
Sebenarnya Nana juga ingin masuk kedokteran saat mengetahui Amar masuk kedokteran. tapi apa daya Nana yang tak sepandai Amar yang bisa dengan mudah menentukan kuliah dimana. karena Amar memang pintar berbeda dengan dirinya.
"Aku juga baru terpikirkan" jawab Amar singkat
"Ra, kamu jadi SMA di Surabaya kan?" tanya Amar
"Iya kak jadi" jawab Rara
"Oow.. iya, Rara juga mau sekolah di Surabaya ya? Amar, Rara dijagain. kalau butuh apa-apa dibantu. kamu kan yang lebih dewasa" ucap Ane
"Iya bun" jawab Amar senyum
Nana merasa tidak suka mendengar Ane mengatakan semua itu.
"Kenapa jadi Rara yang dekat dengan Amar. tapi Rara kan masih kecil. tidak mungkin kan Amar akan suka sama Rara? apa aku pindah ke Surabaya saja ya?" batin Nana
***
Dirumah Alan
"Sayang kenapa kamu terlihat seperti tidak senang? apa ada yang sedang kamu pikirkan?" tanya Alan menghampiri Nana dikamarnya.
"Rara kenapa tidak sekolah disini saja pa? Nana pikir-pikir kasihan Rara kalau harus jauh dari kita" ucap Nana
"Kan masalah ini sudah kita bahas sayang, Nana disana untuk menemani kakek" Jawab Alan
"Bagaimana kalau Nana ikut ke Surabaya saja pah? Nana kan disana bisa menemani kakek dan Rara. kasihan kan kalau Rara harus menjaga kakek sendiri"
"Kamu tenang saja, disana ada tante Riri dan om fahmi juga kan. mereka akan menjaga Rara dengan Baik."
"Tapi Nana tetap saja pengen menemani Rara ke Surabaya pah. Nana pindah ke Surabaya ya pah?"
"Nana, kamu jangan aneh-aneh ya, kamu baru saja masuk kuliah. kamu sendiri yang ingin jadi bidan. papa sudah turuti apa kemauan kamu. tolong jangan aneh-aneh. kuliah yang baik. jangan berpikir yang tidak-tidak." ucap Alan
***
"Bunda, besok kan Amar berangkat ke Surabaya. Rara berangkat ke Surabaya kapan ya bun? bisa tolong tanyakan tante Anggun tidak?"
"Kenapa memangnya Mar?"
"Ya kalau berangkanya besok kan bisa bareng sama Amar bun. kasihan kan kalau Rara brangkat sendiri?"
"Benar juga sih, tumben kamu perduli sama orang. ya sudah bunda coba telpon tante Anggun dulu" ucap Ane mengambil ponselnya dan menghubungi Dokter Anggun
"Assalamu'alaikum mbak Anggun"
"Walaikumsalam Ne, ada apa. tumben malam-malam telpon?" tanya Dokter Anggun dari sebrang telpon
"Ini Amar nyuruh nanyain. Rara berangkat ke Surabayanya kapan? besok kan Amar berangkat ke Surabaya. siapa tau Rara besok juga berangkat ke Surabaya biar sekalian bareng sama kita saja. "
"Rara besok juga sih berangkatnya. tapi rencananya awalnya besok mau dijemput Fahmi. soalnya aku kan lagi sibuk banget ini. rumah sakit belum bisa aku tinggal."
"Ya sudah biar bareng sama kita saja. tidak usah merepotkan Fahmi. aku akan mengantarkan Rara sampai rumah kakeknya" ucap Ane
Setelah cukup lama mengobrol Ane menutup telponnya.
"Jadi gimana bunda? apa Riri berangkat besok juga?" tanya Amar
"Iya, Riri berangkat besok juga. tadi tante Anggun juga bilang boleh bareng sama kita saja."
Amar berusaha menyembunyikan senyumnya.
"Amar bunda perhatikan kamu kenapa perhatian sekali sama Rara?"
"Iya bun, Rara kan masih kecil kasihan saja kalau harus sendiri disana" jawab Amar
"Benar karena itu saja?"
"Iya lah bun, kalau tidak karena apa lagi? bunda berpikirnya kejauhan." ucap Amar tersenyum
"Tu kan pakek senyum-senyum segala. bunda kok curiga. karena bunda perhatian sikap kamu ke Rara sangat jauh berbeda dengan sikap kamu ke Nana"
"Beda gimana bun? sama saja agh.. bun, cuma memang Amar agak risih kalau Nana bsok dekat sama Amar bun" jawab Amar
"Amar sayang, tidak boleh seperti itu dong, Nana itu anak sahabat bunda. Amar juga harus baik sama Nana" ucap Ane
"Iya bunda sayang" Jawab Amar mencium pipi bundanya.
***
Kebaikan harinya Rara sudah siap dengan tiga koper berisi baju dan beberapa peralatan sekolahnya.
