Polisi Idaman Bidan

Polisi Idaman Bidan
CH 244


__ADS_3

Pagi ini Ane sedang melakukan giat bhayangkari, bersama dengan ibu-ibu bhayangkari yang lain, termasuk dokter Anggun yang hari itu datang untuk kegiatan pertemuan rutin bhayangkari.


"Mbak Anggun, hari ini tidak kerumah sakit?" tanya Ane


"Tidak, aku hari ini sengaja ambil cuti karena sebagai bhayangkari aku juga tidak mau mengkesampingkan tugasku sebagai anggota bhayangkari" ucap Dokter Anggun tersenyum


"Eh.. ada bu dokter rupanya" sapa bu Toni


"Iya bu Toni" jawab Dokter Anggun senyum


"Bu Arif, anak saya Desi juga kuliah kedokteran sama seperti Amar" ucap bu Toni


"Iya saya sudah dengar juga, kalau anak bu Toni kuliah kedokteran" jawab Ane


"Cocok kan bu kalau dokter sama dokter hehehe... " ucap Bu Toni


"Maksudnya gimana ini? siapa sama siapa yang dimaksud ini?" Ane pura-pura tidak mengerti


"Itu bu Arif, Anak-anak kita. siapa tau ada jodohnya. benar tidak bu Alan?" tanya bu Toni


"Oow.. iya" jawab Dokter Anggun asal


"Kalau saya sih terserah yang menjalani bu Toni. kita sebagai orang tua, cuma mengikuti keinginan anak saja" jawab Ane


"Iya bu, maksudnya kalau dokter sama dokter itu menurut saya cocok gitu bu, apa lagi satu ganteng satu cantik. serasi kan bu" ucap bu Toni


Ane hanya tersenyum lantaran tau kalau anak bu Toni pun menyukai putranya.


"Bu Alan, Bu Alan ini kan orang kaya pemilik rumah sakit terkenal disini. tapi kenapa Nana hanya sekolah di kebidanan? kenapa tidak di kuliahkan di kedokteran seperti bu Anggun. apa karena Nana ini cuma anak tiri? cerca bu Toni


"Astaghfirullah bu Toni, kenapa punya pikiran seperti itu? bagi saya Nana itu anak saya, dan saya tidak pernah menganggap Nana sebagai anak tiri. masalah kuliah Nana, saya sebagai orang tua. hanya mengikuti keinginan anak. lagipula dimana salahnya kuliah kebidanan? memang kalau orang kaya tidak boleh kuliah kebidanan?" jawab dokter Anggun


"Iya bu Toni, kita ini sebagai orang tua hanya mengikuti keinginan anak. jangan berpikir negatif begitu bu Toni" sahut Ane


"Siapa yang berpikir negatif bu Arif? saya ini tidak berpikir negatif, tapi saya berpikir secara realita saja. anak orang kaya, pemilik rumah sakit. kalau memang ingin kuliah di kesehatan. kenapa tidak ambil kedokteran saja? bukankah secara materi mampu? saya yakin semua orang yang mengetahui pasti berpikir sama." jawab bu Toni


"Bu Toni, saya ini tidak pernah membeda-bedakan anak-anak. sebagai orang tua saya hanya berusaha mengikuti apa yang menjadi keinginan anak-anak saya. dan apapun yang mereka putuskan selama itu positif saya pasti mendukungnya. dan kalau saat ini Nana ingin jadi bidan. itupun saya mendukungnya. karena bidan juga profesi mulia. tidak hanya Dokter saja kok." ucap Dokter Anggun


"Asal nantinya tidak seperti ibu kandungnya saja bu Alan" ucap bu Toni


"Ini maksudnya apa ya bu? kenapa bu Toni bicaranya seperti itu? saya rasa tidak pantas bu Toni berbicara seperti itu" ucap Dokter Anggun


"Saya hanya bicara fakta yang ada bu Alan. jangan tersinggung. saya ini hanya mengingtkan kalau jangan sampai Nana nanti seperti mama kandungnya" ucap bu Toni


