
Hari ini Nana sampai ke Semarang dan kepulangannya kali ini tidak hanya disambut Alan dan Anggun tapi juga disambut Nia dan Dokter Sigit
Sekarang komunikasi diantara mereka sudah terjalin dengan baik. Tidak ada lagi dendam dan semua saling memaafkan dosa dan kesalahan dimasa lalu. Hanya saja, Nana memang sebenarnya tidak begitu nyaman dengan Nia, mungkin karena belum terbiasa bersama dengan Nia.
"Apa kabar kamu sayang? Boleh mama peluk kamu?" tanya Nia
"Iya ma" jawab Nana
Nia langsung memeluk Nana dan mencium pipi Nana dengan bahagia sedangkan Nana hanya diam tak membalas
"Terimakasih sayang, terimakasih karena kamu sudah mengijinkan mama untuk memeluk kamu" ucap Nia
"Kenapa dia ada disini sih?" batin Nana
"Mas Alan, mbak Anggun. Terimakasih kalian sudah mengijinkan kami untuk kesini melihat Nana" ucap Nia melihat Dokter Sigit dan Nana
"Iya sama-sama silahkan duduk, Nana kamu pasti capek, kamu mau istirahat dulu atau makan dulu sayang?" tanya Anggun
"Nana istirahat dulu saja ya ma, Nana capek banget" jawab Nana
"Ya sudah, tapi segera turun lagi ya!" ucap Anggun
"Iya ma" ucap Nana melangkah ke atas menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
Nia memperhatikan Nana hingga tak terlihat, dalam hatinya sangat bahagia melihat Nana gadis kecil yang dulu ia tinggalkan sekarang sudah tumbuh menjelma menjadi sosok wanita yang cantik seperti dirinya saat masih muda.
"Tidak terasa ternyata sekarang Nana sudah dewasa" gumam Nia tersenyum
"Iya, Nana sekarang sudah dewasa" jawab Anggun
"Terimakasih mbak Anggun, karena mbak Anggun sudah merawat Nana dengan baik" ucap Nia
"Tidak perlu berterimakasih karena sudah kewajiban ku untuk merawat Nana, Nana anakku juga jadi sudah sewajarnya aku melaksanakan semua itu" jawab Anggun
"Mbak boleh tidak aku mengunjungi Nana ke kamarnya sebentar? aku masih ingin berbicara dengan Nana" ucap Nia
"Silahkan, masuk saja" jawab Anggun mempersilahkan
Nia berdiri dan berjalan menemui Nana dikamarnya.
Tok.. tok..
"Nana, ini mama Nia nak. Apa mama boleh masuk?" tanya Nia dibalik pintu
"Ngapin lagi sih, pakek nyusul kekamar" gumam Nana lirih
"Iya ma, masuk saja" jawab Nana bersikap tenang dan baik dengan siapa pun, ya kali ini Nana memang ingin terlihat baik di depan semua orang
__ADS_1
Nia membuka pintu dan masuk kedalam mendekati Nana yang sedang duduk diranjang
Nia ikut duduk di tepi ranjang dan menatap Nana
"Anak mama sudah dewasa sekarang, maafkan mama ya nak, karena mama tidak ada disampingmu saat kamu tumbuh dewasa" sesal Nia
"Iya tidak apa-apa ma" jawab Nana santai
"Nak minggu depan mama ada acara kumpul sama-sama teman-teman mama, apa kamu mau menemani mama nak? mama ingin sekali bisa pergi bersama kamu" ucap Nia
"Teman mama? apa ada tante Ane juga?" tanya Nana antusias
"Iya sama tante Ane juga. Kenapa memang nya nak?" tanya Nia
"Tidak apa-apa, okay Nana mau ikut ma" jawab Nana
"Alhamdulillah, terimakasih ya Na. Mama senang sekali bisa pergi bersama kamu" ucap Nia
"Iya ma, Nana juga senang" jawab Nana
"Nana senang karena bisa bertemu dengan tante Ane maksdnya" batin Nana
**
Malam ini Nana makan malam bersama Alan dan Dokter Anggun dan mereka membicarakan rencana kedepan Nana untuk bekerja dirumah sakit keluarga mereka.
"Tentu saja tidak apa-apa sayang, mama malah senang kalau kamu mau bekerja disana. Itu kan juga rumah sakit kamu" Jawab Anggun
"Terimakasih ya ma" ucap Nana tersenyum
"Pah, mah. Minggu depan Nana mau diajak mama Nia bertemu dengan teman-teman mama Nia. Apa Nana diijinkan?" tanya Nana lagi
Kali ini Anggun melihat Alan, karena untuk masalah ini keputusan ada pada Alan
"Ya boleh sayang" jawab Alan
"Terimakasih ya pah" ucap Nana lagi
Setelah makan Alan dan Anggun kembali ke kamar mereka dan membicarakan kegembiraan mereka dengan sikap Nana yang sekarang. Sangat jauh berbeda dengan Nana yang dulu. Nana yang sekarang begitu manis dan penurut.
