Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
KEBIMBANGAN


__ADS_3

Setelah hampir dua minggu, akhirnya Ane mendapatkan pangilan dari rumah sakit tempat nya memasukkan lamaran pekerjaan.


Ane yang senang segera menghubungi suaminya dan memberi tahu kalau dirinya akan melakukan interview.


"Bang Arif, ma, pa. doakan Ane ya" ucap Ane pada sebelum berangkat kerja


"Iya sayang, mama dan papa akan mendoakan mu. apa kamu sudah minta doa dari mama dan papa kamu Ne?" ucap bu imah


"Sudah ma, Ane sudah menghubungi mama dan papa tadi pagi" jawab Ane


"Iya sudah nak, karena doa dari orang tua itu sangat penting sebelum kita melakukan sesuatu sebaiknya selalu meminta doa dari orang tua" ucap bu Imah


"Iya, ma. Ane berangkat dulu ya ma" Ane pamit mencium tangan kedua mertua nya


"Arif antar Ane sekalian berangkat kekantor ya ma pa" ucap Arif


"Iya Rif, hati-hati ya"


"Sayang, bunda berangkat ya" ucap Ane pada putra nya dan mencium Amar yang sedang digendong bu Imah


"Iya Bunda, hati-hati" bu Imah mewakili Amar.


Dimobil Ane tampak terlihat tegang


"Kamu kenapa tegang seperti itu sayan? kamu lucu kalau kayak gini tau hehehe" goda Arif


"Gimana gak tegang? ini kan pengalaman pertamanya aku bang, wajar dong aku sedikit nervous" ucap Ane


"Sayang, manusia punya keinginan, Alloh Maha pemberi. jadi serahkan semua pada Alloh. tugas manusia hanya berusaha dan berdoa untuk hasilnya biar Alloh yang memutuskan. jika kamu keterima berati Alloh meridhoi tapi jika kamu tidak ketrima berarti Alloh menyiapkan yang lebih baik didepan nanti." Arif menasehati


"Iya Bang, apa yang abang katakan benar. tidak semestinya Ane cemas seperti ini"


"Intinya selalu libatkan Alloh dalam hal apapun"ucap Arif lagi


***


Tidak butuh waktu lama interview pun selesai


Kini Ane sudah keluar dan dengan perasaan lega.

__ADS_1


Ane segera bergegas kekantor Arif karena hari ini juga ada acara bhayangkari dikantor suaminya.


Tok.. tok.. "asalamualaikum" Ane senyum didepan pintu ruangan suaminya


"Walaikumsalam, eh sayang. kenapa gak bilang mau kekantor?" tanya Arif


"Sengaja, biar surprise hehe.. tidak kok bang, tadi kebetulan selesai interview ada pesan dari pengurus bhayangkari. untuk kumpul jadi sekalian saja" ucap Ane


"Lalu bagaimana hasil interview nya sayang, kok gak cerita sama abang?"


"Em.. gimana ya" Ane menundukkan kepalanya


"Sudah sayang jangan sedih, lain kali kan bisa nyoba masukan lamaran lagi" ucap Arif


"Alhamdulillah Ane keterima bang" ucap Ane senyum


"Serius? selamat ya sayang. semoga bisa amanah dalam mengemban pekerjaanmu." ucap Arif mengecup kening Ane


"Iya Bang, terimakasih sudah memberi kesempatan Ane untuk bekerja" ucap nya.


***


Sudah beberapa hari ini, setiap jam makan siang Saka selalu menyempatkan diri untuk datang ke rumah sakit dan membantu Nur makan. karena Nur yang masih kehilangan jiwanya. juga seakan tidak mau makan. bahkan menyuapi Nur itu harus penuh kesabaran lantaran Nur yang tidak mau menguyah makananya, hanya diam. itu yang dilakukan Nur.


Melihat kondisi Nur yang seperti tidak ada kemajuan, hati Saka terasa sesak, menyesal hanya itu yang dirasakan nya.


"Nur, aku benar-benar minta maaf. aku salah Nur, aku salah. tolong Maafkan aku, kasian anak kita Nur dia membutuhkan ibunya. aku mohon Nur. jangan seperti ini kasian Almira dia merindukan mu Nur" ucap Saka meneteskan air matanya


Tok.. tok..