"Sudah, sudah. mbak Anggun, Bu Toni. sebaiknya pembicaraannya sampai disini saja ya, jangan dilanjutkan lagi. dan jangan saling menyakiti" ucap Ane mencoba melerai


"Lho.. lho.. lho.. bu Arif ini bagaimana to? saya ini bukan menyakiti. tapi saya ini hanya menyajikan fakta. biar bu Alan sebagai ibu yang saat ini membesarkan Nana lebih waspada. jangan sampai kecolongan. siapa tau tiba-tiba Nana seperti ibunya kan bu Alan sendiri yang susah"


"Sudah-sudah, mbak Anggun ayo kita duduk disana saja. maaf Bu Toni kami permisi" ucap Ane mengajak dokter Anggun pindah tempat duduk


"Kalian ini aneh, saya ini hanya memberi tahu yang sebenarnya. seharusnya kalian berterimakasih sama saya. bukan malah marah" gumam bu Toni sambil tipas-tipas. badannya yang gemuk membuatnya selalu merasa kepanasan dan selalu membawa kipas kemana-mana.


***


"Mbak Anggun omongan bu Toni jangan diambil hati ya, orangnya memang seperti itu. suka gak dipikir kalau bicara" ucap Ane menghibur dokter Anggun


"Iya Ne, tapi jujur saya kesal banget. bagaimana dia bisa mengatakan kalau saya hanya menganggap Nana sebagai anak tiri. padahal saya ini tidak pernah berpikir seperti itu. bagi saya Nana itu anak saya dan saya benar-benar menyayangi Nana." ucap dokter Anggun kesal


"Iya tentu saja saya faham mbak. kalau mbak Anggun ini sangat menyayangi Nana. omongan orang kayak gitu tidak usah diambil pusing Mbak. karena mau sebaik apapun hidup kita, pasti tetep ada yang ngomongin" ucap Ane


"Iya, kadang aku heran sama orang kayak gitu" ucap Dokter Anggun yang masih merasa kesal


Setelah kegiatan pertemuan bhayangkari selesai Ane dan dokter Anggun ke ruang kerja suami mereka.


Tok.. tok..


"Assalamu'alaikum" ucap Ane berdiri didepan pintu ruang kerja Arif


"Walaikumsalam sayang, udah selesai ya pertemuannya?"


"Iya sudah Bang, itu diluar ada apa Bang? kenapa banyak ibu-ibu diluar?"


"Oow.. itu saksi-saksi yang mau dimintai keterangan guna penyidikan lebih lanjut terkait kasus penipuan arisan online." jawab Arif


"Penipuan arisan online? jadi mereka tertipu gitu?"

__ADS_1


"Iya modusnya berbentuk arisan, tapi ternyata uang mereka dibawa kabur"


"Em.. kerugiannya banyak bang?" tanya Ane


"Banyak sekitar hampir dua Milyar."


"Astaghfirullah, kalau dipikir ya bang, kok mau-maunya gitu disuruh arisan kayak gitu? kenapa gak yang pasti-pasti aja gitu kalau mau arisan"


"Ya itu tadi, ada bujuk rayu didalamnya. dengan iming-iming yang membuat mereka terlena."


"Ngeri juga ya bang, untung aku gak suka kayak gitu-gituan bang"


"Istri abang ini emang paling oke, cantik, pinter, gak neko-neko. itu yang buat abang selalu sayang sama kamu" ucap Arif tersenyum


"Igh.. abang apaaan sih, udah tua juga masih kayak anak muda aja ngrayu nya" Ane malu-malu


"Jangan jadikan usia sebagai penghalang kemesraan suatu hubungan sayang. umur boleh tua, tapi rasa sayang, perhatian dan kepedulian jangan sampai berkurang. justru semakin tua itu harus semakin mesra, agar tidak ada kejenuhan atau sampai ada pengganggu dalam rumah tangga"


"Igh... abang, Hati-hati kalau bicara. istighfar yang banyak" ucap Ane


"Hehehe.. iya sayang. bercanda kok"


"Bercandanya jangan kayak gitu, gak lucu akh. Ane itu takut kalau ada yang bahas kayak gitu, sekarang ini. Ane perhatian banyak banget berita perselingkuhan."