"Mas, besok kan hari pertama Nana kerja. Biar berangkat bareng aku saja ya. Sekalian biar aku memperkenalkan Nana pada Staf rumah sakit" ucap Anggun seraya membersihkan make up diwajahnya dengan kapas
"Iya sayang, bagaimana baiknya kamu saja. Aku percaya kamu akan membimbing Nana dengan baik" jawab Alan yang sudah ada dikasur menunggu Anggun yang masih dimeja riasnya
Keesokan harinya
Anggun dan Nana berangkat bersama menuju rumah sakit kakek yang kini dikelola oleh Anggun.
__ADS_1
Sesampainya dirumah sakit, Anggun memperkenalkan Nana sebagai anggota staf administrasi yang baru. Para karyawan yang sudah mengetahui latar belakang Nana tentu saja merasa segan dan sangat menghormati Nana. walaupun saat ini posisinya hanya staf biasanya karena Anggun sengaja mendidik Nana dari bawah dan ingin membuat Nana bisa menghargai setiap proses dalam bekerja. Namun tetap saja Karyawan yang lain sangat mengistimewakan Nana tak selayaknya staf biasa.
Awalnya Nana sempat ingin protes, ketika mengetahui bahwa dirumah sakit ini dirinya hanya sebagai staf biasa. Tidak ada jabatan khusus, namun ditahan nya ego yang ada dihatinya karana tidak ingin menghancurkan sandiwara yang sudah dibangunnya selama bertahun-tahun lamanya.
"Mbak Nana mau makan siang bersama?" tanya salah satu karyawan disana saat jam makan siang
"Emm.. maaf, tapi aku mau makan siang sama mama. Kalian duluan saja" jawab Nana sopan
Nana berjalan menuju kantor mamanya
Tok.. tok..
"Assalamu'alaikum ma" ucap Nana membuka pintu dan tersenyum
"Walaikumsalam, Hai.. sayang" jawab Dokter Anggun menutup map-map di depannya.
"Mama masih sibuk tidak?" tanya Nana
"Tidak juga sih, gimana? ada perlu sama Mama?" tanya Dokter Anggun
"Kita makan siang diluar yuk ma, sudah lama kan kita tidak makan bersama" ajak Nana
"Sudah waktunya makan siang ya? mama sampai lupa. ya sudah tunggu sebentar biar mama selesaikan ini dulu, nanti kita makan bersama" jawab Anggun
"Okay ma" jawab Nana tersenyum
Tak lama setelah mereka pergi makan siang bersama dirumah makan favorit Nana
"Oya kabar adik kamu bagaimana?" tanya Anggun sambil makan
"Rara baik ma, seperti yang mama tau, Rara itu pandai jadi kuliahnya sangat lancar. Beda pokonya sama Nana yang tidak terlalu pandai ini" jawab Nana merendah
"Kamu itu juga pandai sayang, Anak-anak mama semua pandai hanya saja pandai dibidangnya masing-masing. Semua orang itu terlahir dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tidak bisa disamakan" jawab Anggun
"Oya ma, Rara sudah cerita sama mama kalau tante Ane dan om Arif meminta mereka untuk segera menikah?" tanya Nana
"Iya mama dan papa sudah tau, tapi bukan dari Rara. Om Arif yang bilang sama papa untuk menikahkan mereka" jawab Dokter Anggun
"Kalau menurut pendapat mama gimana?" tanya Nana
"Sebenarnya apa yang diinginkan mereka juga hal yang wajar, karena didalam agama kita. pacaran sebelum menikah memang tidak baik. Dan akan lebih baik kalau mereka menikah dulu" jawab Anggun
"Tapi Rara kan masih kuliah ma, apa menikah tidak akan menggangu kuliah Rara? em.. mama jangan salah paham Nana bicara seperti ini ya, Nana bicara seperti ini tidak ada maksud apa-apa. Hanya mengkhawatirkan Rara" ucap Nana
"Iya sayang, mama paham kok maksud kamu. Mama tau kamu sangat perduli dengan Rara" ucap Dokter Anggun tersenyum
"Ya nanti biar papa bicara dulu sama Rara. Karena keputusan tetep ditangan Rara" ucap Dokter Anggun lagi
__ADS_1
^Happy Reading^