"Ma, ini Rara nunggu om Fahmi sama tante Riri?" tanya Rara
__ADS_1
"Oo.. iya bunda lupa sayang, semalam tante Ane telpon. katanya Rara berangkatnya bareng tante Ane saja. karena kebetulan. hari ini tante Ane juga mengantarkan Amar ke Surabaya." ucap Dokter Anggun
"Apa ma? Rara berangkatnya bareng sama Amar maksud mama?" sahut Nana
"Iya sayang, Rara berangkat bareng tante Ane dan Alan" jawab Dokter Anggun
"Kenapa harus bareng sih ma, surabaya itu kan luas. jarak antara rumah kakek sama kampus kak Amar emang dekat?" protes Nana
"Lumayan dekat sih sayang, tidak terlalu jauh. gak papalah biar bareng tante Ane dn Om Arif. gimana Rara kamu gak papa kan bareng tante Ane. maafkan dan papa ya, pekerjaan kami hari nini benar-benar tidak bisa kami tinggal" ucap Dokter Anggun pada Rara
"It's okay mah, Rara gak papa. sendiri juga gak papa. bareng tantebAne juga gak papa" jawab Rara
"Ra, kamu ikut kakak ke kamar kakak sebentar yuk. ada yang mau kakak tunjukkan"
Rara mengekori Nana ke kamar. sesampainya dikamar Nana segera menutup pintu.
"Ra, kamu gak suka saka Amar kan?" tanya Nana menatap Rara
"Maksud kakak apa?" Rara tidak mengerti
"Jangan pura-pura lagi didepan kakak, katakan saja kamu suka apa tidak sama Amar"
"Rara biasa aja kak, lagian kakak ini lucu. Rara ini masih SMP kenapa pikiran kakak sejauh itu?"
"Rara ayo cepat nak, tante Ane sudah menunggu dibawah" panggil Dokter Anggun
"Ingat ya, jangan cari muka di depan Amar" ucap Nana mengingtkan
"Apaan sih kak. kakak aneh deh" gerutu Rara berlalu
Di depan rumah, Rara segera memberi salam pada Amar, Ane dan Arif. Rara mencium tangan Ane dan Arif begitu juga dengan Nana.
"Tante maaf ya kalau dek Rara sudah merepotkan" ucap Nana basa basi
"Iya aku minta maaf ya jadi ngrepotin kalian. harusnya aku sama Alan yang mengantarkan Rara. tapi pekerjaan kami hari ini tidak bisa ditinggal terlalu lama." sahut Dokter Anggun
"Tidak, tidak sama sekali. Rara tidak merepotkan justru tante senang Rara bareng kita"Jawab Ane
"Rara sudah siap?" tanya Amar
"Sudah kak" jawab Rara dan dengan cekatan Amar membawakan barang-barang Rara masuk kedalam mobil.
Melihat inisiatif Amar pada Rara membuat hati Nana jadi tidak suka.
"Kenapa sih mereka harus berangkat bareng dan kenapa juga Amar harus kuliah di Surabaya? aku udah bela-belain kuliah didekat rumah dia, tapi dia malah ke Surabaya? ngeselin banget sih ni orang" gerutu Nana ditaman dekat rumah.
Taman yang menjadi tempat Nana bermain dari kecil bahkan saat masih ada Nia dihidupnya.
"Nana" panggil Nia menghampiri saat melihat Nana yang terlihat tidak bahagia. hati Nia menjadi sedih.
"Tante siapa?" tanya Nana yang sudah tidak mengenali
"Apa kamu tidak ingat siapa saya nak?" ucap Nia dengan mata berkaca-kaca
"Tidak, memang kita kenal?" Nana balik bertanya
"Aku.. aku.. aku bukan siapa-siapa, aku hanya orang sekitar sini. tante lihat sepertinya kamu sedang tidak senang. apa kamu sedang ada masalah?" tanya Nia
"Tidak kok, tante orang sini tapi kok aku tidak pernah lihat ya?" Nana mencoba mengamati Nia
"Iya karena tante, baru saja kembali dari luar kota. tapi tante tau kok siapa kamu. kamu anaknya pak Alan kan?" ucap Nia tersenyum
"Tante kenal papa saya?"
"Kan tante sudah bilang. kalau tante orang sini. tentu saja tante kenal siapa kamu dan papa kamu" jawab Nia
"Tante juga tau saat ini kamu sedang tidak senang. kalau boleh tante tau ada apa? maaf bukan maksud tante ikut campur tapi tante tebak pasti masalah cinta ya?" goda Nia
"Tante tau aja" Nana tersenyum
"Ternyata kamu memang sudah dewasa anakku" Batin Nia
"Tante, kok malah bengong" ucap Nana membuyarkan lamunan Nia
"Eh.. tidak, tante. tante hanya merindukan anak tante yang mungkin sekarang seusia kamu" ucap Nia
"Memang kemana anak tante?"