Permisi pak, apa anda keluarga dari ibu Nur?" tanya perawat


"Iya, saya keluarganya. ada ya sus?"


"Begini pak, ibu Nur harus segera melunasi administrasinya untuk bisa mendapatkan perawatan kembali" ucap perawat tersebut


"Baiklah, saya akan segera melunasinya" jawab Saka


Setelah melunasi biaya perawatan Nur dan Almira Saka melihat kembali sisa saldonya.

__ADS_1


biaya perawatan Nur dan Almira tidaklah sedikit. lumayan menguras isi rekening Saka yang sudah dikumpulkan selama bertahun-tahun.


"Jika aku tidak kembali berlayar, bagaimana caraku bisa membayar biaya perawatan mereka. mereka masih membutuhkan biaya perawatan yang tidak sedikit. tapi jika aku berlayar siapa yang akan mengurus mereka?" gumam Saka


Kali ini Saka memberanikan diri untuk berkunjung ke rumah bu Elsa mamanya Nur


Disana bu Elsa terlihat sudah semakin tenang tidak menyambutnya dengan hujatan lagi


"Untuk apa kamu kemari?" tanya bu Elsa


"Tante, tolong maafkan saya. ijinkan saya menebus kesalahan saya. dan tolong jangan salahkan Nur. ini semua salah saya" ucap Saka


"Siapa bilang tante menyalahkan Nur"


"Saka tau, tante kecewa sama Nur. sudah beberapa hari semenjak kepergian om, tante tidak pernah lagi mengunjungi Nur dan Almira. tante, mereka masih membutuhkan tante" ucap Saka


"Atas dasar apa kamu mengajari tante?"


"Maafkan saya tante, bukan masud saya lancang. hanya saja Nur dan Almira membutuhkan tante" Saka kembali memberanikan diri


"Seandainya mereka tidak pernah kembali, tante tidak akan kehilangan suami tante. tante menyesal membiarkan mereka kembali" bu Elsa meneteskan air mata


"Saka tau berat bagi tante menerima kenyataan ini, tapi ini bukan salah Nur. ini semua kesalahan saya tante" ucap Saka


"Tentu saja, ini kesalahan kamu yang telah merusak hidup Nur, tapi tante juga kecewa dengan Nur yang tidak memikirkan efek dari perbuatannya.kerena kesalahan yang Nur lakukan, lihatlah tante harus kehilangan suami tante" tangis bu Elsa


"Saka mohon tante, jangan salahkan Nur. semua salah Saka tante. tolong maafkan Nur tante" tangis Saka bersimpuh dikaki bu Elsa


"Sudahlah, jika kamu mau menebus kesalahan kamu, rawat saja Nur dan Almira. maafkan tante untuk sementara ini tante belum ada niatan untuk memaafkan kalian. tolong pergi dari sini dan jangan pernah kembali kerumah ini lagi" ucap. bu Elsa tak sanggup lagi melihat Saka karena akan mengingatkannya pada kepergian suaminya.


Kekecewaan dan kesedihan bu Elsa di tinggal pergi suaminya untuk selamanya, membuat bu Elsa kembali mengingat dosa yang telah dilakukan Nur. karenanya bu Elsa tidak pernah lagi datang mengunjungi Nur dan Almira. seperti ada rasa marah dan belum bisa menerima kenyataan bahwa apa yang terjadi dalam hidupnya adalah takdir yang harus dijalani nya.


Sepulang dari Rumah bu Elsa, Saka kembali kerumahnya. kepalanya penat memikirkan langkah apa yang harus dilakukan. bahkan yang lebih membuatnya stres, dirinya kini menerima surat gugatan perceraian dari pengadilan agama.


rupanya Tika benar-benar mengajukan gugatan cerai. kali ini Saka tidak lagi menolak karena menyadari Tika berhak mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik tidak seperti dirinya laki-laki yang penuh dosa.


Saka yang masih termenung dibalkon teras kamar nya. memikirkan biaya perawatan Almira dan Nur yang tidak sedikit. sedangkan untuk kembali berlayar juga dirasa tidak mungkin.


Almira dan Nur membutuhkan kehadirannya untuk merawat mereka.

__ADS_1


__ADS_2