya aku menyukainya karena merasa senasib. Sama-sama tumbuh tanpa kehadiran seorang ibu. kebetulan mamaku sudah meninggal saat aku masih kecil begitu juga dengan Tasya yang sudah ditinggal mamanya sejak kecil. mungkin karena itu aku merasa tau bagaimana rasanya tumbuh tanpa sosok seorang ibu dan memutuskan untuk menjadi ibu Tasya."


"Masyalloh Mulia sekali hati kamu rela menikah dengan orang yang jauh lebh tua karena perasaan sayang kamu pada anaknya"


"Saat itu aku hanya ingin Tasya tidak sepertiku, tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu. tapi siapa sangka mas Sigit tidak bisa melihat upayaku menjadi istri dan ibu untuk anaknya. tapi malah dia menghianati aku seperti itu. tapi ya sudahlah mungkin sudah takdirku harusnya seperti itu" ucap Dokter Anggun


"Tapi kalau istri kamu meninggalkan kamu demi mas Sigit aku yakin kasusnya pasti tidak sama sepertiku"


"Ya pastilah beda, apalagi memangnya pasti karena mantan suami kamu itu seorang dokter dan kamu taulah gaji seorang Polisi mungkin tidak sebanding dengan gaji seorang dokter. jadi wajar saja mungkin dia ingin hidup lebih enak"


"Kalau begitu dia salah, pasti dia akan menyesal meninggalkan suami dan anaknya untuk laki-laki seperti mas Sigit"


"Kenapa begitu?" Alan melihat Dokter Anggun


"Karena sebenarnya apa yang dulu dimiliki Dokter Sigit itu punyaku, lebih tepatnya punya papiku. termasuk rumah sakit tempat mereka bekerja, itu punya papiku. dan saat ini semua sudah aku tarik, semua kemewahan yang dia dapatkan selama menjadi suamiku sudah aku tarik. dan saat ini tidak akan ada satu pun rumah sakit yang mau menerima mereka berdua bekerja"


"Berarti saat ini mereka tidak bekerja?"


"Sepertinya mereka akan membuat klinik. aku dengan mas Sigit sedang mengurus ijin untuk mendirikan klinik sendiri. tapi aku tidak yakin akan ada yang mau pergi ke klinik mereka. mana ada orang yang mau pergi ke klinik Dokter tak bermoral seperti itu. ups bukan nyumpahin ya tapi menurut logikaku " Dokter Anggun menutup mulutnya


"Iya masuk akal sih, apa yang kamu katakan"


***


Semenjak pertemuan malam itu, Alan dan Dokter Anggun semakin dekat terkadang mereka bertemu hanya untuk sekedar makan siang, berbagi cerita. mungkin karena memiliki nasib yang sama mereka bisa menjadi gampang akrab.


"Alan, mama perhatian akhir-akhir ini kamu sepertinya lebih sering tersenyum." tanya Bu Indah


"Masak sih ma, perasaan biasa saja ma" kolah Alan


"Akhir-akhir ini kamu lagi dekat sama wanita ya Lan?" sahut pak Sandi


"Tidak kok pa, kami hanya berteman"


"Berteman? sama siapa? tanya Bu Indah


"Mantan istrinya Dokter yang dulu selingkuh sama Nia"


"Kamu gak salah Lan, dekat dengan mantan istri dari laki-laki yang sudah merebut istri kamu?" Bu Indah tercengang


"Kenapa memangnya ma? kita berdua ini korban dari mereka berdua. kita sama-sama tersakiti karena mereka" ucap Alan


"Tapi Lan, sepertinya tidak baik saja kalau kamu dekat dengan wanita itu, kayak gak ada wanita yang lain saja. lagian pasti dia juga lebih tua dari kamu kan. karena mama dengar laki-laki selingkuh Nia itu sudah tua" ucap Bu indah


"Tidak ma, dia masih muda. apa mama mau ketemu biar tau kalau dia masih muda?" tanya Alan


"Kamu ini, tidak usah! mama hanya takut kamu salah pilih lagi Lan, apalagi sekarang kamu sudah punya Nana yang harus kamu pikirkan. bukan hanya tentang kamu saja!" Bu Indah menginginkan


"Benar yang dikatakan mama kamu Lan, sebaiknya kamu harus lebih selektif kali ini. jangan sampai salah pilih" ucap Pak Sandi


"Iya Pak, tenang saja. Alan juga tidak buru-buru kok, prioritas Alan saat ini tetep Nana pa, ma"

__ADS_1


^ HAPPY READING^


Terimakasih untuk dukungannya sayang, jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan Like, coment dan Vote ya🙏😘 dukungan kalian sangat berarti bagi Author


__ADS_2