"Itu karena mereka jauh dari Alloh sayang, kalau orang yang ingat dengan Alloh. mereka akan takut untuk melakukan perbuatan tersebut. jika seseorang mengingat Alloh , mereka tidak akan melakukan hal yang membuat Alloh murka." ucap Arif


"Itulah pentingnya kenapa kita harus selalu belajar dan sering-sering ikut kajian agama. agar kita mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan seorang muslim" tambahnya lagi


"Benar banget itu bang" jawab Ane


Dret.. dret...


Panggilan masuk dihape Arif


"Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam, apa benar ini dengan anggota keluarga bapak Yudha dan Ibu Imah ?" tanya orang dari sebrang telpon


"Iya saya anaknya, maaf ini dengan siapa?" tanya Arif


"Kami dari pihak rumah sakit, saat ini orang tua anda sedang berada dirumah sakit karena kecelakaan kendaraan yang ditumpanginya pagi tadi"


"Dengan berat hati saya sampaikan, saat dibawa ke rumah sakit mereka sudah dinyatakan meninggal saat dilokasi kejadian pak"


"Inalilahi wainnailaihi rojiun. saya akan segera kesana Sus. terimakasih informasinya" jawab Arif menutup telpon dan meletakkan ponselnya dimeja mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. dan air mata Arif seketika pecah lalu sambil beristighfar


"Ada apa bang? mama dan papa kenapa?" tanya Ane mendekat


Arif masih terdiam dan menangis dipelukan istrinya


"Abang, ada apa?" tanya Ane lagi


"Mama dan Papa sudah tidak" jawab Arif menyeka air matanya yang sudah berusaha dibendung namun tetep pecah.


"Inalilahi wainnailaihi rojiun" gumam Ane dan badannya menjadi lunglai seketika


Kedua saling berpelukan dan saling menguatkan


"Sekarang abang urus ijin dulu dari kantor untuk mengurus kepulangan jenazah mama dan papa. sayang abang minta tolong kamu urus segala keperluan untuk pemakaman disini ya" ucap Arif


"Iya bang, Ane akan mengurus yang disini. Ane akan menghubungi papa dan mama Ane dan juga menyuruh Amar untuk segera pulang" ucap Ane


Pak Edi dan Bu Vina pun segera datang saat mendapat kabar dari Ane. begitu juga dengan Amar. yang segera pulang dari Surabaya untuk mengurus pemakaman nenek dan kakeknya.


"Ane kamu dan Arif yang sabar ya. kita do'akan semoga pak yudha dan bu Imah Husnul khotimah" ucap bu Vina memeluk Ane


"Iya ma" jawab Ane dalam pelukan mamanya


"Assalamu'alaikum" ucap Amar yang baru datang


"Walaikumsalam Amar, kamu sudah datang nak?" ucap Ane memeluk Amar dan kini keduanya saling menangis berpelukan.


"Bagaimana ceritanya ma? kenapa bisa terjadi?" tanya Amar


Ane hanya menangis dan tidak menjawab

__ADS_1


"Kamu yang sabar ya Mar" ucap pak Edi menepuk bahu Amar dan mengusapnya lembut


"Kakek, nenek" Amar mencium tangan kakek dan neneknya


"Kamu yang sabar ya, kuatkan mama dan papa" ucap bu Vina


"Iya nek" jawab Amar menyeka air mata yang jatuh di pipinya.