"Anak tante, anak tante ada bersama mantan suami tante"
"Apa tante tidak menemuinya?"
"Tidak mantan suami tante sudah bahagia dengan keluarga barunya. tante tidak ingin mengganggu kebahagiaan mereka"
__ADS_1
"Tapi biar bagaimana tante kan berhak bertemu dengan anak tante, dan aku yakin, anak tante pasti juga sangat merindukan tante"
"Benarkah? menurut kamu begitu? apa menurut kamu, anak tante merindukan tante?" ucap Nia dengan mata berkaca-kaca.
Tentu saja, anak manapun pasti akan merindukan ibunya " jawab Nana
"Tapi bagaimana jika kesalahan tante tidak termaafkan? apa menurut kamu, anak tante masih tetap merindukan tante"
"Tante, didunia ini orang mana yang tidak pernah melakukan kesalahan? Nana yakin anak tante pasti akan memaafkan tante. apapun keslahan tante" ucap Nana
Ada perasaan terharu dan senang mendengar Nana berkata seperti itu. Nia memandang Nana dengan mata sendu. bersyukur karena bisa dekat kembali dengan Nana. gadis kecil yang dulu dia tinggalkan lantaran keslahan yang pernah diperbuatnya
"Apa kamu mau berteman dengan tante?" tanya Nia
"Iya tante, Nana senang berteman dengan tante. karena orang tua Nana juga semuanya sibuk. jarang ada waktu untuk Nana" jawab Nana
"Tante tebak sekarang pasti kamu sudah kuliah ya?"
"Iya Nana sudah kuliah tante"
"Kuliah dimana?"
"Akbid X" jawabnya
Nia manatap Nana dan bertanya-tanya kenapa putrinya kuliah seperti dirinya.
"Boleh tau kenapa kamu mau jadi bidan? apa papa kamu setuju? sepertinya mama kamu dokter kan?" tanya Nia
"Papa awalnya tidak setuju, tapi Nana yang memaksa. iya mama seorang Dokter"
"Em.. kedua orang tua kamu pasti sangat menyayangi kamu ya?"
"Iya mereka sangat menyayangi Nana" jawab Nana tersenyum
"Kamu beruntung mempunyai orang tua yang menyayangi kamu" ucap Nia menahan air mata yang sedari tadi ingin pecah.
"Iya tante, Nana memang beruntung mempunyai orang tua seperti mereka" jawab Nana.
***
Diperjalanan
Amar yang duduk dikursi penumpang bersama dengan Rara, memandangi Rara yang sedang tertidur.
Tanpa disadari bibirnya melengkung keatas tersenyum, melihat Rara yang sedang tidur dengan nyenyaknya. bahkan Amar tidak menyadari sepasang mata sedang mengawasi dan memperhatikannya dari sepion tengah.
Arif pun tampaknya memahami perasaan putranya dan sepertinya kini Arif faham kenapa tiba-tiba Amar ingin melanjutkan kuliah di surabaya. Sepertinya dirinya saat masih muda dan mengagumi Ane yang saat itu juga masih ada di bangku SMP.
"Ehemm.. " Arif berdeham
"Sepertinya Ayah tau apa yang membuat kamu ingin kuliah di Surabaya" ucap Arif
"Memang apa yah?" sahut Ane yang belum menyadari perasaan putranya
"Apaan sih yah, jangan dengarkan ayah bun" Amar menggaruk kepalanya yang tidak gatal
Merasa malu, karena sepertinya ayahnya tau apa yang ada didalam pikirannya.
"Dijaga dengan baik. ingat tidak boleh macem-macem. cinta itu harus menjaga!" pesan Arif
"Ini sebenarnya kalian ngomongin apa sih? kok bunda gak ngerti yang kalian bicarakan?" protes Ane
"Hahaha.. ini urusan cowok bun" jawab Arif
"Oow.. jadi gitu ya? mentang-mentang bunda cewek sendiri." gerutu Ane
Arif dan Amar saling pandang tersenyum dikaca mobil tengah.
Kini mobil yang dikendalikan Arif berhenti di rest area. untuk berhenti sejenak sholat dan makan siang
"Ra.. bangun Ra, kita sholat dulu" Amar sedikit menggoyangkan tubuh Rara untuk membangunkannya
"Hoam. . " Rara sedikit mengeliat dan membuka matanya yang masih terasa berat
"Tidur mulu udah kayak kebo aja" ucap Amar
"Rara kan ngantuk. wajar dong kalau tidur" gerutu Rara
"Ya sudah cepet bangun. udah ditunggu sama bunda dan ayah. mau sholat berjamaah"
"Iya, iya. ini juga udah bangun. gak sabaran banget sih jadi orang." Rara segera turun dari mobil
Rara berjalan mengekori Amar dan Amar tersenyum menyeringai melirik sedikit kebelakang.
__ADS_1
^Happy Reading^