****


Dikampus


"Amar dimana Ran? kenapa hari ini Amar tidak masuk kuliah? biasanya dia tidak pernah terlambat dikelas dr. Bambang? apalagi sebentar lagi kita akan kerja praktek lapangan" ucap Vita


"Dia ijin pulang ke Semarang" jawab Ranu


"Kenapa tiba-tiba Amar pulang ke Semarang?"


"Kalau tidak salah dia bilang nenek dan kakaknya meninggal karena kecelakaan" jawab Ranu


"Inalilahi wainnailaihi rojiun, kenapa kamu tidak bilang dari tadi? ini Amar sedang kesusahan. tapi kenapa kita malah disini?" ucap Vita


"Ya lalu mau gimana? Semarang kan jauh? tidak mungkin kita kesana kan?"


"Kenapa tidak? kita harus segera kesana untuk takziah dan menguatkan Amar" ucap Vita segera mengajak beberapa temannya untuk pergi ke Semarang


***


Setelah menempuh perjalanan dengan menggunakan pesawat tak butuh waktu lama kini Vita, Ranu dan dan beberapa teman yang lain sampai dirumah Amar.


Amar terkejut dan tidak menyangka teman-temannya bisa sampai disana.


"Kalian kenapa bisa ada disini?" tanya Amar


"Kami ikut bela sungkawa ya Mar, semoga nenek dan kakek kamu diterima disini Alloh" ucap Vita dan teman yang lain


"Aamiin. terimakasih kalian semua sudah jauh-jauh datang kemari." ucap Amar


"Kamu yang sabar ya Amar" ucap Vita


Vita juga mendekati Ane dan Arif untuk menyampaikan ucapan bela sungkawa.


Rombongan tetangga, Teman-teman Arif dan Ane semua datang ke rumah Arif untuk mengucapkan bela sungkawa.


Tampak Alan, Dokter Anggun dan juga Nana kesana untuk menguatkan dan memberikan doa.


Nana melihat kearah Vita yang duduk disebelah Amar.


Nana memandang dengan perasaan cemburu dah tidak rela.


"Siapa wanita itu? apa dia pacarnya Amar" batin Nana dengan perasaan tidak menentu


Setelah para tamu yang datang takziah pulang, Alan mengajak Dokter Anggun dan juga Nana untuk pulang.


"Pah, apa tidak sebaiknya kita disini dulu? kaisan tante Ane dan Arif." ucap Nana karena masih melihat ada Vita yang masih disitu. bahkan Nana melihat Vita mengambilkan air minum dan memberikannya pada Amar.


"Sebentar ya pah, Nana kesana dulu" ucap Nana menghampiri Amar yang sedang bersama dengan teman-temannya


"Amar, kamu tidak apa-apa kan? aku tau ini pasti berat buat kamu. karena selama ini kamu dekat dengan nenek dan kakek. tapi kamu yang iklas ya, aku, papa dan mama juga akan selalu mendoakan dan ada disini" ucap Nana


"Terimakasih" jawab Amar sedikit tersenyum


Dan Nana sepertinya masih ingin tetep disisi Amar. terbukti dengan dia tetep berada disana.


"Amar, aku ikut sedih saat mendengar berita kepergian nenek dan kakek kamu. kamu yang sabar ya" ucap Desi yang datang bersama dengan pak Toni dan Bu Toni


"Iya Mar, tadi begitu Desi tau kalau nenek dan kakek kamu pergi, Desi langsung meninggalkan kuliahnya dan segera ikut kesini karena mengkhawatirkan kamu" sahut Bu Toni


"Iya tante, terimakasih" jawab Amar


Disaat Amar sedang dalam keadaan bela sungkawa, justru para gadis-gadis ini berlomba-lomba mencari perhatian dan simpati dari Amar dan kedua orang tua Amar.


Dan justru hal seperti ini membuat Amar tidak suka karena terlihat tidak tulus. karena mereka datang hanya ingin mendapat simpati dari Amar saja.


^Happy Reading^

__ADS_1


Jangan lupa like, coment dan Vote ya.


dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author terimakasih 🙏😍😘


__ADS_2